Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Nikahi Alista!


__ADS_3

Auri tidak bicara pada Alista hampir satu pekan terakhir. Dia benar benar kecewa pada Alista yang terkesan bermain main dengan Syahadat. Meski begitu, Auri terus memikirkan cara agar bisa berbicara dengan Al Fatih.


"Ri, ada telepon dari Al Fatih."


Suara bang Rudi menyadarkan Auri dari lamunannya. Dia menoleh dan mengambil alih ganggang telepon dari tangan bang Rudi.


"Assalamualaikum…" Ucap Auri saat ganggang telepon sudah berada ditelinganya yang tertutup jilbab.


"Waalaikumsalam. Aku tadi menelpon kenomor kamu, tapi tidak dijawab." Celoteh Al tanpa basa basi lagi.


"Aku sedang menikmati suasana malam diluar rumah. Sementara Hp ada di kamar." Jelas Auri lesu.


"Kamu sakit?" Tanya Al khawatir.


"Tidak, aku baik baik saja."


Sebentar keduanya terdiam. Mereka sibuk dengan pikiran mereka masing masing.


"Bantuan apa yang kamu butuhkan dariku?" Tanya Al kemudian.


"Aku tidak bisa bicara melalui telepon. Bisakah kita bertemu?" Tanya Auri penuh harap.


"Tentu. Kapan?" Tanya Al.


"Besok siang ba'da Zuhur. di studiomu." Jawab Auri.


"Baiklah aku tunggu."


Seperti itulah pembicaraan mereka. Dan akhirnya waktu pertemuan itu pun tiba.


Auri disambut baik oleh teman teman Al, di Studio. Mereka bahkan menemani Auri mengobrol sebelum Al datang. Ya, Al sedang ada syuting iklan hari ini. Tapi, sebentar lagi dia akan segera datang.

__ADS_1


"Nah itu mas Al datang." Ucap Zia menunjuk kearah Al yang berjalan dengan agak tergesa untuk menemui Auri.


"Zia, bikinkan aku minum juga." Pintanya saat sudah duduk di kursi yang berhadapan dengan Auri.


"Sudah lama?" Tanya Al agak menyesal karena datang terlambat.


"Sekitar 30 menit yang lalu." Jawab Auri santai.


Al tersenyum miris mendengar jawaban Auri.


"Tadinya aku kira akan bertemu Rizki. Tapi ternyata Rizki ikut ibuk ke Bogor." Ungkap Auri.


"Iya, sudah dua hari mereka di Bogor. Ibu jadi banjir orderan, setelah kamu bantuin buka toko online. Dan ibu juga sudah merekrut empat orang karyawan." Tutur Al senang.


"Alhamdulillah. Aku ikut senang mendengarnya. Kapan kapan boleh dong ikut ke Bogor." Auri sekedar mengusulkan tanpa berpikir Al kesenangan dengan idenya.


"Boleh. Aku akan membawa mbak Auri ke Bogor segera." Jawab Al senang.


Teman teman Al yang pura pura sibuk dengan pekerjaan mereka, diam diam mendengar pembicaraan Al dan Auri. Mereka pun tersenyum senyum senang. Mereka berharap agar keduanya berjodoh. Tapi, entah mengapa sampai saat ini mereka terlihat sama sama gengsi untuk mengungkapkan perasaan masing masing.


"O iya, jadi lupa. Bantuan apa nih yang dibutuh seorang Auri dariku?" Tanya Al, kemudian menyeduh jus jeruknya.


Auri tidak langsung bicara. Dia terlihat bingung untuk mengatakan keinginannya pada Al Fatih. Tapi, apa boleh buat. Dia sudah berada didepan Al Fatih saat ini. Jadi, Auri tidak akan menyia nyiakan kesempatan ini. Semua dilakukannya demi adiknya, Alista.


"Sebenarnya, aku ingin mas Al…" Menarik napas dalam dalam. "Aku ingin mas Al menikah." Ucap Auri cepat tanpa jeda.


Seisi studio terperangah kaget mendengar ucapan Auri. Mereka bahkan hampir tersenyum, tapi gagal karena kemudian Auri melanjutkan ucapannya.


"Menikahlah dengan Alista." Mata Auri terpejam erat saat mengatakan itu.


