
Auri kini menangis dalam sujudnya disepertiga malam. Dia tidak bisa mengendalikan perasaanya setelah mendengar pengakuan dari Al tadi siang. Dia juga punya rasa yang sama, namun tidak mungkin dia mengkhianati adiknya. Dia tidak ingin mengambil keputusan yang egois demi kebahagiaannya sendiri.
Auri benar benar tidak tahu harus melakukan apa. Sementara Alista masih nenunggu jawaban darinya.
"Ya Allah, bantu hamba mengatasi permasalahan ini. Sungguh hamba tidak ingin menyakiti siapapun." Dia berdoa sambil terisak.
Dengan perlahan Alista membuka pintu kamar Auri. Dia mendengar suara tangisan kakaknya dari kamar sebelah.
"Kak boleh adek masuk?" Ijinnya.
Auri yang mendengar suara itupun langsung mengelap air matanya dan menatap sambil tersenyum pada Alista.
"Masuklah." Gamitnya.
Alista masuk ke kamar itu. Lalu, dia duduk di sebelah Auri yang masih duduk disajadahnya.
"Kapan adek datang?"
"Tadi sore." Jawabnya.
"Kok kakak nggak tau?" Dia heran karena sejak dia pulang tidak pernah melihat Alista.
"Adek sengaja datang diam diam dan minta semua orang merahasiakan kedatangan adek. Maafkan adek ya, kak." Memeluk tubuh Auri dengan erat.
"Jujur kakak sangat kecewa dan marah sama adek. Tapi, kakak tidak bisa marah terlalu lama sama adek."
__ADS_1
Alista mengeratkan pelukannya. "Maafkan adek ya, kak."
Auri mengelus lembut pipi Alista. Dia benar benar tidak bisa marah terlalu lama pada Alista. Dan kini mungkin Auri akan mengatakan tentang penolakan Al Fatih padanya.
"Dek, kakak gagal meminta Al untuk menikahi adek." Ujar Auri.
"Adek tahu. Adek sudah dengar dari kak Endah dan kak Widia."Jawabnya yang membuat Auri terkejut.
"Bagaimana mereka tahu?Sementara kakak tidak menceritakan pada mereka." Dia heran.
Pelukan mereka terlepas. Auri menatap dalam mata Alista yang terlihat baik baik saja.
"Orang orang yang dirumah mas Al menceritakan semua yang terjadi kemarin pada kita semua." Jawabnya santai.
"Maksud adek apa?" Auri bingung.
Sementara itu, saat ini Al juga sedang berdoa di sepertiga malam. Dia tidak menangis, tapi dia hanya bertasbih untuk menenangkan perasaan yang bergejolak dihatinya.
Tok tok…
Suara pintu kamar Al diketuk oleh ibu. Dia datang untuk memastikan anaknya itu baik baik saja.
"Ibuk... ada apa?" Tanya Al begitu pintu dibuka, dan ternyata ibu yang datang.
"Sudah selesai tahajjudnya?"
__ADS_1
"Sudah, buk."
"Ikut ibu sebentar yuk."
Al mengangguk dan mengikuti langkah Maryam menuju ruang keluarga yang biasa digunakan Al saat sedang bermain dengan Rizki dan juga ibu, ketika dia memiliki waktu senggang.
"Ada apa, buk?" Dia duduk di sofa dekat ibunya yang juga duduk.
Sebentar Maryam tersenyum menatap wajah Al Fatih. Tampak jelas matanya berkaca kaca.
"Ibu kenapa?" Mendekati Maryam dan menggenggam tangannya.
"Tidak, ibu tidak apa apa. Hanya saja ibu selalu merasa sedih melihat kamu yang tidak juga memutuskan untuk menikah lagi." Tuturnya hampir terisak.
"Buk, Al pasti akan menikah lagi. Tapi, mungkin waktunya saja yang belum tepat. Sabar ya buk. Maafkan Al juga." Ucapnya.
Al menarik pelan tubuh ibunya masuk dalam dekapan hangatnya di tengah kesedihan sang ibu.
"Bukanlah perkara yang mudah untuk Al segera menikah lagi, buk. Terlebih jika ternyata wanita yang akan Al nikahi bukanlah wanita yang Al inginkan." Lanjut Al menjelaskan pada ibunya.
"Ibu tahu itu, nak. Ibu juga tidak memintamu menikah segera secara tergesa gesa hingga menikahi wanita yang salah lagi. Ibu hanya ingin kamu menikah dengan wanita seperti Auri." Ungkap Maryam.
'Aku pun memang hanya menginginkan Auri buk. Tapi, saat ini keadaan sedang tidak berpihak pada kami. Ada sebuah masalah yang tidak bisa aku cerikan, buk.' Ucap Al dalam hati.
Dia memeluk ibunya semakin erat. "Jika Auri ditakdirkan menjadi jodoh Al, maka cepat atau lambat, Al pasti akan menikahi Auri, buk. Percayalah." Membenamkan wajahnya diceruk leher wanita terkasihnya itu
__ADS_1
'Ada trauma yang belum bisa Al lawan buk. Al takut jika Al tergesa meminta Auri menikahi Al, akhirnya Al hanya akan menyakitinya dengan trauma yang al alami ini. Al tahu buk, Auri juga mencintai Al. Selama ini Al hanya menunggu waktu yang tepat untuk melamarnya. Tapi, sekarang semuanya semakin kacau, setelah Auri mengetahui Alista juga menginginkan Al. Kemungkinan Auri akan berhenti mencintai Al, buk. Itulah yang takutkan saat ini.' Ujarnya dalam hati.