
Aku tidak berkutik, mati gaya, malu, dan kebingungan, seakan semua kepercayaan diri yang aku miliki telah hilang tidak tersisa.
Dimana melihat Sina melambai, mengarahkan ke meja sebelah. Aku tertawa, menertawakan diriku sendiri, karena tampak bodoh melakukan hal yang tidak lucu sama sekali.
"Maaf aku salah mengantarkan ini." Kata aku dengan menahan rasa malu.
"Tak apa ." kembali Rea tersenyum dengan indah.
Rea tersenyum mungkin untuk menahan tawa, aku sendiri menahan semua kepercayaan diri yang tersisa dengan segenap kekuatan didalam jiwa.
Satu demi satu, aku menarik kembali semua makanan dan mengantarkan meja sebelah.
"Maafkan aku atas yang tadi nona, " Kata aku yang berdiri di samping Rea dan masih saja tertawa.
"Sungguh kau orang yang aneh." Kata Rea dengan tersenyum manis, kecantikan yang terpancar mampu menyilaukan mata semua orang, terlebih kepadaku.
Nafas naik turun tidak terkendali, seakan separuh nyawaku sudah diambil oleh senyuman dari Rea.
"Ya mungkin itu sudah menjadi salah satu kelebihan yang aku miliki ". Balas aku menjawab pertanyaan Rea sebagai candaan.
"Jadi apa yang akan Anda pesan nona, apa seperti kemarin." Kata aku dengan mempersiapkan catatan ditangan.
"Ya seperti biasa, karena itu sudah menjadi kegemaran ku." Jawab Rea dengan suara lembut.
"Baiklah, satu pohon apel dengan pot, perlu ditambah pupuk urea, atau pupuk kandang, aku sarankan pakai pupuk kandang saja, biar lebih bernutrisi." Kata aku mengulangi candaan dipertemuan yang lalu.
Rea tertawa, aku bisa merasakan kehangatan dari suara lembutnya dan tangan yang mencoba menutupi mulut indah itu.
Sejenak aku arahkan kamera kepada Rea, aku memotret Rea, keindahan senyuman dari wanita yang aku kagumi, seperti sebuah tawa yang telah ditahan untuk bebas.
Berselang beberapa waktu untuk mengambil pesanan Rea, dan sudah siap untuk diletakkan ke atas meja.
"Jadi kenapa kau hanya bekerja disaat minggu saja." Kata Nona yang bertanya tanpa memandang ke arahku.
__ADS_1
"Ah aku tidak bekerja di sini, hanya membantu, dipaksa oleh seseorang untuk membantu, lebih tepatnya." Jawab saat mengantarkan makanan kepada Rea.
"Sepertinya berat untukmu." Jawab Rea dengan senyuman manis yang mampu membuat diabetes siapa pun melihatnya.
"Ya, seperti kerja romusa tentunya."
Masih dengan senyuman Rea, aku memotret Rea lagi, lagi dan lagi, semua tentang diri wanita itu, membuatku bertanya-tanya, sedikit yang aku tahu kalau dirinya memang menyukai apel.
"Tolong bantu aku lagi, tapi sesuaikan ukuranmu untuk memasukkannya ke mulut jangan salah sasaran, daguku bisa lengket nanti ".Kata Nona dengan sedikit cemberut .
"Tenang saja, paling tidak hal yang terburuk adalah ke hidungmu ."Jawab aku membuat Rea tertawa puas.
Aku memang menyukai setiap tingkah Rea, cara dia mengunyah, irama dari giginya, senyuman penuh warna, suara sendu namun indah, dan hembusan nafas perlahan yang menandakan bahwa dia berusaha menikmati hidup, walau terasa berat.
"Sejak tadi aku mendengar suara kamera, apa yang kau lakukan ?." Tanya Rea setelah mengunyah habis kue dari dalam mulut kecil nan imut itu.
"Ah iya, maafkan aku, aku mengambil fotomu tanpa izin ." Walau aku berkata seperti itu, aku tetap memotret Rea.
Di dalam pandangan mata Rea, dia melihat langit dan tersenyum, apa yang dia lihat dari balik kegelapan abadi milikinya itu.
