Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Pekerjaan


__ADS_3

"Sudah diam kalian semua. Aku mau tidur. Bangunkan saat tiba dirumah." Tegasnya tampa membuka mata. "Oh ya, makannya ditunda sampai rumah. Kalian sudah menghabiskan banyak waktu untuk bertemu artis artis itu, tampa memikirkan perutku yang keroncongan." Rutuknya kesal.


"Baik, mbak." Sahut mereka serentak dengan suara pelan. Ada rasa kecewa dan juga ada rasa bersalah, sehingga mereka memilih untuk ikut diam dan memejamkan mata. Kecuali Rudi, ya. Karena Rudi belum latihan untuk mengemudi sambil memejamkan mata.


Setelah hampir setengah jam Rudi menyetir, akhirnya mereka tiba di kediaman Auri. Widia Endah dan Auri segera kedapur untuk menyiapkan makanan. Sedangkan para laki laki langsung mengedit beberapa video hasil rekaman mereka hari ini.


"Ri, kalau seandainya ada ajakan untuk mengisi seminar, atau pun hadir di acara pengajian dan menjadi pembicaranya, kamu mau nggak?" Tanya Endah.


"Kalau ngisi seminar aku mau, tapi tergantung temanya juga. Takutnya ilmuku nggak sampai ke tema seminarnya." Ucapnya yang kini mulai memanaskan wajan.


"Kalau pengajian?" Endah kembali menanyakan pertanyaan yang masih belum di jawab Auri.


"Kalau pengajian aku suka. Tapi, kalau jadi pembicaranya, aku belum berani, Ndah. Ilmu tentang agama belum sejauh itu aku kuasai. Belum sampai setahun aku belajar Islam." Meminta Widia mengambilkan telur.

__ADS_1


"Tapi menurutku kamu luar biasa loh, Ri. Kamu terlihat karismatik, dan berilmu. Akhlakmu luar biasa sebagai seorang wanita muslimah. Kamu benar benar menjaga dirimu, menyesuaika dengan pakaianmu. Tidak seperti orang lain yang ku tau." Menyindir seseorang.


"Terimakasih pujiannya. Tapi aku belum sampai pada tahap itu." Membolak balikkan telur yang kini digorengnya.


"Kenapa kamu mempertanyakan hal itu, Ndah?" Sambung Widia penasaran dan Auri pun ikut mengangguk.


"Aku dihubungi salah satu stasiun tv. Mereka menawarkan padamu untuk menjadi pembicara dalam acara pengajian subuh. Bersama ustadzah Lulu juga loh, Ri." Mengambil alih tugas memasak.


"Bagaimana menurutmu, Wid?" Menatap Widia yang sedang mengambil nasi dari tempat penanak nasi.


"Tapi, aku takut loh. Bagaimana kalau aku salah ngomong, atau kelihatan seperti orang bodoh saat sedang bicara. Lagian, acaranya akan ditonton seluruh warga Negara Indonesia."


"Mbak Auri pintar, cerdas. Banyak buku yang sudah mbak baca. Soal Islam? Aku rasa mbak Auri cocok menjadi ustadzah jika mbak mau." Celoteh Widia.

__ADS_1


"Nggak baik menyembunyikan ilmu, Ri. Justru, dengan ilmu yang kamu punya, lalu kamu bagikan pada banyak orang, bukankah itu sama saja dengan ilmu yang bermanfaat." Sambung Endah.


"Iya betul tu mbak. Dan bukannya dalam islam, ilmu bermanfaat itu salah satu amalan yang bisa dibawa saat meninggal nanti, kan?" Ucapan Widia membuat Auri tersenyum malu. Widia yang berbeda agama saja masih ingat dengan kata kata itu. Lah dirinya malah lupa dengan hal itu.


"Kamu benar, Wid." Menata piring dan sendok di meja makan.


"Jadi bagaimana? Kamu mau kan ikut acara itu." Tanya Endah.


Auri mengangguk mengiyakan. 'Aku akan belajar banyak tentang islam dari ustadzah Lulu, sungguh kesempatan yang baik untukku. Semoga ini langkah yang engkau Ridhoi ya Allah.' Ucapnya dalam hati.


"Baiklah, akanakucoba." Ujarnya.


Endah dan Widia bahagia dengan keputusan Auri. Mereka memang sudah lama menginginkan hal ini. Bukan untuk memaksa Auri bekerja dan untuk membayar gaji mereka. Tapi, mereka ingin Auri meraih cita citanya, yang memang sangat ingin menjadi pembicara dalam acara acara seperti seminar dan pengajian.

__ADS_1


"Awas tempenya jangan sampai gosong." Bisik Widia ditelinga Endah yang melamun sambil menatap kearah Auri.


__ADS_2