Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
pahlawan


__ADS_3

Sepertinya apa yang aku lakukan, sudah membuat Rina menjadi lebih tenang dan di saat kami sampai ke tempat parkir, jam sudah ke arah delapan lebih tiga puluh lima menit dan bunyi bel tanda di mulainya ujian jam pertama sudah berbunyi, kami berlari tanpa memedulikan semua guru yang baru ingin memasuki ruangan ujian berlangsung,


"Ayo cepat Rina ." Teriak aku menarik tangan Rina,


"Ia An ." Jawabnya dengan wajah gugup,


Akhirnya kami sampai di ruangan ujian kami berdua dan di setiap pandangan mata dari teman satu kelas seperti melepas lega melihat sosok pahlawan yang di tunggu akhirnya datang,


"kalian silakan masuk dan persiapkan semua keperluan ujian ." Kata Ibu guru cantik yang siap dengan lembar soal.


Kami berdua berjalan dengan santai karena semua yang membuatku khawatir adalah Rina tidak datang ke sekolah untuk ujian, telah menghilang dan itu sangat dramatis.


mencoba duduk dengan santai di bangku belakang kelas, melihat Rina yang sudah tenang untuk menghadapi lembaran kertas yang menentukan harapan dalam sebuah perjudian, dimana dia akan menentukan seperti apa nasib di masa depan. tapi dengan kerja kerasnya selama ini, sedangkan untukku ini adalah sebuah penebusan dosa, tentang apa aku memperjuangkan harapan seseorang dan membuatnya berhasil agar aku bisa memaafkan diriku sendiri.


ketika lembaran soal yang terbuka ini bertuliskan semua pertanyaan, tentang ilmu sains, pengetahuan alam dan semua teori yang pernah di pelajari, untukku sendiri ini semua hanya seperti mengulang pertanyaan yang sudah aku hafal jawabannya, di dalam perjudian ini kami hanya memiliki batas waktu 90 menit, pena yang akan menuliskan jawaban dan otak yang berpikir untuk memberikan jawabannya.


tentu ini tidaklah lebih sulit, jika kita harus menyelesaikan sebuah masalah dalam kehidupan, karena di dalam kehidupan tidak ada satu pun jawaban pasti untuk di tuliskan,


Secara malas aku melihat jam yang masih tersisa empat puluh lima menit dan itu sudah membuatku bosan, bahkan untuk mengikuti langkah dari detik per detik di jam dinding di sana pun tidak memuatku merasa mudah untuk membuang waktu,


"Apa kau sudah selesai Yoan."


Suara lembut ibu guru dari belakang, membangunkan aku dari lamunan, dengan ciri khasnya menempatkan buku tebal 300 halaman 'cara mengatasi murid bermasalah ' di atas meja. aku yang sudah biasa menatap buku itu, tidaklah terkejut hanya membalas apa yang dia katakan,


"Ya, sepertinya begitu, " Balas aku dengan nada malas,


"Apa kau sudah mengecek ulang."


Dia bertanya kembali kepadaku, aku dengan santai menjawabnya,


"Jika harus ada yang di cek lagi adalah semua masalah di hidupku ibu guru ." Jawab aku tanpa melihat ke arah Ibu guru ini,


"Jika kau berkata seperti itu, berarti semua sudah kau kerjakan ." Kata Ibu guru dengan lembutnya,

__ADS_1


Aku membalas perkataannya lagi,


"Yang belum aku kerjakan mungkin masalahku juga ibu ."


Tentunya aku tidak berharap untuk melihat ibu guru marah, hanya saja apa yang aku katakan seperti menyalakan sumbu dari meriam emosinya.


"Kenapa hidupmu di penuhi masalah ." Kata Ibu guru menghela nafasnya yang begitu berat,


"Ya mungkin karena aku hidup, manusia di dalam kehidupan akan terus memiliki masalah, " Kata aku semakin membuat Ibu guru ini merasa kesal,


"Ibu tidak ingin mendengar kata bijak darimu, karena ibu sendiri memiliki masalah ." Tentu aku sendiri pun mengerti,


Aku sedikit bertanya, "Memang apa masalah ibu, " Bertanya aku dengan melihat Sang Ibu guru.


