
Acara pesta pun akhirnya selesai. Al dan Auri kini sudah berada di kamar hotel yang disewa oleh Papa untuk mereka menikmati malam pertama mereka. Dan saat ini Al sedang melantunkan doa, setelah mereka melaksanakan sholat isa berjamaah. Auri pun mengaminkan doa doa itu di belakang suaminya.
Setelah selesai berdoa, Al pun berbalik untuk berhadapan langsung dengan Auri. Lalu, Auri mencium punggung tangan suaminya yang dibalas dengan kecupan hangat didahinya.
"Assalamualaikum, istriku." Ucap Al sambil tersenyum menatap wajah cantik Auri yang bisa dilihatnya tanpa harus terhalang kain cadar lagi.
"Waalaikumsalam, suamiku." Jawab Auri agak canggung.
Kemudian, Al pun meraih tubuh Auri untuk dipeluknya. Lalu dia membisikkan sesuatu di telinga Auri hingga membuat wajah Auri merona.
"Sebentar, mas. Aku mau membereskan mukena dan sajadah dulu. Setelah itu…" Auri tersenyum malu malu.
"Setelah itu, kita…"
Cup…
__ADS_1
Al langsung mencium bibir Auri dengan cepat. Lalu, dia pun berdiri dan melepas peci hitam dikepalanya. Sedangkan Auri menahan malu sambil meneruskan pekerjaannya membereskan mukena dan sajadah untuk di simpan kembali di tempat semula.
"Aku sangat mencintaimu, sayang!" Seru Al yang langsung memeluk Auri dari belakang.
Awalnya Auri merasa aneh dan agak risih. Tapi, kemudian dia pun mulai merasa nyaman dan hangat menerima pelukan suaminya itu.
Auri kembali terperanjat kaget, begitu Al dengan tiba tiba menggendobg tubuhnya.
"Mas, aku berat loh." Ucapnya malu.
"Aku tidak akan menunda meski hanya beberapa menit saja, sayang. Aku akan meluapkan segala rasa cinta dan rinduku padamu malam ini juga." Ucap Al sambil membelai rambut hitam nan bergelombang milik Auri.
Auri tidak menjawab apapun. Karena saat ini dia merasa sesak dan detak jantungnya berdegup lebih kencang dan lebih cepat dari biasanya. Dia hanya sesekali membasahi bibirnya yang terasa kering dengan ujuang lidahnya.
Al memulai dengan mencium kening istrinya, lalu mencium kedua kelopak matanya bergantian, pindah ke hidup, pipi dan berakhir di bibir Auri yang terasa basah dan sedikit gemetar.
__ADS_1
Senyum Al mengembang saat mengetahui istrinya sedang gugup saat ini. Dia pun akhirnya berbaring telungkup di samping tubuh istrinya. Setengah badannya sudah menindih tubuh Auri, meski masih berpangku pada kedua tangannya agar tidak terlalu kuat menindih tubuh istrinya itu.
Mata Auri terpejam dengan eratnya. Al menatap wajah itu lekat lekat dan kemudian kembali menempelkan bibirnya di bibir istrinya. Tidak berhenti sampai disana, Al juga mulai menyentuh leher, dan berlanjut pada tempat tempat lain, hingga membuat Auri sedikit melenguh kaget.
Mulutnya terbuka seketika saat merasakan sentuhan tangan Al diberbagai tempat. Dengan cepat Al mengambil kesempatan itu untuk menjelajahi mulut Auri.
Napas keduanya semakin memburu. Hingga mereka pun hanyut dalam sentuhan sentuhan seperti aliran listrik yang menyengat, sehingga membuat tubuh terasa lemah namun juga merasakan candunya.
Malam yang bisu menjadi saksi penyatuan dua hati yang saling mencintai dan merindukan itu. Penyatuan itu, membuat hati keduanya terasa lebih lega, seakan segala beban luka, sedih dan sakit sirna seketika. Yang ada hanya mereka dengan segala keindahan dan kenikmatan yang mereka rasakan.
Bukan hanya sekali penyatuan itu, tapi entah sudah beberapa kali. Al benar benar terbuai dengan keindahan dan kemolekan tubuh istrinya. Begitupun sebaliknya, Auri tidak meminta Al berhenti, dia suka dan merasa nyaman saat Al menyentuhnya dengan sangat lembut dan penuh kasih sayang. Sentuhan seperti ini belum pernah dirasakan Auri sebelumnya.
Air mata keduanya menetes di akhir penyatuan mereka. Al memeluk erat tubuh Auri dan menyelimuti tubuh lelah itu dengan selimut yang sama dengannya. Dan Auri, meringkuk manja dalam dekapan Al. Dia terlihat seperti bayi kecil di mata Al Fatih.
"Aku akan berusaha untuk membahagiakan kamu. Aku akan berusaha menjadi imam yang baik untukmu dan anak anak kita kelak. I love you, sayangku." Mengecup kening istrinya.
__ADS_1
Tidak ada jawaban dari Auri. Dia tidak menjawab, bukan karena sudah tertidur pulas. Tapi, dia merasa malu dan juga terharu. Sehingga yang bisa dia lakukan hanya menyembunyikan wajahnya di dada suaminya yang polos tanpa alas.