
"Maafkan saya, buk. Saya sangat merindukan mama. Bertemu dengan ibu membuat saya merasa seakan mama ada didekat saya." Ungkap Auri saat usai menangis.
"Hari ini saya banyak menangis. Entah mengapa suasana hati saya begitu terasa sedih." Tersenyum malu.
"Sabar adalah kunci hidup bahagia. Percayalah nak, Allah menguji seorang hamba sesuai dengan kemampuan hambanya. Dan semakin banyak ujian yang datang menunjukkan bahwa iman orang tersebut sudah berlevel tinggi. Jika mampu menghadapi semua ujian tersebut dengan sabar, tawakal dan berserah pada Allah, maka hadiahnya adalah syurga." Nasihat ibu menyejukkan hati Auri.
"Ibu maafkan saya, tapi saya harus mengantar ibu ke kamar sekarang juga. Ini perintah dari mas Al." Rudi menyela perbincangan mereka.
"Baiklah, semoga Allah mempertemukan kita kembali, nak Auri." Ucap Maryam.
"Semoga ibu sehat selalu." Mencium punggung tangan Maryam.
Setelah itu, Rudi langsung mengantar Ibu kekamarnya. Kemudian Rudi kembali ke kamar mereka.
"Kenapa kalian tidak membangunkan kami?" Rutuk Endah yang saat bangun, Rizki sudah tidak ada disampingnya.
Sedangkan empat lainnya hanya bersungut kesal menatap pada Auri dan Rudi. Mereka kembali tidur dengan perasaan kecewa dan ingin marah karena tidak diikutsertakan dalam tugas rahasia ini.
Berbeda dengan mereka. Saat ini Al sudah tiba di kamar Haris. Dia membaringkan Rizki dan mencium keningnya untuk sebentar. Kemudian, Al kembali ke hotel tempat ibunya menunggu.
__ADS_1
"Rizki sudah aman, nak?" Tanya ibu saat Al tiba.
"Sudah, buk. Besok pagi pagi kita langsung kembali ke Jakarta. Haris akan langsung membawa Rizki ke Jakarta malam ini juga." Jelasnya.
"Kenapa harus malam ini, nak. Bagaimana kalau tiba tiba Haris mengantuk saat nyetir, kan bisa bahaya."
"Ibu yang tenang ya. Tugas kita berdoa semoga Haris bisa membawa Rizki ke Jakarta dengan selamat." Merangkul ibunya untuk memberi rasa tenang.
"Ah iya, bentar ya buk. Al mau menelpon Rudi dulu." Mengambil hp dan langsung menghubungi Rudi.
"Rud, apa Auri sudah tidur?"
"Bisa izinkan saya bicara dengannya sebentar?"
Dengan perasaan agak berat, Rudi terpaksa memberikan hp pada Auri dan menintanya bicara dengan Al.
"Ada apa, ya?" Tanya Auri agak jutek.
"Pukul berapa kalian ke Jakarta, besok?"
__ADS_1
"Ba'da zuhur, inshaa Allah. Kenapa ya?" Masih jutek.
"Tidak apa. Aku hanya ingin memberitahu, resepsionis di lobi adalah fansku..."
"Lalu apa ada kaitannya dengan saya?" Merasa kesal tampa alasan.
"Harusnya kamu dengarkan aku bicara sampai selesai." Ujar Al yang ikut tersulut emosi. "Maksudku, kamu harus hati hati melewati mereka. Aku hanya tidak ingin besok photo kita mengisi semua siaran tv karena berada di hotel yang sama. Mengerti?" Jelas Al dengan nada kesalnya.
"O gitu, Ok. Aku tidak akan mencemarkan nama baik seorang bintang papan atas seperti anda." Auri mengatakan itu agak berteriak dan langsung menutup panggilan tersebut.
Rudi melihat Auri kesal seperti malah tersenyum. Karena Auri saat marah terlihat menggemaskan.
"Kenapa, Rud?" Tanya Auri menatap tidak nyaman pada Rudi
"Kamu menggemaskan kalau lagi kesal seperti itu." Tutur Rudi.
"Astaghfirullah, Rudi. Jangan ulangi lagi mengatakan hal itu padaku. Dan jangan menatapku seperti itu. Aku tidak suka Rudi. Kamu tahu, meski kita sudah seperti saudara, tetap sajakan, setan akan menggoda kita disetiap kesempatan." Rutuknya berterus terang.
"Maafkan aku Auri. Aku memahami itu. Terimakasih telah mengingatkan." Rudi langsung berbaring disampir Digo dan menutup wajahnya dengan kain sarung.
__ADS_1
Auripun akhirnya kembali berbaring disebelah Endah. Dia memejamkan mata setelah berdoa dan membaca tiga surah serta surah Alfatihah. Tidak lupa Auri juga membaca sholawat dan berdoa untuk semua saudara seiman. Setelah melafalkan semua itu, Auri mengusapkan kedua tangannya kewajah dan seluruh tubuhnya. Barulah benar benar tertidur dengan nyaman tampa rasa khawatir.