Auristela (Mu'Alaf Cantik)

Auristela (Mu'Alaf Cantik)
Hadiah Hijrah.


__ADS_3

Pagi ini Alista sedang asyik bersholawatan sendirian. Widia dan Endah sudah pergi ke luar untuk berwisata kuliner sarapan pagi. Ya, mereka berdua mulai kompak membuat channel youtube tentang wisata kuliner. Sudah ada dua video di channel youtube mereka. Dan keduanya mendapat respon yang bagus dari netizen. Bahkan video mereka sudah ditonton sebanyak 100k viewers. Hal itulah yang membuat mereka semakin semangat untuk melanjutkan wisata kuliner mereka.


Sedangkan Melki dan Digo sudah pulang kampung beberapa hari yang lalu. Melki memutuskan untuk buka usaha dikampungnya. Dia mengumpulkan uang hasil kerjanya selama bersama Auri dan uang itu dikirim ke kampung untuk membangun ruko. Nah, katanya ruko itu telah jadi, makanya Melki pulang kampung. Dia akan fokus pada bisnis minimarketnya. Sedangkan Digo, dia pulang ke Makasar, untuk menikah dengan gadis pilihan orangtuanya. Dia akan menetap dan bekerja di sana.


Tinggal Andi dan Rudi yang tersisa. Andi sebenarnya juga ingin pulang ke Bengkulu, tapi Rudi menahannya. Karena Rudi meminta bantuannya untuk menjadi cameramen sekaligus sutradara untuk channel youtube Rudi dan Alista. Mereka akan mengcoper berbagai sholawat. Dimana Rudi bermain gitar dan Alista yang menjadi vokalisnya.


"Yuk lah mulai syuting." Ajak Andi saat mendengar lantunan merdu sholawat oleh Alista.


"Ayok, aku semangat banget ini." Ujar Alista.


Rudi pun lagsung mengambil gitarnya dan menyetel senar gitar agar suaranya lebih merdu dan bisa mengimbangi suara merdu Alista.


"Yuk, yuk, action." Teriak Rudi saat merasa sudah siap.


"Siap!" Seru Andi semangat.


Dia mulai mengarahkan kameranya pada Rudi dan Alista.


"Satu, dua, tiga… action." Teriak Andi semangat.


Suara gitar Rudi terdengar merdu, lalu disambut dengan lantunan shalawat merdu dari Alista. Tidak lupa Andi merekam dari sudut sudut yang terlihat bagus.


Alista benar benar tenggelam dalam indahnya sholawat yang dia lantunkan. Betapa hatinya menghayati sholawat itu, hingga matanya berkaca kaca.


"Ok, good." Ucap Andi senang.


Rekaman berakhir saat sholawat yang dilantunkan Auri selesai. Andi langsung memperlihatkan hasil rekamannya pada Alista dan Rudi.


"Keren. Tapi, tanganku terlihat." Ucap Alista.


Direkaman itu, lengan baju Alista tersinsing saat dia menengadahkan tangannya saat bersholawat.


"Oo itu gampang, kok. Nanti aku edit dan di kasih stiker untuk menyembunyikan lengan kak Alista." Ujar Andi.


"Mmh, serahkan saja semuanya pada Andi. Semuanya pasti beres." Sahut Rudi ikut menimpali.


Alista mengangguk. "Ok. Lakukan yang terbaik. Aku percaya sama kamu, Andi."


"Siap, kak." Jawab Andi semangat.


Lalu, Andi pun langsung menuju ruang kerjanya untuk mulai mengedit sebelum mengupload hasil rekamannya.


Sedangkan Alista dan Rudi, pergi untuk menemui Mama dan Papanya. Mereka akan membicarakan tentang pernikahan mereka. Tapi, sebelum itu mereka akan mampir ke rumah Al terlebih dahulu. Alista sangat merindukan kakaknya itu.


"Aku juga rindu sama Auri. Biasanya selalu kemana mana mengantarnya pergi kerja." Ucap Rudi.

__ADS_1


"Mulai sekarang, bang Rudi harus terbiasa mengantar jemput kemanapun aku pergi, dong. Karena, kak Auri sudah punya mas Al yang akan mengantar jemputnya." Ujar Alista.


"Tentu, sayang. Mulai sekarang kamu adalah prioritasku." Ucap Rudi.


Dia menatap sebentar wajah merona Alista, wanita yang akan menjadi istrinya dalam beberapa waktu lagi.


"Terimakasih, karena abang mau membimbingku dan mengajariku dengan penuh kesabaran." Ucap Alista.


"Abang yang harusnya berterimakasih, karena sayang bersedia menerima abang dengan begitu banyak kekurangan abang."


