Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Tindakan bodoh


__ADS_3

Semunya tampak seperti kemarin, sepi dan gelap, jalan yang dingin diselimuti oleh angin malam.


Aku merasa sudah teralu bosan hanya berjalan mengikuti arus ke sebuah tempat untukku beristirahat, melihat tiang yang sama seperti kemarin, jalur kabel listrik yang saling merebut tempat, dan kucing-kucing liar yang saling bersautan mencari pasangan kawin.


Sejenak  aku berpikir . "Kenapa selalu seperti ini ."


Bahkan seseorang yang sering mengikutiku pun mungkin sudah terlalu bosan hanya sekedar memperhatikan makhluk tidak berguna.


Merasa aneh saat lampu teras dirumah sudah menyala, berdiri didepan pagar, aku sempat berpikir .


"Ah, apa aku lupa mematikannya...


tidak, itu tidak mungkin, jelas jelas aku mematikan lampu itu tadi pagi ." Gumam aku yang merasa aneh.


Berpikir tentang kemungkinan yang terjadi tentang lampu menyala diteras rumah, dan tidak bisa aku salahkan jika memang ada setan yang membantu menyalakan lampu karena terlalu gelap. Tapi itu tidak mungkin.


Hanya satu lagi aku memikirkan kemungkinan lain.


"Apa Sina masuk ke rumahku, ah itu juga tidak mungkin, aku rasa sekarang dia masih bekerja ." Gumamku yang masih berpikir hanya karena lampu teras.


Semua ini hanya berakhir ke ujung ketidakpastian, seakan memang aku melupakan itu dan satu satunya alasan agar aku bersikap tenang, tentang apa yang akan terjadi, saat aku masuk ke dalam rumah.


Aku berjalan perlahan, membuka gerbang dengan hati-hati, bahkan tidak ada suara putaran roda dari gerbang, karena aku tahu gerbang ini aku dorong, jadi tidak mungkin ada rodannya.


Berasa sedang menjalankan misi rahasia seperti James bond, tentunya hanya untuk masuk ke dalam rumahku sendiri aku harus berguling dan tiarap.


Sungguh membuatku merasa ini adalah tindakan bodoh dan aku ingin melakukannya. Ya karena terlalu gabut.


Semakin dekat dengan pintu masuk rumah dan saat di depan, aku meletakkan telingaku ke pintu, mencoba mendengarkan adakah suara kehidupan di dalam.


Semakin memusatkan konsentrasiku, sebuah suara terdengar samar.


"Kaaaaakakkak seeeddaaannggg aaapaaaaa."

__ADS_1


Sungguh sangat samar, tapi suara itu datang dan lebih jelas, suara seorang wanita. Aku bisa menebak, mungkin umurnya sekitar 14 tahun, tinggi badan 160, berat 47 kilogram, kurang lebih, rambut hitam sedikit pirang, panjang melebihi bahu dan dia sangat dekat.


Bisa aku tebak semua itu, karena tekanan suara yang bisa dikatakan sedikt jernih dan agak sumbang, itu mirip sekali dengan suara adikku, nagisa.


"Kakak sedang apa ?." Semakin jelas terdengar .


Suara itu datang dengan sentuhan jari ke arah pundakku, melihat ke belakang, seorang gadis cantik dengan rambut sedikit warna pirang di setiap ujung, kebingungan menatap penuh pertanyaan.


Jika orang lain yang melihat, itu membuatnya seperti model majalah gadis modis tahunan, tapi aku pun telah lupa, kapan majalah itu terbit .


"Sedang apa kau Nagisa." Kata aku saat melihat Nagisa dengan wajah rumit yang dia tunjukan.


"Jangan balik bertanya, apa kau tidak merindukan adikmu yang jauh-jauh pulang dari Tokyo hanya untuk melihat kakak bodoh yang berguling di halaman rumah."


Perkataan Nagisa sungguh sangat jelas kalau dia sedang marah.


Jelas jika ini salah satu kemungkinan yang tidak masuk ke dalam hitunganku tadi, jadi aku tambahkan, seorang adik perempuan datang untuk melihat kakak bodohnya dan menyalakan lampu teras.


Itu sangat jarang terjadi .


