
Lima pekan kemudian.
Pernikahan Alista dan Rudi digelar dengan sangat meriah, sama meriahnya dengan pernikahan Auri saat itu. Hanya saja, Alista tidak mengundang awak media untuk merekam pernikahannya. Dia hanya mengundang sahabat dan teman teman yang pernah bekerja sama dengannya dalam suatu projek film maupun sinetron.
Kini Alista dan Rudi duduk di pelaminan. Mereka siap menyambut tamu yang hadir untuk memberi selamat dan berfoto bersama mereka. Dan disamping kiri Rudi, duduk juga kedua orangtuanya. Sedangkan kedua orangtua Alista duduk disebelah kanannya.
Sementara, Auri dan Al tidak bisa hadir. Karena saat ini Auri sedang dirawat dirumah sakit. Dia mengalami pendahan hebat, karena usia kandungannya yang baru memasuki minggu ke empat, Dokter menyarankan agar Auri dirawat inap di rumah sakit. Dan Al tetap setia menemani istrinya.
Kembali ke pesta.
Maryam ikut hadir dipernikahan Alista. Dia datang bersama Zia dan Haris. Dan mereka sudah bertunangan seminggu yang lalu loh.
"Buk, itu Rizki." Tunjuk Zia jauh ke arah sana.
Dia melihat Rizki berjalan dengan tangannya dipegang erat oleh seorang pria dan wanita. Tapi, pria dan wanita itu bukan Kelvin dan Marsya.
"Rizki datang sama siapa?" Tanya Maryam.
Otomatis kakinya melangkah menuju Rizki yang terlihat sangat bahagia bersama orang asing itu.
"Loh, ibu mau kemana!" Seru Zia menepuk bahu Haris.
Mereka pun mengikuti langkah Maryam.
'Kiki!" Seru Maryam sambil berjongkok dan menyentuh punggung mungil itu.
Seketika mata mungil itu menatap pada Maryam.
"Nenek." Ucapnya lembut.
Maryam tersenyum sambil merentangkan tangannya. Matanya sudah berkaca kaca.
Rizki melepas tangan mungilnya dari genggaman tangan pria asing itu. Dengan segera dia menghambur dalam pelukan Maryam. Dan pada saat itu pria dan wanita asing itu pun ikut menatap pada Maryam dan Rizki yang saling berpelukan.
"Ya Allah, ini cucuku. Kamu baik baik saja, nak." Menciumi wajah Rizki dengan air matanya yang sudah menetes.
"Nenek jangan nangis. Kiki sehat kok." Menghapus air mata di pipi Maryam.
Pria asing itu bingung, hingga dia pun ikut berjongkok. "Kiki, sayang. Ini siapa?" Tanya Pria itu.
"Papa, ini Nenek Kiki." Ucapnya.
"Papa?" Tanya Maryam bingung.
__ADS_1
"Iya buk, saya Arya. Saya Papanya Rizki." Ucap Pria yang bernama Arya itu.
Maryam bingung. Dia tidak mengerti dan tidak mau memikirkan apapun.
"Saya mengadopsi Kiki. Saya dan istri belum dikaruniai anak. Jadi kami memutuskan untuk mengasuh Kiki dan menjadikan dia anak angkat kami." Jelasnya.
"Anak angkat?" Maryam masih bingung.
"Nenek jangan nangis lagi. Papa sama Mama baik kok. Mereka yang menemukan Kiki di Pesantren. Lalu kiki minta izin sama kakek Yai untuk ikut Papa sama Mama." Jelasnya.
Rizki menjelaskan dengan bahasanya sendiri, namun sudah sangat jelas dan bisa dipahami oleh Maryam.
"Maafkan Nenek, sayang. Nenek malah membiarkan kamu ikut ke Pesntren waktu itu." Ucap Maryam yang masih menangis.
Dengan segera Rizki memeluk erat tubuh Neneknya dengan tangan dan tubuh mungilnya. Dia bahkan mengelus punggung sang Nenek agar merasa lebih tenang.
Pada saat itu, Zia dan Haris tiba di dekat mereka. Zia ikut berjongkok dan tersenyum pada Arya dan istrinya yang mengelus punggung mungil Rizki.
"Kiki, sayang. Ini mbak Zia." Ucap Zia.
"Halo mbak Zia. Kiki sudah punya Papa dan Mama." Ucapnya pamer.
"Wuah, senang dong sekarang." Zia mengelus lembut rambut Rizki.
Dia mengangguk senang dan kembali kepelukan kedua orangtua angkatnya.
"Tentu boleh, sayang." Ucap kedua orangtuanya hampir berbarengan.
