Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Umi Aisyah


__ADS_3

Azan magrib berkumandang bersahutan. Auri berhenti di masjid terdekat untuk ikut sholat magrib berjamaah. Auri belum pulang ke rumahnya setelah pertemuan dengan Alista di resto tadi siang. Dia memilih menyendiri ditoko buku salah satu kenalannya. Bagi Auri, saat hatinya gundah dan sedih, membaca buku adalah obatnya.


Sementara itu, semua teman temannya mencarinya. Mereka menghubungi Auri, namun hp nya tidak aktif. Mereka juga sempat bertanya pada Mia tentang keberadaan Auri. Lalu Mia pun kebingungan mencari Auri. Dia lupa kebiasaan Auri saat sedih, inginnya menyendiri sambil membaca buku. Hingga akhirnya Mia pun hanya bisa menunggu sampai Auri bisa dihubungi.


Dan ditengah kekhawatiran itu, disinilah Auri berada. Dia benar benar khusuk dalam sholatnya. Bahkan saat sholat usai, Auri masih tetap duduk di sajadahnya. Jarinya terus memutar butiran tasbih. Air matanya mulai menetes, semua kesedihannya tumpah. Kerinduan pada Mamanya membuat kesedihan itu semakin pecah, menyebabkan air mata mengalir semakin deras.


"Ya Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua orangtuaku. Bukalah pintu hidayahmu untuk mereka ya Allah. Sembuhkan mama ya Allah. Aku sangat merindukannya. Aku ingin melihat wajahnya meski hanya sebentar saja." Ungkapnya dalam doa.


Tanpa sepengetahuan Auri, sepasang mata memperhatikannya sejak tadi. Dia seorang wanita yang menatap sendu pada Auri. Wanita yang sangat mengenal Auri. Dialah Umi Aisyah, mantan mertuanya. Dia duduk dibelakang agak kesamping Auri. Dia sudah tahu itu Auri, sejak Auri pertama masuk ke masjid ini.


Umi Aisyah meneteskan air matanya, mendengar doa Auri dan air mata itu juga air mata bahagia. Dia merasa senang akhirnya setelah sekian lama bisa kembali bertemu dengan Auri, wanita asing yang menjadi menantu kesayangannya pada saat itu. Dan kini Aisyah menganggap Auri bagai anaknya sendiri.


Perlahan Aisyah ingin meraih bahu Auri dan langsung memeluk Auri. Tapi, dia ragu ragu untuk melakukan itu. Berulang kali dia mencoba meraih bahu Auri, tapi di urungkannya. Hingga tampa disadarinya, saat tangannya hampir menyentuh bahu Auri, pada saat itulah Auri menoleh kebelakang.


Mata keduanya saling bertemu. Aisyah menatap Auri dengan mata berkaca kaca. Sedangkan Auri menatap terkejut, dengan mata yang masih berair juga.


"Umi!" Ucapnya agak ragu.


"Anakku…" Dengan terisak, Umi Aisyah langsung memeluk erat tubuh Auri yang masih terkejut tidak menyangka bertemu dengan wanita yang dianggapnya seperti ibunya sendiri itu. Wanita yang selalu tersenyum saat memanggil namanya. Wanita yang mengajarkan banyak hal tentang kehidupan padanya sejak hari pertama Auri mengucap syahadat.


"Maafkan umi, nak. Maafkan umi dan abi." Menyesali kesalahannya karena tidak mencoba mencari Auri saat itu.

__ADS_1


"Tidak Umi, aku yang seharusnya minta maaf. Aku yang meninggalkan pesantren tanpa berpamitan pada umi dan abi. Maafkan aku, Umi." Membalas pelukan Umi Aisyah.


Keduanya kini terlarut dalam pelukan penuh penyesalan atas kejadian yang lalu. Umi menyesali ketidak mampuannya dalam menjaga tanggung jawabnya pada Auri. Tidak ada yang ingin mengakhiri pelukan itu. Mereka masih ingin terus berpelukan, karena masih saling merindukan.


Sementara itu, di apartemen Auri. Endah dan Widia masih terus mencoba menghubunginya. Sedangkan Andi dan bang Rudi mencari Auri ke setiap toko buku di daerah terdekat mereka. Mia baru saja mengabarkan pada mereka, kemungkinan Auri ada di toko buku.


