
Tidak terasa air mata menetes di balik cadar Auri, saat mendengar cerita Al yang sangat membuatnya merasa seakan seluruh dunia menertawakan kebodohannya yang percaya pada lelaki yang dianggapnya sangat baik dan bertanggung jawab. Tapi ternyata, sejak awal lelaki itu memang hanya ingin mempermainkannya.
Bukan hanya Auri yang menangis. Al juga meneteskan air mata saat kisah lama yang membuat luka kembali terbuka lebar. Tapi, ada rasa lega, karena bisa berbagi luka yang sama bersama wanita yang sangat dicintainya.
"Aku hanya ingin menjalani sisa hidupku dengan terus melangkah kedepan. Aku ingin mengubur semua kisah pahit itu dan cukup haya menjadi pelajaran untukku saat menjalani kisahku dan melanjutkan perjalanan di nuka bumi ini." Ucap Auri.
Al tersenyum getir sambil menghapus tetesan air nata dipipinya. "Hiduplah denganku Auri. Jadilah pendampingku yang selalu berada disampingku, selama menjalani sisa hidup yang masih Allah berikan padaku." Ungkap Al.
"Ya, jadilah imamku dan bimbinglah aku selalu untuk menjadi wanita syurga secantik bidadari syurga disana. Genggam tangnku selalu, dan jangan pernah meninggalkan ak. Jika pun kita harus terpisah suatu saat nanti, aku harap hanya kematian yanng akana memisahkan kita sementara." Jawab Auri.
Lalu, mereka pun tersenyum dan memutuskan untuk langsung ke hotel. Auri membawa mobilnya sendirian menuju hotel yang ada di seberang jalan. Sedangkan Al memilih naik taxi untuk pergi ke hotel yang lain yang tidak begitu jauh tempat itu.
Sementara Auri dan Al masih bermalam di Solo. Mia dan Gio sedang dinner romantis di resto favorit mereka. Kebetulan Gio sedang tidak ada jadwal syuting apapun hari ini.
"Apa!" Teriak Mia sambil melotot menatap layar hpnya.
Gio terkejut mendengar teriakan Mia. Dia pun menatap penuh tanya pada kekasihnya itu.
__ADS_1
"Kenapa, beb?"
Mia tersenyum, lalu memperlihatkan hpnya pada Gio. Segera Gio mengambil alih hp itu dan membaca pesan dari Auri.
"Auri mau menikah?" Tanya Gio agak ragu.
"Iya, beb. Akhirnya Auri akan segera menikah. Tapi, ini masih rahasia. Jangan sampai ada orang lain yang tahu tentang ini." Ujarnya bersemangat.
Perlahan Gio pun mengeluarkan Hp yang terasa bergetar di saku celananya.
"Pesan dari Al." Ucapnya dan langsung membacanya. "Auri akan menikah dengan siapa, beb?"
Mendengar ucapan Mia, membuat Gio tersenyum. Lalu, dia kembali memasukkan hp kedalam saku celanya.
"Ada apa?" Tanya Mia heran.
"Tidak apa apa, beb. Hanya spam." Kilahnya.
__ADS_1
Lalu, mereka melanjutkan makan malam romantis mereka. Bahkan diakhir seorang waiter datang ke meja mereka membawa sepotong coklat cake.
"Terimakasih." Ucap Mia saat menerima sepotong kue kesukaannya itu.
Sebelum memakan kue itu, Mia tersenyum senyum berharap ada sesuatu didalam potongan kue yabg datang di akhir.
"Mmhn, sangat lembut dan manis." Ucapnya saat kue itu nasuk ke mulutnya.
Gio hanya memandangi penuh kagum wajah cantik kekasihnya itu. Dan Mia masih terus menakan kue itu hingga tersisa potongan kecil. Wajahnya terlihat kecewa. Rupanya tidak ada apa di dalam kue itu.
"Kenapa, beb?" Tanya Gio heran melihat raut wajah kekasihnya yabg tiba tiba berubah.
"Tidak apa apa. Hanya merasa sangat kenyang." Jawabnya jutek.
Mendengar jawaban itu, membuat Gio tersenyum. Lalu perlahan dia mengambil sesuatu dari saku cardigannya dan menyodorkan kotak mungil pada Mia. Sebelum Mia sempat berucap apapun, Gio membuka kotak berisi cincin itu.
"Mia, maukah kamu menikah denganku?" Tanya Gio.
__ADS_1
Mia tersenyum haru. Air mata akhirnya menetes dipelupuk matanya. Lalu, dia mengangguk yakin. Pada saat itulah Gio langsung menghampiri kekasihnya itu dan memeluknya dengan erat.