"Karena kau hidup ." Katanya dengan melihatku tajam.


"Tentunya jika ibu mengharapkan aku mati, aku tidak bisa mengabulkannya, dan jika ibu membunuhku itu adalah tindakan kriminal." Jawab aku membuatnya semakin marah,


"Sudah cukup, cepat kau keluar." Teriaknya dengan tangan sudah siap di buku tebal di tangan.


karena manusia hidup akan terus di liputi semua masalah, sungguh sederhana, ya tapi menjengkelkan.


Seperti ini dan seterusnya hingga jam kedua ujian sudah mendekati akhir dan masih saja aku terlamun untuk membuang waktu setelah semua pertanyaan dari pelajaran bahasa Indonesia sudah aku selesaikan setengah jam yang lalu,


"Aahh membosankan ." Gumamku dengan menghembuskan nafas berat,


Hanya sekilas aku memperhatikan setiap orang yang masih saja sibuk dengan penghapus dan pensil mereka semua, Rina pun tidak lepas dari perhatianku, dia masih menulis dan menghapus, terdiam dan berpikir kembali, menulis lagi dan menghapuskannya lagi.


sungguh rutinitas yang bisa di tebak, sedangkan manusia dimeja sampingku terlihat sangat kebingungan, mungkin dia bingung karena penghapusnya sudah habis untuk menghapus semua tulisan yang salah dia jawab, jika bisa seharusnya bukan jawaban yang perlu di ganti tapi otaknya itu harus di perbaiki.


aku bisa melihatnya uap panas karena Noe memaksakan otaknya itu bekerja keras hingga kelebihan beban,


Suara bel berbunyi yang berarti ujian hari ini telah selesai, melihat Noe yang tergeletak lemas dengan berkata,

__ADS_1


"Akhirnya selesai ." Katanya melemaskan semua ototnya yang tegang.


Di saat dia tidak bisa menggerakkan satu jari pun, bahkan tidak melihat ke arahku aku bertanya,


"Apa yang selesai ." Melihat Noe tergeletak tidak berdaya,


"Jam ujiannya ." Jawaban singkat darinya,


otaknya sangat dangkal, dia hanya menunggu berakhirnya jam ujian, sedangkan untuk jawabannya itu dia tidak memikirkan itu. begitu pula Rina, dia termenung menunduk aku tidaklah ragu kalau dia sekarang mungkin sudah bisa mendapatkan nilai sama denganku, hanya saja cara berpikirnya yang merepotkan masih tetap terlihat, aku mendekat untuk memastikan apa dia baik baik saja,


"Jadi apa kau bisa mengerjakan ujianmu ."Aku langsung ke inti pertanyaannya,


"Anu, maaf, maaf ." Itu jawaban darinya,


"Kenapa kau harus meminta maaf." Bertanya aku kembali,


"Aku ragu dengan jawabanku." Jawaban lain yang aku dapat,


Aku menghela nafasku melihat pikirannya yang merepotkan seperti ini,


"Jika kau ragu seperti itu, untuk apa kau menjawabnya, "


"Maafkan aku, maaf harusnya aku tidak ragu, jadi bagaimana ini ." Jawabnya dengan lemas,


Ya, sifat pesimisnya keluar lagi, sungguh menyebalkan.


"Ah sudahlah, percuma juga kau memikirkannya, tinggal berharap saja, jawaban itu semuanya benar ." Kata aku melihatnya terdiam dan ....meminta maaf,


"maafkan aku ."


Jika aku hitung berapa kali dia meminta maaf, mungkin aku sudah lupa saat hitungan ke 127 kata maaf yang dia ucapkan,


"Ya baiklah, aku memaafkanmu ." Kata aku secara spontan,

__ADS_1


Aku tidak mengharap lebih untuk apa yang sekarang dia lakukan, hanya berharap dia tidak akan berhenti untuk besok dan seterusnya, jalan Rina masih panjang, aku hanya ingin melihat dia berjuang dan mendapatkan harapan yang diinginkan,


__ADS_2