Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Iya, saya mau


__ADS_3

Makan malam berlalu dengan aman dan nyaman. Hanya Auri yang tidak ikut makan malam. Setelah mendengar perbincangan papanya dan Al, dia memutuskan untun kembali ke kamarnya. Entah mengapa, tiba tiba perutnya terasa kenyang. Mungkin karena hatinya yang telah penuh dengan perasaan cintanya pada Al Fatih.


Setelah menyelesaikan makan malam, kini mereka semua sudah duduk santai di ruang tamu. Mereka mengobrol santai sambil menikmati secangkir teh panas dan cemilan. Kemudian, setelah dirasa lebih nyaman, Al pun mulai mengutarakan maksud kedatangannya.


"Pa, Ma… saya datang kemari, untuk melamar anak Papa dan Mama yang bernama Auristela Azzahra. Saya ingin menikahinya dan menjadikan dia istri saya yang akan mendampingi saya dan menemani saya dalam mengarungi sisa hidup saya. Saya ingin bersamanya hingga menua pun bersama, hingga mautlah yang mampu memisahkan kami." Ucap Al.


William dan Jeni tersenyum senang, mendengar kalimat yang digunakan Al untuk melamar putri sulung mereka.


"Papa akan langsung menerima lamaran nak Al, andai papa adalah Auri. karena Papa sudah yakin, nak Al akan menjadi imam dan pendamping yang baik untuk anak papa. Dan Papa yakin nak Al akan setia hingga menua bersama." Jawab William.


Sementara, Auri masih di kamarnya. Dia bahkan tidak berani untuk berhadapan langsung dengan Al malam ini. Entah mengapa hatinya terasa sangat aneh. Detak jantungnya berdegup kencang dan susah untuk dikendalikan. Dia merasa tidak mampu untuk menemui Al malam ini.


"Dek, jemput kakakmu. Bawa dia kemari, agar dia sendiri yang memutuskan jawabannya. Karena mungkin saja, nanti mana tau tiba tiba dia memiliki jawaban yang berbeda dari papa." Ucapnya yang membuat Al merasa agak takut.

__ADS_1


"Iya, pa."


Alista melangkah menuju kamar Auri yang ada di lantai atas. Dia berharap kakaknya saat ini sedang menunggu bahagia.


"Kak…!" Panggilnya dari luar kamar.


"Ada apa dek?"


Auri membuka pintu kamar. Tapi, wajahnya terlihat agak pucat dan bibirnya bergetar.


"Kakak nggak apa apa kok. Hanya saja, kakak benar benar khawatir." Ucapnya dengan mencoba tersenyum.


Alista tersenyum, lalu dia melangkah masuk ke kamar Auri untuk mengambil cadarnya. Lalu, dia memakaikan diwajah kakanya.

__ADS_1


"Sekarang, kakak ikut ke bawah. Mas Al sudah menunggu." Ucapnya.


Merekapun turun bersama. Auri masih sangat khawatir, namun beruntungnya, kain cadar menyanarkan rona merah diwajahnya.


"Sayang, duduklah." Ajak William.


Auri pun duduk di diantara mamanya dan Alista. Sementara Al berdampingan dengan ibunya. Sedangkan Rizki bermain bersama Zia dan Haris di ruang depan.


"Sayang, Al Fatih datang kemari dengan niat untuk melamar anak kesayangan papa ini. Jadi, maukah anak papa menerima lamarannya?"


William mengatakan itu dengan menatap oenuh harap pada Auri. Ya, dia sangat berharap Auri menerima lamaran dari Al Fatih yang menurutnya sangat bertanggung jawab dan bisa melindungi putri sulungnya itu.


Al deg degan menunggu jawaban dari Auri. Padahal dua sudah tau Auri akan menerimanya, tapi, tetap saja dia khawatir.

__ADS_1


"Insya Allah dengan mengucap Bismillah, saya mau menjadi istri dari Al Fatih." Jawab Auri santai, malah tidak terdengar gemetar ataupun ragu.


Mendengar jawaban itu, membuat seisi ruangan bahagia. Dan tentunya yang paling bahagia adalah Al Fatih sendiri. Senyum bahagia mengembang diwajahnya. Betapa dia bahagia karena akhirnya dia akan segera menikah dengan wanita yang sangat dicintainya itu.


__ADS_2