"Ya sudahlah, ayo masuk aku sudah membuatkan makanan ." Kata Nagisa yang masih kesal .


Entah kenapa sekilas pandanganku berubah saat aku membuka pintu rumah ini, seakan ruang kesepian sedikit terobati oleh bayangan suara tawa gadis kecil yang berlari mengejar boneka beruang di tangan anak laki laki .


"Nagisa, selamat datang di rumah ."


Kata aku melihat Nagisa dari belakang .


Dia tersenyum dan melihat ke arahku, memutar tubuhnya dan berkata .


"Ya kakak aku pulang ." Nagisa tersenyum saat mengatakannya.


Semakin aku merasakan sudah sekian lama keheningan ini menyelimutiku, disudut ruang kotor penuh sarang laba-laba dan suara jangkrik yang mungkin sudah mulai datang ke dalam rumah.

__ADS_1


Kini sedikit berubah, dengan penghuni lain yang kembali pulang, ke rumah ini.


Aku sudah terlalu lama terkurung di dalam kesepian, terlalu lama hingga mungkin sesaat tadi aku tidak mengenali wajah adikku sendiri, saling duduk berhadapan di meja makan yang sangat jarang aku gunakan.


Nagisa, adikku melihat kearah ku,  memang sedikit canggung melihat dia yang sudah lama tidak pulang.


Dengan umur Nagisa yang sudah empat belas tahun, aku melihatnya sudah menjadi wanita yang begitu cantik, aku malu untuk mengatakannya.


Hingga di dalam diam dia memulai untuk berbicara .


"Kakak, apa kau masih belum memutuskan untuk bersekolah di Tokyo saja."


Pertanyaan yang mengawali percakapan di atas meja makan ini .


Aku tahu pasti nagisa akan menanyakan hal itu, tapi ini terlalu cepat untuk membuka percakapan kakak beradik yang tiga tahun tidak bertemu .


"Setiap kau berbicara kepadaku, kenapa pertanyaan itu selalu datang ." Aku sedikit menggumam dan aku memperhatikan saat Nagisa mengunyah makanan di mulutnya, semua itu sudah berbeda dengan Nagisa yang dulu.


"Kakak diberikan beasiswa untuk bersekolah di Harvard, hingga mendapatkan gelar master, tapi kenapa kau menolaknya." Kata Nagisa dengan nada kesal.


"Bagi kakakmu ini, terkadang ada sesuatu hal yang tidak dapat di mengerti oleh standar orang Jenius, karena sebuah kebahagiaan terkadang tidak dapat diukur oleh perhitungan logika rumus fisika semata." Kata aku sedikit bangga mengucapkan kalimat itu.


Nagisa terlihat cemberut saat mendengar alasanku, dia sendiri pun harusnya mengerti, kenapa aku tidak ingin meninggalkan tempat ini, dan itu adalah kebahagiaan kecil yang aku miliki sekarang .


"Tapi ayah ingin agar kakak bisa mendapatkan gelar master dan meneruskan perusahaannya." Kata Nagisa yang memang tidak salah tentang hal itu.


"Ayah kah, jika memang begitu kenapa dia tidak pernah muncul untuk mengatakan hal ini kepadaku." Aku sedikit kesal mendengar segala sesuatu yang berhubungan dengan ayah.


Dia adikku, sepuluh tahun aku bersamanya dirumah ini, seakan dia tidak mengerti apa pun, walau memang seharusnya mudah mengatakan kalau aku bersedia untuk melanjutkan sekolahku ke Amerika atau kemana pun.


Tapi jika bukan aku yang menjaga peninggalan ibu dirumah ini, maka siapa lagi. Harusnya ayah tahu itu.


"Sudah aku lelah, dan juga besok banyak hal yang akan di lakukan jadi kakak mau istirahat ."

__ADS_1


Aku berdiri dan pergi meninggalkan meja makan, segala macam alasan yang aku gunakan untuk melarikan diri dari kenyataan.


Dia adalah Nagisa, adikku, dia sedikit pun tidak berubah, dia tetap saja adik yang tidak pengertian dengan kakaknya, tapi biarlah, karena tetap Nagisa adalah adik yang aku sayangi dan bagian dari kebahagiaanku sendiri.


__ADS_2