
Adikku berdiri, dengan baju sekolah pelaut yang sudah dia pakai, baju putih dengan rok birunya. Aku melihatnya berbeda, sungguh apa dia adikku yang dulu menangis di balik pintu karena bonekanya rusak.
Entah seperti mendengar langkah kaki yang sama seperti tiga tahun lalu, aroma boneka beruang kusut, gaun putih dan suara tawa darinya, entah dari mana ingatan ini. Aku teringat dan melupakannya, apa yang aku lihat saat ini akan terus aku ingat, entahlah.
"Nagisa, tolong kakakmu ini ." Kata aku memanggil Nagisa.
"Jangan harap, siapa suruh tidur dengan mbak, berduaan di sini, jadi berjuanglah, sebelum terlambat sekolah ." Kata Nagisa dengan wajah mengejek.
Ternyata dia masih saja menyebalkan, aku tidak bisa bergerak, pelukan wanita ini sangat kuat, sungguh pastinya akan menyusahkan.
"Maaf, nona maaf ." Aku memanggil dengan sedikit mengguncang tubuhnya.
Dia tidak bangun, semakin kencang dan bahkan mencekik ku.
"Aku menyerah, aku menyerah, " Teriak aku dan dia akhirnya terbangun dan melepaskan tangannya, walau masih dalam keadaan setengah sadar dengan tiba tiba, memukulku begitu keras.
"Apa sudah pagi, " Katanya dengan mengusap mata mengantuknya.
Seperti anak kecil yang tidak ingin bangun untuk bersekolah, dia bergerak, tangannya meraba seperti mencari, memegang tanganku dan mengangkatnya, membuka dan meraba telapak tanganku, tangannya begitu halus untuk mengusap, kecil dan putih.
"Yoan." Teriaknya dengan terkejut.
Dia terkejut dan apa yang aku dengar adalah dia memanggil namaku, aku tidak salah mendengarnya, bahkan caranya menyebutkan itu masih bisa aku mengingatnya. Suaranya terkejut, seperti menemukan sesuatu dari balik telapak tanganku dan dia terlihat bingung.
"Sejak kapan kau tahu namaku, nona ." Kata aku dengan mencoba berdiri.
"Ah, itu ....itu, ya tadi malam Nagisa memberitahu namamu ." Jawabnya dengan wajah yang memang kebingungan.
__ADS_1
Aku tidak begitu memikirkan dan juga sebenarnya memang sedikit aneh jika sampai sekarang aku tidak memperkenalkan diri dengan baik, ya aku teringat perkataan adikku tadi malam,
'jangan seperti orang aneh yang tidak memperkenalkan diri '
Ya, aku tidak ingin menjadi seperti itu tentunya dan juga cepat atau lambat dia akan tahu juga, walau pun rasanya seperti hal sedikit janggal.
Melihatnya terkejut itu seperti memang mengenal betul apa yang dia rasakan, jika bisa di berikan sedikit contoh tentang ini yaitu apa bila sesosok hewan kecil seperti kecoak menjelajahi kaki kita dengan serentak terkejut dan mengatakan 'kecoak' karena kita sudah tahu seperti apa bentuk dan rasanya di jelajahi oleh kaki kecil namun menggelikan itu.
“Biarkanlah” Kata aku dalam hati.
"Aku akan mengantarkan nona ke rumah, jadi cepatlah cuci muka dan rapikan rambut Anda." Kata aku yang sudah bisa menggerakkan tubuhku.
"Di mengerti, roger, laksanakan ."
Aku mengantarkan dia ke kamar mandi, memberikan handukku dan membiarkan untuk merapikan dirinya sendiri. Sedikit aku masih penasaran tentang rasa terkejutnya tadi, apa aku dan dia pernah bertemu. Tapi aku tidak ingat jika memang pernah saling mengenal tentunya.
Rea yang dengan rasa ragu ragu untuk membuka pintu, jika aku melihat hal untuk delapan belas tahun ke atas maka aku tidak bisa membiarkan hal itu, tapi mencoba untuk tetap membukanya dan apa yang terlihat adalah sebuah sisir yang tersangkut di rambut membuatnya kusut.
"Entah kenapa aku berpikir kalau aku memang harus mengawasimu ." Kata aku dengan sedikit bergumam.
"Ya, boleh, tenang saja, pasti aku akan menyediakan rumah yang layak di halaman luar ." Kata nona itu dengan tertawa.
"Jangan, mengikuti candaan Nagisa, " Kata aku dengan sedikit kesal.
"Maaf ." Dia terdiam dan tersenyum.
Dia wanita menyusahkan walau pun begitu aku memang menyukai senyumnya itu, wanita kuat yang tersenyum dengan hatinya, tidak peduli dengan gelapnya malam yang tidak berujung di balik mata itu.
__ADS_1
"Nah, Nona apa yang kau ingin melihat Aurora ." Kata aku menunggunya di balik pintu.
Dia yang mencuci mukanya, berhenti untuk mendengar apa yang aku katakan.
"Tidak, " Jawabnya.
"Kenapa ?, bukankah kau merindukan langit itu ." Kata aku dengan sedikit terkejut.
"Ya mungkin kau benar, tapi karena itu aku takut untuk melihatnya, " Lanjut jawabnya yang membuatku bingung.
"Kau nona sungguh aneh, " Kataku dengan menggelengkan kepala.
Dia tersenyum, berjalan ke arahku, mencoba mencari sesuatu untuk dia pegang, melangkah mengikuti keinginannya, aku mengarahkan tanganku untuk menangkap tangannya, memberikan handuk untuk mengeringkan rambut basah berantakan.
"Terima kasih ." Kata Nona itu dengan tersenyum.
Aku tidak membalasnya, aku menarik tangannya keluar ruangan, berjalan dia mengikuti langkahku dan sesuatu hal yang pertama kali aku melihatnya, tapi terasa aku begitu mengingat apa yang melingkar di lehernya, 'Northern lights ' ya itu tulisan gravity untuk arti cahaya dari utara. Tidak lain adalah aurora dari belahan bumi utara.
Aku memperhatikannya, liontin itu sangat tidak asing untukku, tapi itu pertama kali aku melihatnya di leher nona Rea.
"Apa liontin itu milikmu nona ." Tanya aku memperhatikan.
"Ya, ini adalah benda berharga untukku ." Jawabnya dengan memegang liontin itu dengan erat.
Dia memegangnya dengan erat, tersenyum dan semakin erat pula genggamannya di tanganku, aku merasa sesuatu menahan untuk aku katakan, tangannya gemetar.
Senyumnya merindukan sesuatu, alasan yang begitu dalam, aku ingin mengerti kenapa dia begitu menjaga liontinnya, itu sangat berharga. Tapi kenapa itu mengingatkan aku kepada sesuatu yang tidak bisa aku ingat.
__ADS_1