
Pernahkah kita berpikir dua kali untuk mengikuti kata hati, setiap hal selalu memberikan sebuah alasan, seperti hari ini, yang aku ingat kemarin baru saja aku kembali dari kuliahku di luar negeri, tapi sekarang aku telah di culik, oleh ketiga adik tercintaku, di dalam mobil dengan aku yang terikat dan tersumbat mulutnya, aku merasa akan terjadi hal yang sangat tidak aku pikirkan, tentu tidak ada orang yang ingin di perlakukan seperti ini, terutama oleh ketiga gadis imut yang sangat keras kepala seperti Nagisa dan Tita, aku bisa mendengar percakapan ke dua gadis itu,
"Nagisa apa semuanya sudah siap, " Bisik seorang dengan suara seperti Tita,
"Ya semuanya sudah di persiapkan secara matang ." Jawab Nagisa dengan serius,
"Baiklah mari kita mulai pestanya ." Ya itu adalah suara dari Tita dengan semangat,
Entah apa yang mereka maksudkan dengan pesta, setidaknya harus ada undangan untuk tokoh utama sepertiku, bukannya di seret paksa seperti penculikan ini, mobil ini terus melaju aku yang tidak tahu apa tujuan mereka berdua, tapi si kecil rin pun ikut tertawa dan aku merasa semua ini adalah hal yang tidak enak untuk di bayangkan,
Pada akhirnya, mobil ini berhenti di suatu tempat dan mereka membuka penutup mulutku dengan kasarnya,
"Tolong, penculik, tolong, tolong ." Teriak aku dengan takutnya,
Ya teriakanku dari dalam mobil ini, semoga terdengar dan ada yang menyelamatkanku, tapi setelah penutup mataku terbuka sosok laki laki berjanggut panjang sudah berdiri di luar jendela mobil ini,
"Apa kalian pikir ini seperti penculikan, " itu suara Noe yang dengan kasihan karena melihatku terikat di dalam mobil ini,
"Ya, jika kau memikirkan hal itu, maka jangan hanya berbicara ." Kata aku dengan teriakan marah,
Noe tersenyum kecut dan kembali berkata,
"Mungkin lebih baik jika seperti ini ." Kata Noe yang tersenyum kecut,
Seketika Noe pergi meninggalkanku dengan keadaan terikat seperti ini, tapi tidak berselang lama Nagisa dan Tita membawaku keluar, melepaskan tali yang mengikat tangan dan kakiku, saat aku turun setidaknya aku sedikit berkata,
__ADS_1
"Memangnya apa yang kalian berdua pikirkan, " Kata aku sedikit kesal,
Tidak merasa bersalah sedikit pun, mereka berdua tersenyum lepas, sedangkan untuk Rin sendiri aku tidak tega mengatakan apa pun, wajahnya terlihat begitu bersalah,
"Rin jangan melakukan itu lagi yah ." Kata aku dengan lembut,
"Ia, kak An ." Jawab Rin dengan menunduk,
Dari belakang sebuah pukulan keras, mendorongku hingga jatuh ke lantai,
"Sina, kenapa kau senang sekali memukulku dari belakang ." Kata aku yang tanpa aku lihat pun aku sudah tahu kalau itu adalah Sina,
"Ah, kau tahu rupanya ." Jawabnya dengan santai,
"Memangnya selama ini siapa saja yang melakukan itu, " Kata aku membalas perkataannya,
"Mau sampai kapan kau akan tidur di lantai ." Kata Ayahku dengan tegas,
Mendengar itu aku langsung saja berdiri, tersenyum kecut melihat tatapan tajam dari ayahku,
"Tidak ayah aku hanya ingin merasakan apa lantai di sini sama seperti di rumah ." Jawab aku dengan asal,
"Oh begitukah, jadi apa bedanya ." Tanya ayahku melihatku tajam,
"Tidak ada ayah ." Jawab aku dengan lemasnya,
__ADS_1
"Bagus, tapi ingat ini di tempat umum jangan terlalu mencolok, memalukan itu ." Balasnya tanpa tersenyum sedikit pun,
Ya tentu saja, aku sendiri tahu kalau tidak mungkin aku mempermalukan diriku sendiri seperti ini, tapi untuk sesaat aku sedikit penasaran dengan apa yang aku lihat, semua sahabat dan keluargaku berkumpul di gedung dua lantai ini, mereka semua sudah menungguku di depan pintu masuk gedung yang bertuliskan 'flower photo galery', aku selalu berpikir semua ini hanya sebatas hal yang selalu di harapkan oleh diriku sendiri,
"Ayo kakak "
Nagisa menarikku untuk melihat apa yang ada di dalam galery, ya sebuah keajaiban, keindahan dan karya seni, ribuan foto yang ibu dan aku miliki terpajang dengan jelas di seluruh bagian gedung, bermacam pemandangan serta ukuran yang berbeda, semua foto itu seperti menyelimuti setiap bagian gedung, ini yang aku harapkan, sebuah kebahagiaan untuk selalu di kenang,
"Ini semua adalah usul dari nagisa dan setiap dana yang masuk untuk pembelian tiket akan di sumbangkan ke yayasan anak ." Suara seorang wanita yang turun dari lantai kedua,
Rea berjalan mendekat dengan gaun indahnya layak seperti putri, memang sejak tadi aku tidak melihat kehadirannya di sini, yang ternyata Rea sudah menungguku di dalam,
"Dan di tempat ini adalah rasa terima kasih kami semua An, karena kamu sudah mengorbankan kebahagiaanmu sendiri untuk kami semua ." Kata Rea dengan senyum menawannya,
Aku sedikit malu mendengarnya, terlebih lagi perkataan langsung dari calon pengantinku,
"Bicara apa kau Rea, kebahagiaanku adalah milikku, kebahagiaan kalian adalah milik kalian juga, jadi hingga sampai saat ini pun semuanya ada karena kita memperjuangkannya bersama, "
"Ya kau benar An, tapi sekarang kebahagiaan ini adalah milik kita semua ."
Setiap orang di tempat ini berkumpul untuk menunjukkan seberapa pentingnya sebuah kebersamaan, karena sebuah kebahagiaan tidak akan tercapai hanya dengan keegoisan diri sendiri, tapi dengan semua tangan yang saling merangkul itulah kebahagiaan datang,
Saat yang paling gelap adalah sebelum fajar datang, tapi jangan pernah tutup mata kita entah setakut apa pun itu , karena kebahagiaan akan datang meneranginya entah kapan selama kita terus berusaha mencari cahaya itu,
MAKA DI SAAT ITU KITA MULAI MERANGKAI KEBAHAGIAAN,
__ADS_1
SELESAI