Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Pertemuan Abi dan Kiki


__ADS_3

Malam ini Umi menjaga suaminya dirumah sakit. Sementara Rizki ada bersamanya dan sedang tertidur lelap, Rizki lelah setelah menangis hampir seharian. Dia minta diantarkan pada abinya. Namun, Umi merasa malu untuk mengantarkan Rizki kepada Al Fatih yang bukan ayah kandung dari cucunya itu.


"Umi, mungkin sebaiknya kita antarkan saja Rizki pada Al Fatih. Saya khawatir, dia akan sakit jika terus terusan seperti itu." Ani menyarankan.


"Umi malu, An. Bagaimana mungkin umi menyerahkan cucu umi pada lelaki yang istrinya diambil oleh anak umi." Jawab Umi sambil terus menatap wajah pucat suaminya yang tidak juga kunjung sadarkan diri.


Ana terdiam mendengar jawaban umi. Dia memahami apa yang umi rasakan. Tapi, jika Rizki tidak segera di pertemukan dengan Al Fatih, Ana khawatir hal buruk akan terjadi pada Rizki.


Disaat Ana dan Umi sibuk dengan pikiran mereka masing masing, seseorang datang mengetuk pintu kamar tempat Abi di rawat.


"Auri!" Seru Ana saat mengetahui Auri datang.


"Auri anakku." Umi langsung melangkah dan memeluk Auri.


"Umi maafkan Auri baru datang menjenguk Abi." Membalas pelukan Umi.


"Umi yang seharusnya minta maaf, nak. Umi tidak tahu betapa kamu menderita saat bersama anak Umi. Umi lebih mempercayai Kelvin, dari pada kamu." Terisak sambil membelai wajah Auri yang tersimpan dibalik cadarnya.


"Umi tidak perlu meminta maaf untuk kesahan yang tidak umi lakukan. Umi melakukan hal benar. Karena setiap ibu pasti akan mempercayai anaknya dibandingkan orang lain." Bujuk Auri untuk sedikit menenangkan perasaan bersalah umi padanya.


Setelah berhasil menenangkan Umi, barulah Auri menyapa Ana. Dan Ana tersenyum senang karena akhirnya bisa kembali melihat Auri yang membuat hatinya tersentuh dengan ketegaran dan keistiqomahannya.


"Rizki tertidur?" Tanya Auri yang melihat Rizki tertidur di ranjang samping Abi.


"Iya. Dia menangis seharian ingin diantarkan pada Abinya." Jawab Umi sambil menyeka sisa air mata dipipinya.


Auri menatap pada Ana seakan bertanyan, Abi yang mana yang dimaksud Umi.

__ADS_1


"Rizki sangat merindukan Al Fatih. Dalam ingatan dan hatinya, Al Fatih adalah abinya." Jelas Umi melanjutkan ucapannya.


Auri mengangguk paham. Sebentar dia mendekati tubuh Abi yang terbaring lemah. Lalu Auri membacakan doa agar Abi segera diberi kesembuhan.


"Hhiikkkss, Abi." Rengek Rizki. Rupanya dia terbangun dan mengira Abinya datang.


Umi mendekati tubuh Rizki. Dibelainya lembut punggung Rizki agar kembali terlelap. Tapi, bukannya terlelap, Rizki malah bangkit dari posisi baring. Tangannya menggamit Auri.


"Abi… Abi." Rengeknya ingin di gendong Auri.


Ana dan Umi saling bertatapan. Sedangkan Auri, melangkah perlahan mendekati tubuh mungil itu.


"Mungkin Rizki meminta Auri mengantarkan pada Abinya, Umi. Karena dulu, Auri pernah mengantarkan Rizki untuk bertemu Abinya." Jelas Auri yang akhirnya menggendong tubuh mungil itu.


Dan benar saja, Rizki pun kembali terlelap dalam gendongan Auri. Hal itu membuat Umi dan Ana tersenyum lega.


"Umi, maaf Al baru tahu keadaan Abi tadi sore." Menyalami Umi.


Ana terdiam, dia terperangah melihat langsung aktor papan atas itu yang benaran nyata ada didepan matanya.


"Hai, saya Haris." Sapa Haris pada Ana.


"Saya Ana, mas Haris." Jawab Ani ramah.


Auri hanya diam dengan Rizki yang berada dalam gendongannya.


"Maafkan Kelvin nak Al." Umi langsung berlutut dan itu membuat Al kaget. Dia pun ikut duduk untuk membawa Umi kembali berdiri.

__ADS_1


"Saya yang seharusnya minta maaf, umi. Karena keegoisan saya, Abi menjadi seperti ini. Maafkan saya umi." Al memeluk tubuh Umi yang berlutut dihadapannya dengan penuh rasa bersalah.


"Allah, hatimu sungguh mulia nak. Kamu mau menutupi kesalahan Kelvin dan Marsya selama bertahun tahun. Umi sungguh sudah gagal menjadi seorang ibu, karena umi selalu mempercayai anak umi begitu saja." Umi menangis hingga terisak.


"Setiap ibu pasti akan mempercayai anaknya lebih dari pada orang lain, Umi." Jawab Al.


Ana tersenyum mendengar ucapan Al yang sama dengan apa yang diucapkan Auri beberapa saat yang lalu.


"Umi sungguh tidak tahu malu, karena meminta ini padamu, nak." Sambungnya.


"Meminta apa Umi. Akan saya usahakan jika saya bisa memberikannya pada Umi." Jawab Al yang tidak mengerti apa yang dimaksud Umi.


Lalu, umi menoleh kearah Auri yang menggendong Rizki. Mata Al pun ikut menoleh kearah yang sama dengan Umi. Dia langsung berdiri saat melihat Rizki terlelap dalam gendongan Auri.


"Bawalah Rizki bersamamu. Hanya kamu yang dia inginkan, nak." Ucap Umi yang ikut berdiri.


"Boleh aku menggendongnya?" Tanya Al pada Auri.


Segera saja Auri meletakkan Rizki kembali ke atas ranjang. Lalu Al pun langsung menggendong kembali jagoan yang selama ini juga sangat dirindukannya.


"Maafkan Abi sayang." Al menciumi wajah lelap Rizki hingga dia terbangun.


"Abi, Abi." Tangan mungilnya menyentuh wajah yang sangat dirindukannya itu.


Air mata Al tumpah. Betapa egoisnya dia selama ini, karena membuat putranya menangis. "Maafkan Abi." Mencium kening Rizki.


"Kiki ikut abi." Mengalungkan erat kedua tangan mungilnya dileher Al. Dia benar benar tidak ingin berpisah lagi dari Abinya kali ini.

__ADS_1


Semua yang ada diruangan itu menatap penuh haru menyaksikan pertemukan anak dan ayah itu.


__ADS_2