Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Al Fatih menggila...


__ADS_3

Beberapa menit kemudian, Auri sudah selesai sholat. Dia kembali menghampiri Al yang masih berdiri di depan mobil. Al sedang berbicara serius dengan seseorang melalui sambungan telepon. Auri tidak ingin mengganggunya, dia pun langsung masuk ke mobil untuk menunggu Al.


"Pokonya acaranya paling lambat minggu depan. Nanti aku kabari lagi. Jangan sampai berita ini tersebar." Ucap Al.


"Ok. Aku janji, kalian akan menjadi satu satunya yang mendapat kabar bahagia itu dariku." Sambungnya sambil menoleh pada Auri yang sedang merapikan cadarnya di dalam mobil.


"Siap... Waalaikumsalam."


Al.mengakhiri pembicaraan itu dengan senyum bahagia diwajahnya. Lalu, dia pun masuk ke mobil dan siap untuk berangkat menuju Jakarta.


"Ngobrol sama siapa di telpon tadi, mas Al?" Tanya Auri.


"Teman." Jawab Al singkat tanpa menoleh pada Auri.


"Mas Al kenapa?"


Auri merasa Al terlihat aneh dan seakan merasa terganggu dengan pertanyaannya barusan.


Bukannya menjawab, Al malah makin fokus mengendalikan stir mobil. Merasa dicuekin seperti itu, membuat Auri memalingkan wajahnya untuk menatap ke luar. Dia membuka kaca pintu mobil, dan membiarkan angin sore menerpa wajahnya.


Beberapa menit suasana menjadi hening. Baik Al maupun Auri, keduanya sibuk dengan pikiran mereka masing masing. Hingga Auri tersadar satu hal, bahwa jalan yang kini dilewatinya bukanlah jalan menuju tempat Alista dan teman temannya menunggu.


"Loh, ini kan jalan menunu Jakarta?" Tanya Auri bingung.


"Bukankah kita memang mau pulang ke Jakarta?"


"Iya, memang kita mau pulang ke Jakarta. Tapi, Alista dan teman teman sedang menunggu." Jelas Auri panik karena Al semakin menambah kecepatan laju mobil.

__ADS_1


"Mereka sudah lebih dulu pulang ke Jakarta, sayang. Jadi kita pulang berdua saja." Ucap Al dengan santainya memanggil Auri dengan sebutan sayang.


Mendengar panggilan itu membuat Auri berhenti bertanya. Dia segera mengeluarkan ponsel dari dalam tasnya dan segera menelpon Alista.


"Dek, angkat dong..."


Kepanikan terlihat jelas diwajah Auri, dia benar benar ketakutan. Dia tahu Al adalah pria baik baik. Tapi, harusnya mereka tidak berdua saja. Auri masih selalu ingat pesan gurunya, laki laki dan perempuan tidak boleh hanya berduan saja, terlebih ketika mereka saling menyukai. Karena dikhawatirkan syetan akan dengan mudah menggoda mereka untuk melakukan hal hal yang mendekati zina.


"Auri, jangan takut. Aku tahu apa yang kamu khawatirkan. Tapi, Inysa Allah semua akan baik baik saja. Aku akan mengantarkan kamu pulang tanpa membuat kesalahan apapun. Aku sengaja ingin berduaan saja, karena aku ingin memastikan perasaanku. Percayalah, aku pun mengkhawatirkan hal yang sama seperti apa yang kamu khawatirkan." Jelasnya.


"Maafkan aku, mas Al. Sungguh aku tidak terbiasa hanya berdua saja dengan pria saat perjalanan juah malam malam seperti ini." jelas Auri merasa tidak enak.


"Aku paham. Jadi, bisakah kita coba untuk lebih santai dan ngobrol dengan nyaman seperti sebelumnya!"


Sesaat Auri diam, lalu dia mengangguk. Dan benar saja, setelah hampir sepuluh menit mereka saling diam, akhirnya mereka bisa lebih tenang dan merasa lebih nyaman dari sebelumnya.


Al akhirnya mencoba bicara untuk kembali mencairkan suasana yang sempat beku.


"Apa itu tentang Marsya dan Kelvin?" Tebak Auri asal.


"Iya, tentang mereka." Jawabnya.


Selanjutnya suasana hening kembali terjadi. Al sibuk memikirkan bagaimana cara dia menceritakan semuanya pada Auri.


"Apa yang ingin mas Al ceritakan tentang mereka?" Tanya Auri kemudian, karena Al tidak juga kunjung mengatakan apa apa.


"Mmh, sepertinya sudah hampir magrib. Kita ke Masjid dulu, ya sayang. Mumpung kita sudah mendekati Masjid."

__ADS_1


Sengaja Al mengalihkan pembicaan. Dia masih belum siap untuk menceritakan semuanya pada Auri.


"Kenapa mas Al memanggilku dengan panggilan sayang?"


"Karena sebentar lagi, sayang akan menjadi bidadari dunia dan akhiratnya mas Al Fatih." Jawab Al dengan mengedipkan mata dan memainkan alisnya. Dia sengaja menggoda Auri.


"Aku merasa tidak yakin mas Al akan menikahiku." Ucap Auri sambil melepas sitbelt, karena mereka sudah tiba di depan Masjid.


"Kenapa?"


Al bingung dengan ucapan Auri yang meragukan keseriusannya. Padahal jelas jelas beberapa jam yang lalu, Aurilah yang mengajaknya menikah.


"Entahlah... hanya saja, hatiku mengatakan seperti itu." Jawabnya.


"Auri, aku janji akan menjadikan kamu bidadariku. Bukan hanya didunia saja, tapi insya Allah hingga syurganya Allah." Ucap Al Serius.


Dia menarik ujung jilbab Auri yang hendak turun dari mobil, hingga Auri menoleh padanya. Dan Al menatapnya dengan tatapan sendu yang penuh ketulusan. Auri yang juga terpaksa menatap mata Al secara langsung pun merasakan kesungguhan dan ketulusan itu. Tapi, dengan cepat Auri memalingkan tatapannya.


"I love you Al Fatih." Ucap Auri sambil menunduk, lalu dengan cepat dia turun dari mobil.


Mendengar pengakuan tiba tiba dari Auri, membuat Al terkejut. Dia menjadi tidak fokus dan hampir lupa menarik napas.


"Hhuuhhh, dia benar benar suka membuat aku jantungan. Auri, kamu membuat masalah tanpa berpikir panjang. Baru saja dia merasa khawatir karena berduaan denganku. Eh malah mengatakan hal yang membuatnya akan benar benar mendapat masalah." Ucap Al dengan senyum yang menyeringai.


Andai Auri mendengar dan melihat senyum Al saat ini, Auri pasti sudah berlari sejauh mungkin dari Al Fatih.


"Tidak. Aku harus segera menemukan hotel. Aku tidak bisa terus terusan seperti ini. Auri benar benar membuat masalah. Oh sayangku, Auri. Kau membuatku gila..."

__ADS_1


Al menjambak rambutnya, lalu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kemudian setelah merasa lebih tenang, Al pun ikut masuk ke Masjid untuk ikut sholat magrib berjamaah.


__ADS_2