
Wajahnya sangat terpenuhi emosi yang rumit, mungkin separuh dari kesedihan itu memanglah adalah perasaan rindu dan separuh lagi adalah rasa marah yang dia pendam, aku bisa tahu itu dari hangat telapak tangan Rea ini,
"Kenapa beberapa hari ini aku selalu bertemu wanita yang sedang menangis ." Bertanya kembali kepada diriku sendiri.
tidak ada jawaban dari siapa pun, hanya melihat Rea terus terisak dan membiarkan air mata otu mengalir, sedangkan tangan Rea tidak sedetik pun terlepas untuk mengusap ke seluruh wajahku,
"Nona, jika kau terlalu sering mengusapnya, nanti wajahku bisa kendur ." Kata aku dan dia tetap tidak memedulikan apa yang aku katakan, aku menghentikan tangannya, memegang erat Rea dan berkata,
"Kenapa denganmu, tidak biasanya aku melihatmu seperti ini." Bertanya aku kembali,
Dia tidak menjawab dan aku sendiri tidak mungkin memaksa untuk bertanya dengan keadaan Rea yang seperti sedang bingung, aku mencoba tetap tenang, membuat Rea duduk dan ku selimuti dengan jaket yang aku pakai, melihat Dia yang masih terisak, aku tidak ingin menanyakan apa pun, kami berdua hanya diam, tangannya mencari tanganku, dia genggam dengan erat.
ketika suara tangis sudah tidak lagi terdengar, aku melihat, mata itu memang tidak memancarkan kekosongan tapi semua hal tergambar di dalamnya, bagaimana dia memperlihatkan betapa dia begitu sedih,
"Nona, apa ada yang salah." Mencoba aku bertanya kepadanya,
"Aku tidak ingin membicarakannya dulu, " Jawabnya dengan wajah murung,
Ya aku tidak memaksa untuk Rea menceritakan setiap hal yang menyangkut tentang dirinya, tentu saat ini mengetahui betapa sedihnya dia, aku sadar bukan hal mudah untuk membuat Rea bercerita tentang masalah itu.
"Baiklah, untuk saat ini lebih baik kau tidur di rumahku dengan Nagisa ." Kata aku melihat betapa dia bersedih,
Aku menarik tangannya dan dia mengikuti langkahku yang berjalan ke rumah, dia seperti menggigil, wajahnya lemas dan bahkan tidak memiliki semangat seperti yang biasa aku lihat, genggaman erat tangannya membuatku mengerti, dia ketakutan, bahkan selama aku mengenal dia mungkin untuk pertama kali aku melihatnya rumit.
"Kenapa semua ini terjadi padaku ." Gumamku dalam pikiran,
Aku berpikir demikian, saat sebuah masalah datang, kenapa hal ini terjadi juga kepadaku, walau sedikit menyusahkan tapi biarlah, karena semua pasti ada jalan keluar di kemudian hari.
Sampai di depan rumah aku baru sadar kalau kunci pintu sudah tidak ada di dalam saku, mungkin terjatuh karena menangkap Rea ketika jatuh.
"Aaahhh sungguh menyebalkan ." Rasanya aku seperti ingin memukul pintu di depanku ini,
__ADS_1
Kesialan ku bertambah satu lagi, jadi mau tidak mau aku harus membangunkan Nagisa, aku mengetuk pintu,
"Nagisa, bangun Nagisa kakak di luar ."
Berulang kali, mungkin sudah lima menit tidak ada jawaban kalau dia bangun, sekali lagi aku mengetuk pintunya,
"Oi nagisa kakak terkunci di luar, bangun Nagisa, "
hal terpenting adalah tidak mengganggu tetangga karena bisa jadi masalah jika mereka melihatku bersama dengan Rea di tengah malam begini, tapi untungnya suara langkah kaki terdengar mendekat dan berkata,
"Kakak, kenapa keluar malam malam begini ."Kata Nagisa sedikit lemas,
Dari dalam Nagisa memutar pintu, secara perlahan terbuka wajah nagisa yang imut sedikit mengantuk, tapi bukan sambutan hangat atau pun sejenisnya yang aku dapatkan satu tamparan keras tangan tepat mengenai pipi.
