Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Belajar Islam


__ADS_3

Tiga bulan kemudian.


Al sudah hidup bahagia bersama Rizki dan ibunya. Maryam juga sudah bisa kembali menerima Rizki dan memberikan Rizki kasih sayang yang cukup banyak. Dia menyayangi Rizki seperti cucunya sendiri.


Al juga sekarang menekuni profesinya sebagai penyanyi dan selalu mengisi channel youtubenya dengan lagu lagu ciptaannya sendiri. Al tidak lagi kembali ke dunia akting. Dia lebih nyaman dengan kehidupannya saat ini. Bersama Rizki dan ibu sudah sangat melengkapi hidupnya.


"Nak, belum tidur?" Tanya Umi menghampiri Al yang masih sibuk di studionya.


"Belum, buk. Paling bentar lagi, tanggung soalnya." Sahutnya.


"Ada yang ingin ibu bicarakan sama kamu."


Sebentar Al berhenti, lalu dia menatap wajah sendu wanita terkasihnya itu.


"Bicara tentang apa buk?"


"Tentang masa depan kamu. Tentang menantu untuk ibuk."


Maryam memang terlihat egois, memaksakan agar Al segera menikah. Tapi, semua itu dilakukannya, karena ingin anaknya merasakan kebahagiaan yang sesuangguhnya. Bisa memiliki istri dan anak yang sesungguhnya. Bukan malah terus terusan merawat Rizki yang tidak ada pertalian darah sama sekali dengannya.


Maryam tidak membenci Rizki, ataupun berharap Al akan melupakan Rizki disaat dia sudah memeliki anak dari istrinya kelak. Tapi, sebagai seorang ibu, Maryam sungguh ingin menyaksikan anaknya bahagia, setidaknya sebentar saja selama dia masih ada di dunia ini.

__ADS_1


"Buk, Al akan menikah. Tapi, belum dalam waktu dekat ini. Dan sebenarnya Al sedang menunggu kesiapan dari seseorang untuk bisa menerima Al dan Rizki, buk." Jelasnya sambil merangkul bahu ibunya.


"Benarkah? Siapa wanita itu, apa ibu mengenalnya?"


Al tidak menjawab, dia hanya tersenyum saja. Maryam sedikit kecewa, karena dia pikir Al hanya membohongi agar dia berhenti memintanya segera menikah.


"Maafkan ibuk nak. Tapi, sungguh ibu ingin benar benar melihat kamu bahagia. Punya rumah tangga sendiri, dan punya anak anakmu sendiri." Tegasnya kembali mengingatkan jika mungkin Al lupa.


"Al mengerti buk. Al sangat paham apa yang ibu inginkan adalah demi kebahagiaan Al juga. Tapi, Al belum bisa menikahi wanita itu dalam waktu dekat. Tunggu Al sebentar lagi ya buk." Merebahkan kepalanya di bahu ibunya.


Sementara itu, di kediaman William mark. Keluarga itu sedang berkumpul bersama. Ada Auri juga ditengah tengah mereka. Malam ini adalah ulang tahu William Mark.


Ya, Alista sudah menjadi anak yang baik dan penurut lagi sejak Papa menerima Auri kembali sebagai anaknya. Dan Alista pun sangat sering menempel pada Auri beberapa bulan terakhir. Dia sangat senang saat menghabiskan waktu bersama kakaknya itu.


"Sepertinya tidak." Ucap Auri membohongi Alista.


"Kalau begitu, aku ikut kakak. Aku akan menginap dirumah kakak." Menggandeng erat tangan Auri.


"Iya, kakak tidur disini malam ini." Lanjut Auri.


"Asyiiikkk." Alista benar benar merasa bahagia.

__ADS_1


"Adek kapan syuting lagi?" Tanya William yang memang sudah jarang melihat Alista pergi syuting.


"Aku nggak mau syuting lagi, Pa. Aku mau fokus belajar Islam sama kak Auri." Ungkapnya yang membuat suasana menjadi beku seketika.


"Apa kamu serius?" Tanya William agak kaget.


Alista mengangguk yakin. "Boleh ya Pa, Ma." Meminta izin.


"Tentu sayang. Asal adek harus benar benar yakin dengan keputusan adek." Sambung Jeni.


"Dengar tu ucapan Mama. Kamu harus yakin seperti kakakmu. Jangan bermain main dengan agama, dek." William menegaskan.


"Adek benaran mau belajar islam?" Auri menatap dalam kedua bola mata Alista.


"Iya kak. adek benaran ingin belajar islam." Tegasnya.


Auri mengangguk, matanya berkaca kaca menatap wajah Alista. Lalu, Auri memeluknya erat. Betapa bahagianya dia karena Allah memberikan hidayah pada adiknya.


'Aku akan belajar islam dan menikah dengan Al Fatih.' Gumam Alista dalam hatinya.


Alista ingin menjadi wanita muslimah agar bisa menikah dengan Al Fatih. Ya, itu tujuannya yang tidak diketahui oleh kedua orangtua dan kakaknya itu.

__ADS_1


__ADS_2