
Satu bulan kemudian.
Al sudah pulang lima hari yang lalu. Dia kini di Bogor bersama ibunya. Rumahnya ditunggu oleh Haris beserta semua teman teman Al yang membantunya mengelola A.R art Studio. Sebenarnya, Al sudah meminta mereka untuk pergi dan mencari peerjaan yang baru. Tapi mereka bersikeras untuk tetap tingga dan menunggu sampai Al sembuh dan bisa kembali kedunia seni peran atau hiburan.
"Mas Al istirahat saja dulu, nggak usah mengkhawatirkan kami." Ucap Haris melalui sambungan telepon.
"Aku tidak bisa menggaji kalian, Ris. Uangku sekarang hanya cukup untuk makan." Jelas Haris dengan jujur.
"Iya, kita semua tahu kok mas Al. Dan meski begitu, kami akan tetap disini, teman yang baik tidak akan saling meninggalkan bahkan disaat yang sangat buruk sekalipun." Celoteh Haris.
Al tidak bisa berkata kata. Dia merasa tidak enak hati pada 5 orang teman yang berada dibawah naungan A.R art Studio dan juga Haris, karena tidak bisa memberi mereka gaji seperti dulu. Bukannya Al kehabisan semua uangnya. Tapi, Al harus berhemat. Tidak mungkin, dia mengandalkan ibunya yang hanya bekerja sebagai tukang jahit. Seharusnya Al yang membantu ibunya dan memberi ibunya uang.
"Al, makan dulu. Ibu masak cah kangkung campur teri kesukaanmu, loh." Panggil Maryam dari dapur.
"Ris, salam sama teman teman. Sudah dulu ya, aku dipanggil ibu. Jangan lupa makan siang. Asslamualaikum." Al mengakhiri perbincangannya dengan Haris.
Lalu, Al pun segera menuju dapur. Dia kini sudah bisa berjalan meski harus menggunakan bantuan Kruk. Namun, dia sudah sangat bersyukur karena terhindar dari kelumpuhan.
"Wah, ibu masak banyak. Padahal kita cuma berdua." Ucap Al saat melihat ada banyak macam masakan ibu yang tersaji diatas meja.
__ADS_1
"Ibu dapat banyak orderan kemarin. Jadi, banyak pemasukan yang mampir di ATM ibu." Tuturnya senang.
"Ibu benaran jadi jualan gamis secara online?" Tanya Al yang tidak yakin.
"Iyalah jadi. Tapi, ibu nggak jual secara langsung. Ibu cuma bertugas menyiapkan gamis gamisnya, lalu teman ibu yang mengambil semua gamisnya dan membantu menjualkan." Jelasnya.
"Terus, hasilnya bagi dua?" Tanya Al penasaran. Dia khawatir ibunya ditipu karena belum begitu mengerti dengan cara berjualan seperti itu.
"Ibu jelasin ya." Maryampun mulai menjelaskan caa kerja penjualannya. Maryam juga menjelaskan tentang keuntungan yang didapatnya.
"Itu bagus buk. Ibu jadi lebih kreatif gini. Tambah cinta Al sama ibu." Memuji ibunya.
"Ibu mah bisa aja." Al tersenyum getir. Dia merasa menjadi anak yang tidak mampu membahagiakan ibunya. Harusnya diusia yang sudah tidak muda lagi, ibunya istirahat, menikmati masa tuanya dengan memperbanyak ibadah. Bukannya malah sibuk bekerja mencari uang seperti saat ini. 'Maafkan Al, ya buk. Al belum bisa membahagiakan ibu lagi.' Ucap dalam hati.
Saat Al sedang berjuang untuk sembuh seutuhnya, dan mulai melupakan Rizki. Karena percaya, Kelvin dan Marsya akan memberinya kasih sayang penuh. Justru yang terjadi adalah, Kelvin dan Marsya sama sekali tidak bisa mengambil hati Rizki sedikitpun.
"Sayang, maafkan mas ya, tentang ucapan mas yang keterlaluan waktu itu." Kelvin meraih tangan Marsya yang sedang mengelus perutnya yang mulai tampak besar.
"Tidak apa mas. Aku sudah memaafkan. Dan aku harap, kita bisa kembali seperti dulu." Ucap Marsya dengan mata berkaca kaca.
__ADS_1
"Mas akan mencoba dan terus mencoba agar Rizki mau menerima mas, sebagai Abinya." Menarik Marsya dalam dekapannya.
"Mas harus bisa membuat Rizki sayang sama mas. Karena kita adalah orangtua kandungnya mas." Ulang Marsya memperjelas apa yang harus Kelvin lakukan.
Dan saat ini Rikzi sedang bermain bersama kakek dan neneknya. Dia memang terlihat bahagia dan baik baik saja saat bermain, namun dia sangat merindukan sosok Abi yang selama ini selalu memeluknya penuh Cinta.
"Kok makin lama Rizki malah semakin mirip dengan Kelvin. Umi masih ingat wajah Kelvin saat masih seusia Rizki." Tutur Umi sambil menatap Rizki yang sedang bermain bola bersama beberapa anak kecil seusianya yang merupakan anak anak dari ustad dan ustadzah pengasuh pesantren.
"Sebenarnya Abi melihat kemiripan itu saat pertama kali Marsya mengenalkan Rizki pada Abi." Ujar Abi yang membuat Umi terdiam sesaat.
"Mungkin karena Rizki mulai nyaman bersama Kelvin ya, Bi." Ucap Umi berusaha mengusir pikiran yang aneh aneh dalam otaknya.
"Kemiripan seorang anak dengan orangtuanya biasanya akan terlihat jelas diusia ini. Dan harusnya, Rizki mirip dengan Abinya disaat kemiripan dengan Uminya memudar." Abi hanya sekedar memberi gambaran dan mengingat bagaimana keadaan Kelvin saat masih kecil.
"Abi benar, saat lahir hingga usia dua tahun, Kelvin sangat mirip dengan Umi. Kemudian, saat memasuki usia tiga tahun, wajahnya berubah menjadi sangat mirip dengan Abi. Dan hingga sekarang, Kelvin sangat mirip sama Abi." Mengingat masa kecil Kelvin.
Sesaat mereka terdiam, lalu saling menatap penuh tanya dan kecurigaan. "Apa mungkin?" Umi menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
"Istighfar umi. Jangan berpikir yang macam macam. Tidak mungkin Kelvin berbuat hal seburuk dan sehina itu." Abi menyangkal semua pikiran buruk itu. Dia memutuskan untuk peracaya pada putranya.
__ADS_1
"Abi benar. Mungkin hanya kebetulan saja mereka mirip." Ucap Umi dengan penuh perasaan yang campur aduk dan sulit untuk dijelaskan.