"Kenapa kau membawa pulang wanita malam-malam begini, apa yang kau lakukan ." Kata Nagisa dengan sedikit marah,
Setelah menampar bahkan dia akan menutup kembali pintunya, tapi aku menahan dengan kaki,
Kakiku terjepit dengan keras, bahkan mungkin sudah mati rasa menahan jepitan pintu ini,
"Benar begitu, " Bertanya Nagisa dengan sedikit melihat keluar,
"Yang jelas cepat buka pintunya, kakiku mungkin bisa patah jika kau terus menjepitnya ." Kata aku sedikit memohon,
Nagisa mau mendengarkan penjelasanku, kalau tidak kaki ini mungkin sudah mengalami patah tulang,
"Jadi apa itu benar ." Bertanya Nagisa melihatku kesakitan,
"Benar, kakak tidak bohong ."
Nagisa melihat wajah Rea yang mengumpat di balik punggungku, sepertinya memang Nagisa menyadari apa yang tengah terjadi kepadanya memanglah bukan sebuah kebohongan, aku berjalan masuk, Rea tetap tidak melepaskan genggaman dari tanganku, sifatnya menjadi berbeda saat pertama dia datang ke rumah ini.
__ADS_1
aku masih ingat seperti apa semangatnya, seperti apa senyuman di wajah Rea dan seperti apa perkataan yang dia ucapkan saat adikku berbicara, tapi sekarang dia hanya bisa terdiam dan bersembunyi di belakangku.
akankah aku bisa menghapuskan kesedihan itu, sedangkan melepaskan beban di dalam diriku sendiri atau pun masalah Rina saja, aku masih belum mampu, sungguh semua ini menjadi semakin rumit,
Tidak berselang beberapa lama, Nagisa membuat Rea beristirahat di kamarnya, bahkan untuk melepaskan tanganku saja di perlukan sebuah kesabaran, untuk sesaat aku menemani Rea tidur dengan duduk di sampingnya.
setelah dia terlelap, aku lepaskan, wajah yang aku lihat masih tetap meneteskan air mata, gambaran kesedihan yang sangat dalam, walau pun begitu aku masih belum tahu kenapa dia menjadi seperti ini,
Aku keluar kamar, melihat Nagisa yang sedang duduk di meja makan dengan wajah yang sedikit mengantuk, tapi nagisa bertanya kepadaku,
"Kenapa dengan mbak rea, kak ?."
Aku menarik kursi di depannya dan duduk untuk menjawab pertanyaan dengan singkat,
"Aku pun tidak tahu ." Itu jawabanku,
Nagisa menghembuskan nafas yang begitu lemas dan kembali bertanya,
"Hmmm, jadi apa yang akan kakak lakukan ."
Aku pun sedikit pusing memikirkan beberapa hal di saat ini dan aku menjawab dengan sedikit ragu,
"Entahlah, tapi pasti kakak akan membatunya bagaimana pun caranya ."
"Yang jelas jangan terlalu memaksakan diri kakak, kakak masih punya masalah yang harus di selesaikan ."
Nagisa sepertinya memang masih memikirkan hal itu, ya beberapa masalah yang aku hadapi,
"Ya aku tahu kok, jadi kau tidurlah nagisa, besok ada ujian, "
"Ia kakak ."
__ADS_1
Melihatnya berjalan sedikit mengantuk, masuk ke dalam kamarnya, aku sendiri mungkin akan segera tidur karena melihat jam sudah menunjukkan angka setengah dua malam, ya ini ujian yang harus aku selesaikan, tidak seperti ujian sekolah yang setiap pertanyaan pasti memiliki jawaban, hidup penuh pertanyaan yang kadang tidak ada jawabannya.