Dan aku tidak bergerak tiap kali terpesona akan kecantikan Rea, sejenak membuatku mengerti tentang hidup yang dia jalani, seperti apa kehidupan rea selama ini, aku ingin melihat semuanya.
*****
Rea tidak jauh berbeda antara aku dengan semua masalahku, tentang apa yang kami berdua rindukan, tentunya, dia wanita yang merindukan langit dan aku merindukan kebahagiaan.
Aku tidak pernah melewatkan sebuah momen kecil tentang betapa kekaguman aku kepada Rea, disenja ujung cahaya redup antara gulungan ombak, teriakan para camar dan sombongnya gunung Fuji.
Aku selalu melihatnya, memotretnya dan mengabadikannya ke dalam bingkai foto. Langkah kaki membuatku ingin bertemu dengan Rea.
Walau siang tadi aku bisa membantu Rea makan dan melihat senyum kecil untuk aku ingat, semakin dekat, hingga aku bisa merasakan aroma tubuh yang kering karena senja, langkah kaki terhenti dibalik tubuh kurus melawan kencangnya angin itu.
"Aku tahu jika itu kau, pelayan aneh ." Kata Re berbicara ketika tubuhnya berbalik menghadap kearah ku.
__ADS_1
"Sejak kapan nona tahu kalau itu aku ." Aku sedikit bingung mendengar perkataan Rea.
Rea tersenyum dan berjalan mendekat secara perlahan, seakan dia bisa melihat dengan kaki yang tidak beralas itu dan kini berhenti tepat dihadapanku.
"Ya sejak aku mendengar suara langkah kaki yang kau lakukan dilantai kafe, bisa aku kenali. " Itu yang Rea katakan.
Walau itu terasa aneh, dirinya bisa mengenal kalau itu aku, hanya karena langkah kaki. Tapi tetap aku percaya dengannya.
Tidak lama Rea mengarahkan tangan ke wajahku, lembut dan mengusap setiap sudut wajah, kemudian tersenyum.
"Apa yang nona lakukan ?." Tanya aku yang merasa geli dengan sentuhannya itu.
"Aku mencoba menggambarkan bentuk wajahmu ". Jawab Rea.
Semakin lama Rea mengusap, lembut tangan kurusnya, aku bisa merasakan, kehangatan yang membuatku tidak bergerak.
"Kau terlihat begitu sedih, apa yang kau pikirkan ?" Kata Rea yang masih meraba wajah.
"Ya sepertinya kau bisa merasakannya." Kata aku saat melihat wajah Rea dari tatapan mata tanpa cahaya.
Dia pun tidak melepaskan sentuhan kecil dari jari-jarinya itu, dia seperti melukis wajahku dengan jari, menggambarkannya didalam ingatan, begitu detail dari setiap lekuk sisi wajah ku ini.
"Tergambar jelas kau terkurung di dalam semua masalahmu, aku bisa merasakannya, wajahmu menggambarkan sesuatu yang membuatmu rindu." Semakin jelas Rea mendeskripsikan bagaimana gambaran ekspresi yang tersimpan dalam wajah.
"Kau tidak salah, ini yang aku miliki sebagai manusia dan lebih dari itu aku tidak bisa menghapuskannya." Kata aku yang tersenyum.
Sebagian besar tentang apa yang aku lakukan hanyalah sebatas mengisi waktu, dan berharap itu bisa menghancurkan masalahku, penjara penuh dengan kepalsuan, saat di mana aku kehilangan rasa bahagia.
Senja perlahan lenyap berganti malam, angin darat berhembus kencang meninggalkan kami berdua dalam masalah yang tidak bisa hilang.
Antara aku, Rea dan dunia, sama-sama kehilangan cahaya, dingin menusuk tulang, gelap menyelimuti cakrawala, sentuhan jari jemari yang tidak lepas dari atas wajah.
Hingga lepas Rea pergi ketika malam tiba, aku terdiam, dan kembali terpaku dalam ingatan lama dimana semua kehidupanku dimulai.
__ADS_1
Saat tidak ada lagi yang tersisa untuk aku jaga dari ikatan keluarga.