Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
spesial


__ADS_3

Aku sendiri melihat Sina yang tersenyum kecut ketika mengarahkan wajah kepada Nagisa, sedikit cemberut, ada rasa kesal, dan jelas tidak akur. Entah kenapa bisa terjadi, tapi itu sudah berlangsung sejak Sina datang ke daerah ini, hingga sekarang aku tidak tahu alasan kenapa Nagisa tidak menyukai Sina,


"Aku tidak ingin ada pertumpahan darah di rumah ini jadi tolong rukunlah kalian berdua ." Kata aku dan aku memberikan kode kepada kedua wanita menakutkan ini untuk tetap tenang dan tidak membuat keributan.


Setiap orang di dalam ruang tamu dan semua makanan yang tersaji dengan sedikit mewah, aku sendiri sudah di jajah oleh si kecil Rin, dia tidak mau untuk dipindahkan ke pada siapa pun, bahkan termasuk dengan Tita sendiri, ini sedikit menyusahkan, tapi biarlah.


"Ah, Rina, apa kau sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan ." Tanya aku melihat Rina yang masih kebingungan,


ekspresi Rina malu, mata yang bersembunyi di balik poni oanjay itu tampak gugup untuk menjawab apa yang aku tanyakan, ragu-ragu ketika semua pandangan memperhatikan tangan Rina ketika memberi satu buku berisi semua tugas yang aku berikan. Dia begitu gugup, bahkan seperti aura pesimis dikeluarkan.


"Sudah aku duga memang kau itu sangat memperhatikan Rina ." Kata Noe dengan cara bicara yang aneh.


"Jangan menyebarkan gosip yang tidak jelas ." Aku jelas membantah perkataan Noe,


Dari semua wanita yang ada di ruangan ini, mata mereka memperhatikan tajam, aku seperti terintimidasi, merasa sesak akibat tekanan batin dari mereka.


Tapi semua anggapan yang Tita, Sina dan Nagisa pikiran adalah salah, jelas salah, mau bagaimana pun itu salah, karena aku tidak ada niat lebih dari sekedar membantu Rina, bahkan mencari keuntungan.


"Aku hanya membantunya saja untuk mendapatkan beasiswa ." Jawabku karena santai dan memang mereka semua mengerti dengan apa yang aku maksudkan,


Noe seperti mencari masalah dengan berkata,


"Ah, bukankah itu berarti dia diperlakukan dengan spesial."


Rina menjadi lebih menunduk lagi, dia tidak berani memperlihatkan wajah dan di tempat ini yang tersial adalah aku, hingga sebuah kamus yang tebalnya lebih dari tiga ratus halaman terlempar melewati sebelah kepala.


Bisa terbayang kamus 13 milyar itu tepat sasaran, maka itu akan terasa sakit.


"Maaf tanganku licin ." Sina tersenyum saat mengatakannya.

__ADS_1


Tentu saja tidak mungkin, hanya karena memegang buku dan tangannya licin bisa terlempar sedemikian akurat ke arah kepala, setiap wanita yang aku lihat sudah siap dengan benda di tangan mereka semua dan jelas bersiap untuk dilempar.


Aku menelan ludah.... "Apa maksudnya dengan ini semua ." aku ketakutan


Noe setengah mati menahan tawa, sungguh aku tidak suka melihat lelaki macam itu bahagia ketika aku harus terancam oleh setiap pasang mata yang penuh kemarahan.


"Biar aku mengambil laptop ku dulu." tersenyum aku penuh makna.


Noe tahu apa yang aku lakukan, secara tiba tiba dia langsung menghentikan langkahku untuk minta maaf,


"Tidak, aku tidak akan memaafkan mu, tidak, tidak ." Kata aku dengan perasaan kesal.


"Ayolah kawan aku cuma bercanda ." Noe tersenyum dengan wajah tidak berdosa.


"Kalau itu kau bilang bercanda, maka kau tidak pantas menjadi pelawak."


