
"Mama? Kenapa bertanya Mama, hah. Bukankah kamu sendiri yang memilih meninggalkan Mama demi lelaki itu." Mengalihkan pandangannya.
"Maafkan kakak, dek. Tapi sungguh, kakak tidak pernah melupakan kalian. Kakak sangat merindukan, kamu, Mama sama Papa." Jelas Auri sendu karena menahan tangis.
"Papa kan sudah bilang sejak awal, jangan percaya pada si Kelvin. Lihat sekarang, apa yang papa katakan benar, kan? Dia hanya laki laki yang tidak bertanggung jawab. Lihatlah, sekarang dia menikah dengan wanita muslimah sesungguhnya. Dan kamu…" Menunjuk wajah Auri yang tetap menunduk sedih.
"Kamu meninggalkan keluarga yang sangat menyayangi kamu demi lelaki itu. Aku benci kamu. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku." Hendak melangkah pergi.
"Alista, dek. Kakak mohon, maafkan kakak." Menarik tangan Alista.
"Lepas…" Melepas kuat tangan Auri darinya. "Gara gara kamu, Mama lumpuh. Papa? Kamu tanya papa dimana?" Mendorong tubuh Auri yang akhirnya tersudut ke dinding.
"Papa baik baik saja. Hanya saja papa selalu membenci mama karena mama setiap hari memanggil nama kamu." Bentaknya.
Auri menangis mendengar penjelasan Alista. Kakinya terasa lemah, dia terduduk dilantai. Sedangkan Alista masih berdiri dengan raut penuh kebenciannya.
"Kamu pembawa sial bagi keluargaku. Jadi, jangan pernah muncul lagi didepanku. Camkan itu." Tegas Alista. Lalu dia pun melangkah pergi meninggalkan Auri yang menangis tersedu sendirian.
__ADS_1
Sementara itu, Al yang sejak tadi melihat dan mendengar pertengkaran Alista dan Auri hanya diam. Dia ingin mendekati Auri untuk menghiburnya. Namun, itu tidak mungkin dilakukannya. Takutnya bukan malah memperbaiki keadaan tapi malah memperburuk suasana hati Auri.
"Semoga Allah selalu menguatkan hatimu, Auri." Ucapnya pelan. Lalu Al melangkah kembali ke mejanya melalui jalan lain yang tidak terlihat oleh Auri. Al juga sempat melarang beberapa orang yang hendak ke toilet dengan Alasan toilet macet.
Al melangkah dengan ragu. Matanya tidak fokus, hingga dia bertabrakan dengan seorang pria lainnya. Dia adalah Dave.
"Maaf mas. Saya tidak sengaja." Ucap Al pada Dave.
"Nggak penting." Ujar Dave menatap sinis padanya. Lalu Dave pergi menuju toilet untuk mebcari Auri. Sebelum tiba di toilet, Dave sudah bertemu Auri.
"Auri, kamu baik baik saja?" Tanya Dave khawatir. Dan Auri hanya tersenyum, namun kelopak matanya yang agak bengkak dan juga bola matanya yang merah memberitahukan pada Dave kalau dirinya baru saja selesai menangis.
"Kamu kok bisa tahu?" Tanya Auri heran.
"Ceritanya panjang. Gimana kalau sekarang kita pulang. Aku akan ceritakan nanti."
Auri mengangguk. Mereka pun melanjutkan langkah mereka. Al melihat jelas Dave melangkah bersama Auri. Dia pun paham, rupanya Auri kenal dengan pria yang tidak sengaja disenggolnya tadi.
__ADS_1
"Kamu duluan saja ke mobil. Aku ke kasir dulu." Saran Dave.
Lalu, dengan langkah lesu, Auri pun keluar dari resto. Dan di kejauhan, Alista menatap penuh benci pada Auri. Al pun melihat jelas bagaimana tatapan kebencian Alista pada kakaknya itu.
"Mas Al, makanan sudah tersaji loh. Kok kamu malah bengong." Alista menepuk pelan bahu Al.
"Eh? Oh, iya sorry. Silahkan makan." Ajak Al pada Alista, bang Adin dan Erna.
'Mas Al kenapa kok jadi pendiam sejak dari toilet? Apa mungkin mas Al mendengar pembicaraanku sama kak Auri?' Gumanya dalam hati.
'Kasihan Auri. Demi agamamu ya Allah, dia dibuang oleh keluarganya. Semoga kamu tetap tegar dan kuat, Auri. Karena sesungguhnya, semakin kuat iman seseorang, maka semakin kuat pula ujian yang datang.' Batinnya.
Erna dan bang Adin saling menatap saat melihat Alista dan Al yang hanya mengaduk makanan mereka. Menurut Erna dan bang Adin, keduanya menjadi aneh setelah dari toilet tadi.
'Apakah terjadi sesuatu di toilet?' Pikir Erna. Lalu dia menggeleng gelengkan kepalanya menyangkal semua khayalanya.
'Mungkinkah cinta bersemi di depan toilet?' Batin bang Adin. 'Ah tidak mungkin. Pasti Alista menyatakan perasaannya, lalu Al menolak.' Lanjut khayalannya dalam hati. Dan bang Adin pun ikut menggeleng gelengkan kepala menyangkal semua pikirannya.
__ADS_1
Sudahlah, suasana makan siang dengan hidangan spesial itu, tidak ternikmati dengan baik. Mereka hanya menyantapnya tanpa mengetahui rasanya, sebab mereka tenggelam dengan pikiran mereka masing masing.