Wajah Al yang tadi hampir bersemu merah, kini terlihat merah padam. Mendengar permintaan Auri untuk menikahi Alista, membuat hati Al terasa ditusuk ribuan jarum. Rasanya lebih sakit dari pada saat Al tahu istrinya berselingkuh.

__ADS_1


"Maafkan aku mas Al. Aku tahu, mas Al mencintai wanita lain. Tapi, tolong selamatkan Alista. Menikahlah dengannya. Aku mohon mas Al. Alista membutuhkanmu." Ucap Auri setengah memohon.


Tangannya saling menggenggam erat, mencoba menghentikan rasa gemetar yang teramat sangat. Entah mengapa, Auri merasa hatinya sangat perih saat memohon agar Al menikahi adiknya.


Semua teman teman Al saling bertatapan dan berbisik. Mereka sangat terkejut dengan situasi saat ini. Sementara Al masih tetap diam. Dia mencoba menenangkan perasaannya yang sedang terluka.


"Mas Al tidak perlu menjawab sekarang. Aku akan menunggu sampai mas Al benar benar yaki…"


"Aku tidak akan menikahi Alista. Aku tidak mau menikahi Alista." Tegas Al yang memotong ucapan Auri.


"Tapi, Alista benar benar membutuhkan mas Al. Aku sangat mencintai Alista mas Al." Air mata tumpah dari pelupuk mata Auri. Kain cadarnya kini basah oleh tetesan air mata itu.


"Tapi aku sudah mencintai wanita lain, Auri. Bagaimana aku bisa menikahi Alista sementara hatiku untuk wanita lain." Ucap Al yang juga ikut terisak.


Suasana menjadi tegang. Baik Auri maupun Al, keduanya menunduk dengan air mata yang entah mengapa terus menetes.


"Alista mengatakan akan berhenti menjadi muslimah, jika dia tidak bisa menikahi mas Al. Aku hanya tidak ingin Alista kembali menjadi non muslim. Aku sangat mencintainya mas Al. Dia membutuhkan mas Al untuk membimbingnya agar dia bisa semakin mencintai islam. Itulah yang dia katakan." Tutur Auri dengan nada suara yang terdengar lebih tenang dari sebelumnya.


"Aku tidak bisa menikahi Alista, Auri. Jika kamu memintaku menikahi wanita manapun selain Alista, mungkin aku akan membantumu untuk menikahi wanita itu." Jawab Al yang juga sudah lebih tenang.


"Kenapa mas, apa alasannya? Alista gadis yang cantik, pintar, mas Al hanya tinggal membimbingnya, maka inshaaAllah dia akan menjadi istri yang sholehah." Tutur Auri.


"Aku mencintai orang lain, Auri. Jika aku tidak bisa menikahi orang yang aku cintai sekalipun, aku tetap tidak akan bisa menikahi Alisata."


"Kanapa? Apa alasa…"


"Karena wanita yang aku cintai itu Auristella Azzahra binti William Mark." Tegas Al memotong ucapan Auri lagi.


Auri terdiam. Matanya dan seluruh tubuhnya terasa bergetar. Dia sangat tidak menyangka mendengar pernyataan seperti itu dari seorang Al Fatih.


Bukan hanya Auri yang kaget, semua orang di studio juga merasa terkejut dengan pernyataan cinta Al yang tiba tiba. Namun, setelah itu mereka saling menatap senang. Karena tebakan mereka tentang wanita yang dicintai Al itu ternyata benar benar Auri.

__ADS_1


"Maafkan Auri. Aku tidak bisa menikahi Alista. Aku tahu kamu tidak memiliki rasa yang sama denganku. Dan asal kamu tahu, aku hanya ingin mencintai satu wanita hingga akhir hidupku dan itu adalah doaku. Jika aku tidak bisa hidup bersama dengan wanita itu, maka aku berdoa agar Allah tidak membuka hatiku untuk mencintai wanita manapun lagi. Doa ku terdengar egois bukan. Ya, inilah aku. Saat aku jatuh cinta, maka aku akan tetap setia pada wanita itu meski tidak bisa bersamanya." Jelas Al panjang kebar.


Auri masih diam. Dia tidak tahu harus merespon seperti apa. Dia bahkan tidak lagi berani meminta Al untuk menikahi Alista. Saat ini satu satunya yang dia inginkan adalah pulang, istirahat dan melupakan semuanya.


__ADS_2