Aku melihat kembali catatan dari tugas Rina, setiap lembar aku buka, menilai dan mengevaluasi jawabannya..."Ya, lumayan, kau hanya salah untuk memberikan jumlah pelepasan elektron saat terjadi benturan energi atom ."


Tita mendengar soal yang aku katakan, dengan sedikit terkejut dia mengambil lembaran tugas yang aku buat, membaca dengan mata memburu, matanya bergerak cepat ke kiri dan ke kanan,


"Bukankah ini materi untuk tingkat lanjutan untuk masuk perguruan." kata Tita dengan terkejut.


Ah, aku pun terkejut, mendengar apa yang dia katakan,


"Benarkah, kalau begitu aku terlalu kelewatan memberimu tugas dari materi ini ." Tertawa aku melihat kembali soal yang aku berikan,


"Maafkan aku, tapi pantas aku mencari ke semua materi tingkat SMA, bahkan yang di khususkan untuk jurusan IPA, saja itu hanya ada pemecahan di dasarnya saja." Kata Rina dengan wajah bingung.


Aku mengambil kertas tugas yang masih dilihat oleh Tita, aku melihatnya setiap soal yang dia kerjakan hampir semuanya dia jawab dengan tepat, walau itu hanya hampir. Tapi jika aku simpulkan kalau dia bisa mengerjakan soal dari materi tingkat lanjutan ini, sama artinya untuk berhasil mengerjakan tingkat SMA Rina sudah cukup.

__ADS_1


"Setidaknya kau itu benar-benar berjuang." Kata aku dengan tersenyum.


Entah kenapa tangan secara refleks mengusap kepalanya itu, wajah Rina sudah memerah dan dia semakin menundukan wajah dari pandangan semua orang, mereka terkejut melihat kejadian ini, hingga suara piring terjatuh dari tangan nagisa, mata itu melihat tajam dan berkata,


"Ah maaf semua tanganku licin ." Kata Nagisa dengan nada mengancam,


Walau dia adikku entah kenapa aura cemburunya membuat siapa pun ketakutan, sedangkan untuk Rina sendiri dia berdiri dengan Tiba-tiba dan memulai ritual meminta maafnya kembali sambil membungkuk penuh ketulusan.


"Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ." ucap Rina yang aku sendiri tidak tahu sampai kapan dia akan meminta maaf.


melihat semua yang terjadi seperti akan merepotkan untukku sendiri, hingga aku sadar walau aku sudah ditemani oleh keluargaku, oleh teman-teman, meski hanya tokoh tambahan, berbagai macam orang yang datang dalam hidup. Aku masih merasa aneh, sedangkan isi pikiranku bertuju ke seseorang di luar sana.


"Apa yang sedang dilakukan olehnya ." Gumamku memikirkan Rea yang sudah beberapa hari ini tidak aku temui.


Nagisa menyadari aku sedang memikirkan sesuatu,


"Apa yang kau pikirkan kak ."Dia bertanya saat memberikan sebuah minuman teh di depan ku.


"Sudah beberapa hari aku tidak melihat Rea ."


"Memangnya apa ada yang aneh dengannya ."


Nagisa menanyakan itu.


"Aku pun tidak tahu, sejak dia menginap kemarin, aku tidak melihatnya lagi ." balasku yang setengah melamun.


Semua mata melihat ke arahku lagi, termasuk Sina dia melihat dengan bicara lirih... "eeehh... Jadi dia menginap denganmu ."


Tita pun ikut menggumam,..."Kakakku ternyata seorang playboy ."

__ADS_1


Rina masih meminta maaf....."Maafkan aku, maafkan aku, maafkan aku ."


Dan Rin dengan pelan memukul perutku. aku sendiri masih tidak mengerti tentang jalan pikiran seorang perempuan, semua terlalu banyak menyinggung perasaan, hanya bisa dimengerti, jika bicara dari hati ke hati, seperti acara televisi talk show tengah malam.


__ADS_2