
"Selamat menikmati, mas, mbak." Ucapnya ramah.
"Terimakasih, mas." Ucap Auri ramah pada pelayan itu.
Lalu, merekapun menikmati makan malam itu. Dan pada awalnya, keduanya tenggelam dengan kenikmatan rasa makanan itu. Al bahkan sempat melupakan hal yang ingin diceritakannya pada Auri.
Sesaat setelah mereka menghabiskan makanan, barulah Al kembali teringat dengan ucapannya tentang cerita yang ingin dia ceritakan pada Auri. Sementara, Auri terlihat tidak penasaran dengan apapun, hal itu membuat Al merasa agak aneh dan memutuskan untuk menanyakan langsung pada Auri.
"Kamu tidak ingin menanyakan sesuatu padaku?" Selidik Al.
Auri yang tadi minum pun berhenti seketika Al bertanya seperti itu. "Tentang Apa, mas Al?"
"Tentang kisahku yang ingin aku ceritakan padamu."
"Apa mas Al yakin ingin menceritakannya padaku?" Auri balik bertanya.
"Iya. Tapi, aku menunggu kamu bertanya lebih dulu."
__ADS_1
Auri tersenyum. "Aku sejak tadi menunggu mas Al bicara."
"Lalu, kenapa kamu tidak menanyakan sesuatu yang bisa membuatku mulai bercerita?" Tanya Al bingung.
"Karena aku pernah diposisi mas Al. Ada masanya, aku tidak ingin berbagi kisahku dengan siapapun itu. Dan semua orang yang dekat denganku, tidak pernah bertanya padaku. Mereka bilang, mereka menunggu aku untuk bicara sendiri, saat aku sudah siap untuk menceritakan semuanya." Jawab Auri.
"Jadi, aku menunggu mas Al siap untuk mengatakan semuanya. Aku tidak bertanya bukan karena tidak penasaran, sungguh aku sangat penasaran dan sangat ingin mendengar kisah mas Al yang membuat mas Al mengalami suatu trauma yang sangat menyiksa dan sulit untuk dilupakan. Tapi, aku ingin menunggu sampai mas Al benar benar siap untuk berbagi semua kisah mas Al dengan ku." Jelas Auri.
Penjelasan Auri sungguh membuat Al semakin kagum padanya.
"Aku sungguh beruntung mencintai dan dicintai oleh kamu, sayangku." Ucapnya lembut.
"Kamu mungkin ingat, setelah satu minggu pernikahanmu dengan Kelvin, dia meninggalkan pesantren untuk pergi ke Jakarta atau mungkin dia merahasiakan darimu kemana tujuannya." Al mulai bicara.
"Iya, aku ingat. Siang itu dia pamit untuk menghadiri acara pesta pernikahan sahabatnya di Jakarta. Itu yang dia katakan." Tutur Auri sembari mengingat ingat masa masa itu.
"Apa kamu tidak curiga?"
__ADS_1
"Tentu aku curiga. Sebab, jika memang menghadiri pesta pernikahan sahabatnya, pastilah dia akan mengajakku juga. Tapi, dia malah pergi sendiri."
Auri terlihat lebih santai saat menjawab pertanyaan Al tentang kisah masa lalunya. Dan melihat Auri yang tampak tidak keberatan membahas hal itu, Al pun akhirnya memberanikan diri untuk mengatakan semua rahasia yang dipendamnya sendirian selama hampir setahun belakangan.
"Sebenarnya, Kelvin ke Jakarta untuk menemui kekasih lamanya. Dan itu adalah Marsya yang saat itu masih berstatus sebagai istri sahku." Mulai bercerita.
Mendengar penuturan itu, entah mengapa hati Auri terasa perih dan sakit. Dia baru tahu ternyata Kelvin mempermainkannya sejak awal pernikahan.
Al pun melanjutkan ceritanya yang akan membuat Auri mengetahui banyak hal yang tidak pernah dibayangkannya sebelumnya, hal itu akan dilakukan seorang Kelvin yang notabennya anak KIAI pemilik Pondok Pesantren.
Flashback On
Malam itu Al berpamitan pada Marsya untuk berangkat ke lokasi syuting.
"Maaf ya sayang. Mas ada syuting subuh, jadi harus menginap dilokasi." Ucapnya menyesal karena lagi lagi harus meninggalkan istrinya itu.
"Tidak apa mas. Kan ada Rizki yang menemani aku."
__ADS_1
"Ya sudah, kalau begitu mas pergi dulu ya. Assalamualaikum." Pamit Al.
Tidak lupa dia mencium Rizki yang sudah tidur di kasur. Lalu, dia juga memberi kecupan sayang pada Marsya. Kemudian Al pun berangkat menuju lokasi syuting.