
Waktu tidak pernah menunggu seseorang yang hanya bisa diam dan tidak memiliki keinginan untuk mengejar harapannya. Jika bisa bandingkan dengan setiap orang yang aku temui selama ini, aku adalah orang yang masih terdiam dan melihat di dalam sisa kenangan, sedangkan untuk Rina, dia adalah orang penuh harapan untuk menciptakan kenangan indah di dalam hidupnya. Dua perbedaan besar di antara kami berdua, sedangkan, pertanyaan kenapa aku membantu Rina.
Ya, aku hanya sekedar menunjukkan seperti apa jalan yang harus di tempuh oleh Rina sedangkan untuk berhasil atau pun tidak, itu terserah kepada dirinya sendiri. Aku benar-benar sebuah omong kosong yang membandingkan hidup dengan orang lain.
Aku menunjukkan kepada Tita, sebuah galeri kecil untuk semua foto yang pernah diambil oleh ibu, walau itu tidak semuanya terbingkai dan terpajang di dinding ruangan dari tempat ibuku bersantai.
"Ini semua foto dari ibu Kakak ." Tita penuh rasa kagum,
"Indahnya, ini pelangi bulan dan juga ini petir gunung yang erupsi dan ini, danau tiga warna ." Tita semakin bersemangat.
Dia tidak berkedip untuk semua foto yang terlihat jelas di sekitarnya, sedangkan foto lain masih banyak tersimpan dalam album, lebih dari dua puluh album, itu yang aku ingat.
"Apa yang kau pikirkan saat melihat ini semua, "
Tita bertanya kepadaku.
Ini adalah hartaku, harta yang sangat berharga untuk aku jaga, tapi jika aku mengatakan itu, maka aku hanya berpikiran kalau saat aku kehilangan ini semua, aku kehilangan semua jiwaku, jadi ...
"Ya, mungkin ini sebuah semangat, kenapa aku ingin memotret, karena aku ingin melihat apa yang di lihat oleh ibuku ." Itu yang aku katakan,
Tita yang tersenyum saat memandangi sebuah foto, tentu saja senyum itu tidak dia tunjukan tanpa alasan, karena dia tersenyum ketika aku menjawab pertanyaannya.
"Jadi....." Ucap Tita, tapi terhenti ketika suara bel berbunyi,
Sebelum Tita menyelesaikan apa yang ingin dikatakan, bunyi bel itu seperti memberikan tanda kalau seseorang ada di luar menunggu untuk di sambut, sedangkan aku bisa menebak siapa yang datang.
"Sudah ku duga itu kau Noe, " Aku bisa melihat lelaki itu sedang tersenyum lebar,
__ADS_1
"Kami datang menjenguk kawan ." Jawabnya yang masih tersenyum,
Tentunya aku tahu, saat dia menggunakan kata 'kami' di sini tertuju kepada beberapa orang lain yang berdiri dibelakangnya,
"Sina, Rina dan semua yang hanya menjadi pelengkap di kelas ."
Mereka hanya orang yang ingin ikut, karena tidak memiliki tugas setelah sekolah berakhir, sebut saja, Teman A dan teman B, karena aku sendiri mungkin sedikit lupa untuk menyebutkan nama mereka atau mungkin karena memang aku terpikir merepotkan untuk mengingat nama mereka satu persatu.
"Ya, teman A dan teman B ." Kata aku sedikit bercanda,
"Teganya kau, temanmu sendiri kau sebut seperti orang lain saja, ya biarlah ." Kata Teman A dan tidak peduli,
Ternyata memang mereka tidak menolaknya atau mungkin mereka tidak berharap apa pun, jadi aku tidak perlu repot berbasa-basi.
"Wah, luka itu membuatmu terlihat buruk An ." Kata Sina dengan wajah terkagum,
maksud Sina adalah luka itu seperti tambahan untuk menjadikan wajahku lebih buruk, sedangkan Rina yang menunduk di belakang Sina, berjalan maju dengan memegangi sebuah parsel yang berisi makanan kecil dan sedikit buah kaleng,
"Maaf anu...anu....ini dari kami sekelas jadi silakan di terima ." Kata Rina tanpa melupakan permintaan maafnya,
Belum sempat aku menerima bingkisan itu, Tita datang dan semua orang melihat terkejut,
"Kakak, siapa tamunya" Tita berhenti melanjutkan perkataannya,
Sina yang melihat Tita berlari mendekat, tidak segan memukulku dengan keras sehingga aku ambruk tidak berdaya,
"Apa yang kau lakukan Sina ." Teriak aku dengan marah.
__ADS_1
"Entah kenapa kau membuatku kesal ." Itu jawaban yang aku terima, Bahkan Rina pun sangat gugup tidak bingung melihat Tita yang membantuku untuk berdiri,
"Jadi siapa dia An ." Tanya Sina dengan wajah marah dan tidak melihat kearah ku.
ketika aku berdiri, aku menjawab apa yang di tanyakan Sina, "Ah, dia adikku yang baru ."
Jawaban dariku membuat setiap orang terkejut, sekali lagi, sebuah pukulan setingkat dengan petinju kelas berat, aku terima mentah-mentah, namun tidak ada wasit yang menghentikan pertandingan meskipun aku sudah terkapar tidak berdaya,
"Jangan bercanda, " Teriak Sina yang marah tidak percaya,
Tita yang terlihat marah dan menjawab apa yang menjadi keraguan dari Sina,
"Aku memang adik dari kak An, tapi adik tiri, anak dari istri ayahnya, kak An " Itu kata Tita dengan jawaban keras,
Sina baru mengerti apa yang dikatakan oleh Tita, sedangkan disaat yang sama Rin berjalan masuk dan menggoyangkan tubuhku,
"Kak, kakak kenapa kakak tiduran di lantai, " Kata Rin dengan wajah imut kebingungan,
"Ya, karena kakak merasa rumah ini terlalu panas karena aura kemarahan dari satu wanita tempramental ."
Sina tersenyum tidak berdosa, menggaruk belakang kepala dan merasa tidak terjadi apa pun, sedangkan teman A dan B hanya terkagum saat melihat pukulan telak k.o untuk petinju sekelas Mike tyson, Sina memang menakutkan, sedangkan seorang teman yang dari tadi kehadirannya sudah menghilang, sudah berada di dapur untuk menggoda adikku,
"Nah Noe apa kau tidak pernah belajar, apa bila rasa sakit ditambah emosi, maka itu akan menjadi apa ? ." Kata aku saat melihatnya berdiri di samping Nagisa,
Aku menepuk pundak Noe dan menariknya keluar dari dapur, "Ampun An, ampun ..."
Teriakan Noe dengan memohon.
__ADS_1