Dan Mia, saat ini sedang bersama Gio. Dia menemani Gio menemui bang Adin untuk menandatangani kontrak kerjasamanya dengan bang Adin. Dan kali ini Gio mendapat peran yang lumayan. Dia berperan sebagai sahabat sekaligus sekretaris Al dalam sinetron terbaru mereka.


"Peran ini sangat spesial bagiku, beb. Ini pertamakalinya aku berperan sebagai pendamping Al. Biasanya aku akan menjadi musuhnya, atau nggak menjadi asisten dari musuhnya." Jelas Gio semangat. Sedangkan Mia hanya diam. Dia tidak fokus karena masih memikirkan keadaan Auri yang sampai saat ini masih belum juga ada kabarnya.


"Aku baru baca naskah episode pertama aja udah greget, beb. Nanti kamu harus baca juga. Aku yakin kamu akan langsung suka sama sinetronku dan Al kali ini." Sambungnya dengan penuh rasa bahagia.


Namun, Mia masih tetap diam. Gio yang heran karena kekasihnya diam saja pun, melirik sebentar wajah khawatir Mia. Lalu, digenggamnya lembut jemari Mia untuk mengalihkan perhatian kekasihnya itu.


"Kamu masih mikirin Auri?"


"Aku khawatir, beb. Sampai saat ini pun aku belum tahu kabarnya." Ungkapnya khawatir.


"Kalau, kita cari Auri dulu gimana?" Saran Gio.


"Janji kamu sama bang Adin gimana? Bang Adin pasti marah kalau kamu telat, beb." Celoteh Mia.

__ADS_1


"Jadi gamana? Aku nggak bisa melihat kamu khawatir gini, beb." Mengelus lembut jemari kekasihnya lagi.


"Maafin aku ya, beb. Kamu juga tahu Auri nggak akan pernah mau cerita tentang kesedihannya sama aku. Dia itu selalu kasih kabar sama aku setiap hari. Tapi, hari ini dia benar benar tidak ada kabar. Jadi, aku takut terjadi sesuatu sama Auri."


"Kamu nggak usah minta maaf. Aku akan bantu kamu cari Auri sekarang. Tentang bang Adin, aku bisa mengurusnya nanti." Memutar balik mobilnya. Mereka menuju toko buku yang disebutkan Mia padanya.


Sebelum itu, Gio sudah mengabarkan pada bang Adin bahwa dia tidak bisa datang. Gio juga menjelaskan alasannya pada bang Adin. Dan bang Adin pun memberi izin pada Gio.


Gio mengemudikam mobilnya dengan laju yang kencang. Menuju toko buku yang dimaksud Mia. Tapi, setelah hampir setengah perjalanan menuju toko buku, mata Mia menangkap sosok Auri yang terlihat berdiri didepan masjid.


"Beb, itu Auri. Itu Auri, pelankan mobilnya." Teriak Mia gaduh dengan menunjuk ke luar mobilnya.


Gio memelankan laju mobil, lalu segera menepi. Dilihatnya dari kaca mobil belakang, apa yang Mia lihat benar adanya. Itu benar benar Auri yang bergandengan dengan seorang wanita tua yang hendak menyeberang jalan.


"Kamu tunggu disini, aku kejar Auri." Hendak keluar dari mobil. Namun sebelum itu, Gio sudah lebih dulu menggenggam tangan Mia untuk mencegahnya keluar dari mobil.


"Ada apa, beb?" Heran karena Gio mencegahnya mengejar Auri.


"Bukannya wanita itu, mamanya Kelvin?" Tebak Gio memperhatikan lagi wajah wanita yang bersama Auri. Mia juga ikut memperhatikan dengan teliti.


"Iya betul, beb. Itu Umi Aisyah, Uminya Kelvin. Kok kamu tau?" Bertanya Heran kanapa Gio bisa kenal dengan Umi Aisyah.

__ADS_1


"Ceritanya panjang. Yang penting sekarang, kita sudah tau keberadaan Auri. Jadi, bisakah kita ke kantor bang Adin?" Bujuk Gio pada kekasihnya itu.


"Mh, ayuk lah." Jawabnya lesu, karena tidak bisa langsung menemui Auri. Tapi, meski begitu setidaknya Mia lega karena sahabatnya itu baik baik saja, sejauh yang dilihatnya.


__ADS_2