Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Hikmah Kesabaran


__ADS_3

Rudi tadinya hanya ingin menghirup udara segar di balkon. Tapi, matanya malah melihat pemandangan yang mengharukan. Segera saja Rudi membangunkan teman teman lainnya untuk melihat adegan mengharukan itu.


"Allah langsung membalas kesabaran Auri dengan hadiah indah ini." Ucap Endah yang saling berpelukan dengan Widia.


"Kamu benar Ndah. Tuhan benar benar sayang pada mbak Auri." Sambung Widia.


Jeni pun terbangun. Dia heran melihat mereka semua berjejer di balkon. Hingga perlahan Jeni melangkah dan ikut melihat kearah yang dilihat oleh mereka.


"Mas…" Ucap Jeni pelan, namun terdengar oleh mereka semua.


"Mama sudah bangun?" Endah dan Widia mendekati Jeni.


"Bantu mama turun. Mama ingin nenemui mereka." Pinta Jeni pada Endah dan Widia.


Segera saja mereka membantu Jeni untuk menemui Auri dan William. Semua pun ikut mengekor dibelakang Jeni.


"Mas." Panggil Jeni saat sudah berada di luar Villa.


William menoleh dan melihat Jeni sudah berdiri tanpa bantuan kursi roda ataupun kruk lagi.


"Mama sudah sembuh, pa." Ucap Auri.

__ADS_1


William tersenyum. Dia mencium kening Auri sebentar, lalu segera menghampiri Jeni.


"I am sorry, honey." Memeluk erat tubuh Jeni.


Auri pun melangkah mendekati kedua orangtuanya. Dan mereka berpelukan hangat.


Sungguh adegan yang sangat mengharukan. Semua teman teman Auri bahkan terharu menyaksikan pertemuan keluarga itu yang selama ini terpisah karena ego yang mempengaruhi pikiran dan hati mereka.


Setelah Auri, William dan Jeni merasa lebih baik, merekapun akhirnya masuk kembali ke Villa. Mereka mulai bicara dan saling tertawa.


Teman teman Auri juga ikut serta dalam pembicaraan seru itu. William tampak lebih tenang dan terlihat sangat menyayangi Auri. Dia bahkan tidak melepaskan tangan Auri dari genggamannya.


"Papa akan melakukan apapun untuk membuktikan semua yang diberitakan itu hanyalah kebohongan. Papa janji, akan melindungi putri kesayangan papa ini." Menatap Auri dengan penuh cinta.


William mengangguk paham. Lalu dia menoleh pada Jeni dan akhirnya memeluk istrinya itu. "I miss you. I am so sorry." Mencium kening Jeni.


Adegan itu membuat Auri dan teman temannya merasa canggung. Hingga perlahan mereka mulai satu persatu meninggalkan pasangan suami istri yang kembali bersatu.


Dan saat ini Auri sudah berada di pinggir kolam renang taman belakang. Dia menjawab panggilan telepon dari Al.


"Assalamu'alaikum, mas Al."

__ADS_1


"Waalaikumsalam. Apa kamu sudah melihat berita itu?" Tanya Al khawatir.


"Sudah. Kenapa, mas Al?"


"Apa kamu baik baik saja?"


"Tentu. Aku baik baik saja. Selama aku tidak melakukan apapun yang sedang mereka tuduhkan, maka aku akan baik baik saja." Auri mulai terbiasa bicara santai pada Al.


"Syukurlah. Tapi, aku janji akan membongkar semua kebohongan yang disembunyikan Marsya dan Kelvin selama ini. Akan aku bongkar semuanya." Al terdengar sangat tegas.


"Apa mas Al baik baik saja?" Tanya Auri.


"Tidak. Aku tidak baik baik saja. Aku sangat marah dan kecewa. Aku kira Marsya tidak akan berulah lagi, setelah Rizki kukembalikan. Rupanya, dia semakin berani dan semakin membuka aib nya sendiri sedikit demi sedikit." Ungkap Al.


"Allah selalu bersama orang yang sabar. Jadi, mas Al harus tetap selalu sabar. Yakinlah Allah akan membalas dengan yang jauh lebih indah nantinya." Mencoba menghibur Al.


"Kamu benar, Auri. Tapi, kali ini aku rasa diamku untuk tetap menjaga nama baik Marsya dan Kelvin sudah berakhir. Selama ini aku diam, aku menjaga aib mereka dengan baik. Aku juga tidak pernah mengganggu kehidupan mereka. Tapi, coba kamu lihat, apa yang mereka lakukan pada kita karena kita hanya diam." Al terdengar geram dan hampir tidak mampu mengendalikan emosinya.


"Mas Al, jika butuh bantuan, aku siap membantu. Aku mungkin memang memilih diam. Tapi, aku akan membantu mas Al semampu yang aku bisa lakukan." Ucap Auri.


"Terimakasih Auri. Sepertinya aku memang butuh bantuan dari kamu lagi." Merasa senang karena Auri bersedia membantunya lagi.

__ADS_1


Auri sedikit tersenyum. Hatinya terasa sejuk saat Al berbagi cerita dengannya dan mengatakan membutuhkan bantuan darinya.


__ADS_2