Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Benarkah


__ADS_3

"Mas Al, ada telpon dari mbak Marsya." Haris datang membawakan Hp yang sudah tersambung pada Marsya.


Al menutup pintu mobil setelah meletakkan Rizki dengan posisi duduk yang nyaman. Lalu, dia mengambil alih Hp dari tangan Haris. "Asaalamualaikum, ada apa?" Tanya Al to the point. Dia malas berbasa basi dengan Marsya.


"Kembalikan Rizki. Dia anakku." Teriak Marsya membuat telinga Al sakit mendengarnya sehingga dia agak menjauhkan Hp dari telinganya.


"Aku akan mengembalikan Kiki saat dia merengek ingin menemui kamu. Saat ini dia bahkan tidak mengingat kamu sedikitpun." Al mengatakan yang sejujurnya.


"Aku membencimu Al. Aku benci kamu." Teriaknya gemetar, dan Al mendengar suaranya yang mulai terisak.


"Aku hanya meminjam Kiki sebentar Marsya. Selama dua bulan ini aku tidak bisa menemuinya. Jadi, izinkan aku untuk bersama Kiki selama dua bulan kedepan. Biar adil, kan."

__ADS_1


"Kamu benar benar tidak punya perasaan, Al. Tega kamu memisahkan seorang bayi yang masih menyusu dari ibunya." Ucapnya menekankan.


"Kamu pikir aku tidak tahu selama kamu menikah dengan Kelvin, kamu tidak lagi memberi Air susumu pada Kiki." Suara Al terdengar agak lantang. Dia tersulut emosi oleh kelakuan Marsya terhadap Kiki.


"Aku sedang mengandung Al. Aku terkadang kecapek an, tidak enak badan. Jadi, air susuku tidak bisa keluar dengan normal seperti dulu. Harusnya kamu mengerti itu, Al." Meminta pengertian dari Al dengan keadaannya saat ini.


"Kamu sudah berhubungan dengan Kelvin jauh sebelum Kiki lahir. Jadi, jangan memintaku mengerti keadaanmu, minta saja Kelvin mengerti keadaanmu. Dan jika kamu tidak mau aku membahas hal lain yang lebih menjijikkan, lebih baik kamu diam Marsya. Kamu beruntung karena aku percaya Kiki adalah anakku." Al langsung mengakhiri perbincangan itu.


"Apa yang barusan ibu dengar hanya kesalah pahaman, kan?" Tanya Ibu dengan suara yang sangat kecil.


Al tidak bisa menjawabnya. Dia langsung memeluk erat tubuh wanita yang sangat dicintainya itu. Al menangis, dia merasa sangat hancur karena ternyata dia tidak mampu menyimpan rahasia itu lebih lama dari yang diinginkannya.

__ADS_1


"Astaghfirullah ya Allah, anakku." Maryam ikut terisak sambil memeluk erat tubuh putranya yang begitu tegar dan sabar menghadapi kehidupan ini.


Haris ikut bersedih. Dadanya terasa sesak mengetahui betapa besar masalah yang dihadapi Al selama ini. Haris yang sudah bekerja dengannya hampir dua tahun saja tidak mengetahui tentang hal mengerikan itu. Dia benar benar tidak menyangka ternyata perselingkuhan itu bukan hanya sekedar bicara lewat hp, tapi bahkan hingga menghasilkan anak yang harus diakui Al sebagai anaknya sendiri.


"Buk, kita harus segera berangkat ke lokasi syuting. Ibu tidak boleh nangis. Tersenyum dong." Menghapus air mata dipipi ibunya, lalu menarik kedua ujung bibir ibunya agar membentuk senyuman.


"Ris, barangnya sudah masuk semua?" Bertanya pada Haris sambil membuka pintu belakang untuk Ibu.


"Sudah, Mas. Semuanya sudah aku masukkan ke bagasi." Jelas Haris.


Sebelum Al masuk kemobil, dia mendekati Haris terlebih dahulu. "Ris, thanks selalu ada bersamaku." Menepuk bahu Haris, dan menghapus sisa air mata di pelupuk mata Haris.

__ADS_1


"Mas Al yang semangat syutingnya." Ucapnya semangat, berharap Al juga akan tetap semangat menjalani pekerjaannya.


__ADS_2