
Pukul sepuluh malam, Auri tiba di Jakarta. Dia sudah menyelesaikan semua pekerjaannya di Bandung. Dan kini saatnya dia istirahat sejenak sebelum kembali membuat vlog baru untuk channel youtubenya.
"Ma, Auri rindu." Ucap Auri menatap foto mamanya dilayar Handphone.
Driitt…
Handphone Auri mendapat panggilan dari nomor yang tidak dikenalnya.
"Assalamualaikum, ini siapa?" Tanya Auri ragu.
"Non, ini saya Tuti." Jawab wanita bernama Tuti yang merupakan pembantu di rumah Mamanya.
"Bik Tuti. Ada apa? Apa sesuatu terjadi pada Mama?" Auri yang tadinya sudah berbaring dan siap tidur, kini kembali duduk.
"Nyanyo sangat merindukan, non Auri." Bisiknya.
"Aku juga sangat merindukan Mama, bik. Apa mama baik baik saja?" Auri merasa khawatir terjadi sesuatu pada Mamanya.
"Non, sebenarnya saya sama Nyonya kabur dari rumah." Tuturnya.
"Apa? Lalu dimana kalian sekarang?" Auri langung berdiri dan memakai cardigannya, juga memasang cadarnya.
__ADS_1
"Tidak jauh dari rumah non Auri. Kita baru saja turun dari taxi." Jelasnya.
"Bibik bisa jelaskan lokasi kalian sekarang?" Meraih kunci mobilnya dan berlari menuruni anak tangga.
Tuti menjelaskan tempat keberadaanya pada Auri dengan rinci. Auri tahu tempat itu, mamanya berada di depan Mini Market yang berjarak sekitar lima belas menit dari rumahnya.
"Aku segera kesana bik. Tunggu aku." Auri langgung berlari menuju mobilnya.
"Mbak Auri mau kema… na?" Widia belum sempat bertanya, mobil Auri sudah berangkat.
"Auri mau kemana, Wid?" Tanya Endah.
"Nggak tau Ndah. Tapi kelihatannya dia buru buru." Jelas Widia.
Dan lima belas menit kemudian, Auri tiba di lokasi yang dijelaskan Tuti. Dia melihat mamanya. Tapi, apa yang dilihatnya sangat membuat hatinya terluka. Auri turun dari mobinya, lalu berlari mengejar mamanya.
"Mama, apa yang terjadi. Ya ampun, kenapa mama seperti ini?" Celoteh Auri sambil menangis dan memeluk mamanya.
"Nyonya sudah seperti ini sejak kepergian non Auri dari rumah. Tuan mengurung nyonya di kamar agar tidak mencoba kabur untuk menemui non Auri." Jelas Tuti.
"Ma, maafkan Auri." Auri merebahkan kepalanya di pangkuan Mamanya yang duduk diatas kursi roda.
__ADS_1
"Maafkan mama tidak bisa melindungimu." Ucap Mama terbata bata. Dia susah bicara karena terserang struk yang menyebabkan kelumpuhan.
"Maafkan Auri, ma." Auri memeluk erat tubuh wanita yang sangat dirindukannya itu.
"Non, sebaiknya kita cepat pergi dari sini. Takutnya ada yang mencari nyonya." Tutur Tuti.
"Ma, kita pulang ya. Auri sudah punya rumah, meski masih kredit, tapi rumahnya nyaman kok ma." Ucap Auri dengan terus menangis. "Mama jangan nangis." Menghapus air mata dipipi mamanya.
Lalu, Auri membawa Mama dan bik Tuti kerumahnya. Kedatangan meraka disambut oleh semua teman teman tim creator Auri.
"Melki, bang Rudi, bantu angkat mama ke kamarku." Pinta Auri.
Melki pun menggendong tubuh mama Auri menaiki tangga, sementara Rudi membawakan kursi rodanya. Lalu Auri pun ikut naik menuju kamarnya. Sementara teman teman lainnya Auri perintahkan untuk segera tidur, dan tetap merahasiakan kedatangan Mamanya di rumah ini. Dan Tuti diantar oleh Widia kekamar tamu.
"Terimakasih, bang Rudi, Melki." Ucap Auri.
"Biasa aja, Ri. Nikmati waktu bersama mamamu. Kita mau lanjut kerja." Ucap Rudi.
Auri mengangguk, lalu segera menutup pintu kamarnya begitu Rudi dan Melki keluar dari kamar.
"Ma, mama tidur ya. Pasti capek!" Auri membenarkan selimut mamanya.
__ADS_1
"Maafkan mama." Sekali lagi mamanya meminta maaf.
"Ma, Auri yang harusnya minta maaf, karena membuat mama menderita seperti ini." Auri ikut berbaring disebelah mamanya. Dia menangis dan menyembunyikan wajahnya dibahu mamanya. Auri memeluk erat tubuh mamanya sampai dia tertidur lelap.