
1 tahun kemudian,
Untuk semua sahabatku,
Entah apa yang ingin aku sampaikan, aku sendiri tidak pandai menyampaikan perasaan lewat tulisan, tapi ini mungkin sudah kertas ke dua puluh yang telah aku sobek hanya untuk menyampaikan kepergianku, tanpa memberitahu apa pun, hanya aku tidak bisa melihat wajah sedih semua sahabat yang menangis jika aku katakan tentang keputusanku saat ini,
Aku sendiri sadar kenapa aku begitu egois saat memutuskan segala sesuatunya, kau boleh marah Sina, aku tahu mungkin kau akan mengatakan aku bodoh dan memukul meja kelas, tapi jangan berlebihan karena aku takut meja itu tersakiti oleh kemarahanmu, aku memang bukan siapa siapa dulu, bahkan aku sendiri tidak mengerti tentang diriku sendiri, tapi setelah melihat setiap semangat hidup dan perjuangan para sahabat terbaikku aku sadar, aku tidak pantas mengeluh dengan semua kelebihan yang aku miliki,
Noe, ya kau sahabat terbaikku, sejak kecil hingga saat ini aku tidak pernah berpikir kau itu bodoh, hanya sedikit berharap agar kau lebih banyak berusaha untuk tidak menganggap dirimu sendiri bodoh, di sisi lain dirimu sendiri, aku tidak mungkin bisa melupakan semua kebersamaan kita bahkan hingga kemarin kau adalah pahlawan untukku,
Sina, kau yang paling dekat denganku, kau yang memperlihatkan keindahan dunia di balik semua penderitaan yang aku tanggung dalam hidupku, kau yang paling marah atas keegoisanku saat ini, tapi aku tidak mungkin melupakan dirimu, kau adalah penyelamatku,
Rina, aku merasa seperti baru kemarin mengenalmu, menyemangati perjuangan dan semua harapanmu, aku tahu di balik sikap pesimis dan pemalumu itu kau adalah yang berjuang paling keras dari semua ini, karena kamu aku tahu seberapa tidak bergunanya aku di hadapanmu,
Dan semua sahabat di kelasku yang tidak mungkin aku ceritakan semuanya, aku tidak mengerti tentang caranya bersahabat dengan benar tapi mengenal kalian aku tahu apa arti persahabatan itu,
Semua yang aku alami di kehidupanku aku merasa beruntung dan jika aku berikan sebuah hadiah maka hanya semua foto ini adalah hartaku,
Aku tidak mungkin meminta banyak karena aku sendiri tidak memberikan hal berharga kecuali kenangan dan aku hidup untuk menjaga hal berharga itu hingga saat ini,
Semoga saat di mana aku kembali ke kota ini, aku masih bisa merasakan kehangatan dari semua sahabatku,
Untuk segalanya, semoga kebahagiaan ini abadi,
Assalamualaikum, sahabat kalian,
Yoan Alfarizi, "
Untuk beberapa hal aku tidak bisa mengatakan ini secara langsung, tepat sebelum upacara kelulusan aku datang ke sekolah jauh lebih pagi dari biasanya, jam 6 pagi, ya untuk anak sekolah itu adalah hal biasa, tapi aku tahu ini alasanku agar tidak terlihat oleh teman kelasku, aku sempatkan surat dan semua foto kenangan di atas mejaku, sedikit menyedihkan memang tapi aku akan merasa berat jika harus bertemu dengan semua orang sebelum aku pergi , hanya beberapa menit di dalam kelas, berkeliling memutarinya dan keluar, sosok laki laki dengan wajah bodohnya sudah berdiri di luar kelas, melihatku serius dan berkata,
"Jadi apa kau yakin dengan keputusanmu, " Kata Noe yang berdiri seperti menantangku,
Aku memang tidak bisa membohongi sahabat baikku , bahkan di balik senyumku dia pasti sadar betapa beratnya aku harus meninggalkan semua ini,
"Ya, tentu dan ini yang harus aku lakukan ." Jawab aku dengan tatapan serius
"Kau memang bodoh An ." Balasnya dengan menatap serius pula,
__ADS_1
"Aku memang bodoh, " Aku mengakuinya,
"Jadi boleh aku pukul kau sekali saja ." Kata Noe sudah mengepalkan tangannya,
Tanpa menunggu jawabanku langsung dia menghantamkan pukulannya tepat di pipi sebelah kiriku,
"Aku belum mengatakan ia, tapi kau tetap melakukannya ." Teriak aku menahan sakit dari pukulan Noe,
"Ya, karena aku juga bodoh ." Jawab Noe dengan tersenyum,
Aku berjalan melewatinya, berhenti sejenak membelakangi dan berkata,
"Sampai jumpa kawan, aku akan selalu merindukanmu ." Lambai tanganku tanpa melihat wajah Noe,
"Ya, sampai ketemu nanti setelah kau lulus ." Jawabnya yang pasti dia tersenyum untuk menyembunyikan tangisannya,