Sekali lagi, Maryam memeluk tubuh mungil yang pernah dibencinya untuk waktu yang sebentar. Setelah itu, Maryam kembali jatuh cinta pada si mungil menggemaskan itu. Dan kini, dia akan kehilangan si mungil itu, karena kedua orangtuanya akan membawanya ke Prancis untuk menetap disana.
🍀🍀🍀
Delapan bulan kemudian.
Semua orang berkumpul di koridor rumah sakit. Mereka sedang khawatir, menunggu proses persalinan Auri yang tidak kunjung usai. Padahal Auri sudah berada di ruang bersalin hampir enam jam.
Auri berada di sana, tepat setelah sholat subuh. Dan sekarang hampir Zuhur. Dia masih belum melahirkan juga.
William tampak sangat khawatir. Dia benar benar merasa cemas menunggu cucu pertamanya lahir ke dunia. Cemas yang dirasakannya berubah menjadi takut karena Auri dan Cucunya itu masih belum juga keluar dari ruang bersalin.
Al Fatih sejak tadi selalu mendampingi Auri. Dia terus menggenggam erat tangan Auri yang menahan rasa sakit teramat sangat. Al bahkan sesekali melantunkan Ayat Al-Qur'an untuk menenangkan hatinya sendiri dan juga membantu mengurangi rasa sakit yang dirasakan Auri.
"Dokter, lebih baik di operasi sesar saja. Saya tidak sanggup melihat istri saya kesakitan." Ucap Al memohon pada dokter.
__ADS_1
"Tidak, mas. Aku ingin melahirkan secara normal. Aku bisa, mas." Jawab Auri cepat.
Dan Dokter hanya tersenyum. Bayi Auri sangat sehat, dan kondisi Auri juga stabil untuk melahirkan secara normal. Makanya mereka belum mengambil tindakan apapun. Yang dilakukannya hanya memijat pelan perut Auri, lalu sesekali meminta Auri mendorong bayinya dengan kuat.
"Kita coba lagi, mbak Auri. Coba kembali dorong!" Perintah Dokter itu.
Auri pun kembali mendorong sekuat yang dia bisa dan saat ini kepala bayi sudah terlihat.
"Sedikit lagi, dorong perlahan saja jika terasa sangat sakit." Ucap Dokter itu.
Al terus berdoa dan menggenggam erat kedua tangan Auri. Dia juga menghapus keringat di kening Auri.
Auri kembali mendorong dengan perlahan. Dia pun akhirnya meneteskan air mata, saat merasa kepala bayinya sudah keluar. Auri menangis karena rasa sakit bercampur rasa syukur.
"Tahan sedikit rasa sakitnya, saya akan mengeluarkan bayinya." Ucap Dokter.
Al dengan siaga memeluk pundak Auri dan membisikkan sholawat ditelinga Auri.
"Aaakhhsssshh... Allah… Allah…" Jerit Auri.
Sakit sungguh rasanya ketika seluruh tubuh bayinya keluar dari sana.
"Eaakk... eeeaaakkk." Jerit bayi menangis saat tubuhnya terpisah dari ibunya.
Rasa sakit yang beberapa detik lalu membuat Auri hampir tidak sadarkan diripun, segera terasa pulih saat mendengar jeritan tangis bayinya.
"Alhamdulillah, ya Allah." Ucap Al bahagia.
Dia mengecup kening Auri. Kemudian saat bayi didekatkan padanya, Al pun langsung mengiqomahkan ditelinga bayi nya yang berjenis kelamin perempuan.
"Selamat, mas Al dan mbak Auri, kalian mendapatkan putri yang sangat cantik." Ucap dokter.
Sementara tubuh Auri disiapkan untuk diantar ke ruang rawat, perawat lainnya membersihkan si dedek bayi dan Al sudah diminta untuk menemui keluarganya yang menunggu sejak tadi di luar ruangan.
"Ma, Pa, Buk. Bayinya sudah lahir. Dia princess kami." Ucap Al bangga.
"Benarkah?" Tanya William.
"Iya, Pa." Jawab Al.
William langsung memeluk erat tubuh Al dan dia menangis dipundak menantunya itu. William merasa sangat bahagia karena bisa memiliki cucu pertamanya.
Maryam dan Jeni juga saling berpelukan. Mereka juga sangat bahagia dan tidak sabar ingin segera menemui Auri dan cucu mereka.
__ADS_1
Begitu juga dengan Rudi dan Alista. Mereka pun bahagia karena keponakan mereka telah lahir. Sementara, anak mereka masih baru tiga bulan dalam kandungan Alista.
O iya, Kini Rudi sudah punya pekerjaan tetap dengan gaji yang banyak. Dia menjadi menejer keuangan di perusahaan William. Sedangkan Al Fatih, menjadi owner sebuah perusahaan jasa. Dan mereka selalu saling support dan solid dalam segela hal.