Mendengar itu membuat mata Alista berkaca kaca. Dia terharu. Baginya Rudi benar benar hadiah hijrah dari Allah untuknya.


...πŸ€πŸ€πŸ€...


"Sayang, mas kedepan duluan, ya!" Seru Al pada Auri yang masih bersiap di kamarnya.


"Mas mau manasin mobil dulu." Sambungnya.


"Iya, mas." Teriaknya dari dalam kamar.


Al pun bergegas menuju garasi dan mengeluarkan mobilnya dari sana. Pada saat itulah, mobil Alista dan Rudi tiba di depan rumahnya. Al belum menyadari kedatangan mereka, karena dia fokus pada mobilnya.


Alista turun dari mobil bersamaan dengan Rudi. Mereka menghampiri mobil Al yang mesinnya sedang menyala.


"Assalamualaikum, mas Al!" Seru Alista sambil menjenguk di jendela depan mobil.


"Alista, Rudi!" Serunya.


"Waalaikumsalam." Sambung Al baru menjawab salam mereka.


Dia menyambut Rudi dengan pelukan, sementara Alista hanya disambut dengan senyum ramahnya. Meski Alista adik iparnya, Al tetap menjaga batas mahromnya. Karena memang kakak atau adik ipar itu bukan mahrom, kecuali sama sama cowok atau sama sama cewek.


"Kak Auri mana, mas?" Tanya Alista.


"Masih di dalam, siap siap. Ya udah yuk masuk dulu." Ajak Al pada Alista dan Rudi.


"Ini ceritanya mas Al sama Auri mau pergi?" Tanya Rudi yang masih belum terbiasa memanggil Auri dengan sebutan kakak.


"Iya. Kita mau kerumah Papa." Jawab Al.


Mereka terus melangkah masuk, hingga sampai di ruang tamu. Al mempersilahkan mereka duduk.


"Bentar ya, aku panggilkan Auri."


Al melangkah naik menuju lantai atas untuk memanggil Auri yang masih di kamarnya.

__ADS_1


Sedangkan Alista dan Rudi duduk manis sambil mrlirik sekeliling ruang tamu yang terasa sejuk dan juga dihiasi dengan kaligrafi kaligrafi yang indah.


"Kok bisa ya, Marsya selingkuh dari lelaki seperti mas Al!"


Alista berucap secara spontan saat menatap betapa religinya seorang Al Fatih.


"Bisalah, karena Marsya itu nggak pantas buat lelaki sereligi mas Al." Ujar Rudi.


"Berarti aku juga nggak pantas ya, untuk mas Al." Ucapnya sedih.


"Tentu tidak sayang. Karena kamu pantasnya sama abang Rudi yang ganteng ini." Ucap Rudi dengan gaya merayu Alista.


Raut wajah sedih Alista seketika berubah jadi senang lagi. "Abang adalah anugerah terindah yang Allah berikan untukku."


Alista memuji calon suaminya itu. Dan pujian itu membuat Rudi merona.


"Cie cie, yang lagi asyik berduaan!" Seru Auri dari atas.


Dia dan Al sedang melangkah turun untuk menemui tamu istimewa mereka.


"Kak Auri." Panggil Alista.


Matanya berbinar binar saat menatap wajah yang dirindukannya itu. Hingga begitu Auri tiba di lantai bawah, Alista langsung menghambur dalam pelukan sang kakak.


"Rindu banget sama kakak." Ucapnya manja.


"Kakak juga rindu." Balas Auri.


Al sudah duduk di dekat Rudi. Dan mereka pun saling menyapa dan sama sama tersenyum melihat Auri dan Alista saling berpelukan melepas rindu.


"Kapan nih nikahannya?" Tanya Al pada Rudi.


"IsyaAllah awal bula depan, mas. Tapi, tanggalnya belum tau. Ini rencananya kita mau ke rumah Papa untuk mendiskusikan tanggalnya." Tutur Rudi menjelaskan.


"O gitu. Jadi, kalian juga mau ke rumah Papa, nih?"


"Iya, mas." Jawab Rudi.


"Barengan aja ke rumah papa. Kita juga mau ke sana." Ujar Auri ikut menimpali obrolan mereka.


"Iya barengan aja. Satu mobil aja." Ucap Alista menyarankan.


Sebentar Al dan Rudi saling menatap, lalu mereka tersenyum dan kemudian mengacungkan satu jempol masing masing pada dua wanita yang sangat mereka cintai itu.


"Asyik, kita kerumah papa barengan."

__ADS_1


Alista tersenyum girang dan kembali memeluk Auri.


__ADS_2