Aku melanjutkan langkahku, pergi meninggalkan dia tanpa melihatnya kembali, karena memang hal yang paling berat adalah melepaskan sesuatu dan tidak yakin dengan diri kita sendiri, tapi aku menerima ini semua,
Tapi belum sampai aku keluar untuk meninggalkan sekolah dan masuk ke dalam mobil yang tentunya akan membawaku ke rumah dan langsung menuju bandara, sekumpulan orang bodoh menghadangku di depan gerbang sekolah, salah satunya berteriak,
"Maaf, bukan aku mencampuri urusanmu An, tapi ...." Itu suara Rina dan di lanjutkan setelah dia menarik nafas dalam,
"Kau memang bodoh, bahkan setelah menyelamatkan hidupku, aku belum sempat membalas semua kebaikanmu An ." Teriakan itu sudah lebih keras,
Satu kelas sudah berdiri seperti memberikan upacara perpisahan untuk diriku sendiri, aku mengarahkan kameraku ke semua sahabat satu kelasku ini, setelah memotretnya aku berkata,
"Tidak perlu bersedih, aku yakin kita akan menemukan kebahagiaan untuk diri kita sendiri dan di saat kita berhasil mendapatkannya, aku akan ada di sini, tepat di hadapan kalian semua dan mengatakan
"TERIMA KASIH, TERIMA KASIH, TERIMA KASIH SUDAH MENYELMATKAN AKU DAN MEMBERIKAN KEBAHAGIAAN UNTUKKU DI SINI ."
Aku menjerit dengan semua air mata yang terbendung di dalam hatiku,
Aku tidak ingin di liat oleh mereka, kalau seorang An menangis dan itu sungguh sangat memalukan, bahkan dari belakang sebuah tepukan buku tebal seorang ibu guru lajang itu membuatku sadar saat dia berkata,
"Kau akan tetap menjadi bodoh An dan kembalilah kapan pun, karena ibu siap melemparkan semua buku yang ibu beli ke arahmu ." Kata Ibu guru dengan senyuman,
Aku masih menangis, tidak hentinya, seperti memang aku yang dulu harusnya tahu bahwa kebahagiaan itu dekat, sedekat mata melihat, sedekat jantung berdetak dan sedekat perasaan ini sudah aku miliki sejak dulu, saat aku pergi aku bergumam,
__ADS_1
"Ya, kawanku aku bahagia, bahkan aku bahagia bisa menjalani kehidupanku bersama dengan semua ini ." Gumamku meninggalkan setiap kenangan indah yang di antarkan oleh senyum kesedihan semua sahabatku,
Saat di bandara, ketika suara yang mengumumkan keberangkatan pesawatku sudah berkumandang layaknya bel masuk sekolah dengan lagu pemuda pemudi, sosok wanita yang berjalan dengan tongkatnya mendekat kepadaku, ya dia adalah Rea, aku menghampirinya, menggenggam tangannya dan berkata,
"Kenapa kau ke sini, bukankah hari ini adalah hari operasimu, " Kata aku melihatnya dengan perasaan bingung,
"Aku tidak peduli, kenapa kau tidak mengatakan apa pun kalau hari ini kau berangkat, " Kata Rea yang semakin erat menggenggam tanganku,
"Aku tidak ingin kau cemas, " Kata aku dengan melihat wajahnya penuh kesedihan,
"Tapi, aku lebih tidak ingin jika hanya bisa menyesal karena tidak mengantarkanmu ." Jawab Rea,
Ya di belakang sana Nagisa, Tita dan Rin berdiri melihatku dengan tersenyum, ya semua kejadian di hari ini mungkin adalah rencana dari mereka,
"Aku seperti di kalahkan oleh adikku sendiri, " Gumamku di dalam hati,
Di saat aku sendiri tidak tahu apa yang ingin aku katakan kepada Rea, dengan sendirinya Rea melepaskan gelang yang melingkar di tangan kirinya, memasangkan ke tangan kiriku,
"Aku tidak memberikan gelang ini untukmu, tapi aku pinjamkan kepadamu, jadi aku harap kau bisa mengembalikannya kepadaku ."
"Ya, 4 tahun, maka tunggulah aku ." Janji untuk Rea dengan genggaman tangan kuatku,
"Pasti aku akan menunggumu ." Jawab Rea tersenyum kepadaku,
Panggilan terakhir untuk keberangkatan ke paris sudah berkumandang, aku tidak bisa lebih lama lagi menghabiskan waktuku untuk Rea, tapi janji untuknya adalah kepastian di mana aku akan kembali untuk dirinya,
Aku tidak akan menutup mataku,
Atau pun melepas pandanganku dari masa depan,
Walau itu adalah hari di mana gelap malam membuatku ketakutan,
Aku yakin, kebahagiaan ini akan membawaku pergi dari semua itu,
Dan aku percaya, tidak selamanya gelap di dalam kehidupanku,
Maka aku tidak ingin menutup mata ini.
__ADS_1