
Entah kenapa ini teralu tiba tiba, aku sendiri masih penasaran tentang adikku Nagisa.
Dia meninggalkan sekolahnya di Tokyo dan datang ke tempat yang bisa dibilang jauh berbeda, walau pun begitu, pasti dia memiliki alasan sendiri dan aku sebagai seorang kakak merasa penasaran, tapi tidak bisa aku menilai salah apa yang ingin Nagisa lakukan.
"Ya hal terpenting, jangan pernah menganggap semua hal bisa terselesaikan dengan sendirinya, " Kata aku sedikit menasihati adik kecilku ini .
"Ya aku tahu kok ." Jawabnya dengan cemberut.
Dari nada suara lemas saat dia mengatakannya membuatku tahu ada yang Nagisa sembunyikan.
Diantara waktu untuk aku merebahkan diri di atas sofa ini, dering bunyi pesan masuk mengganggu kenyamananku .
"Dari Sina kah ". Gumam aku melihat nama kontak di ponselku.
Membaca sedikit demi sedikit, ya apa yang dia tuliskan membuatku tidak ingin meneruskan untuk membaca, seakan terancam, aku memutuskan untuk pergi.
"Nagisa, kakak akan keluar sebentar, jaga rumah dan jika mau pergi kuncilah pintunya ." Kata aku yang langsung pergi .
"Ya baiklah, " Jawab nagisa dengan lemas .
Dengan segera, bergegas, sedikit lari, perasaan terancam dan semua hal yang aku bayangkan mulai membuatku takut, walau rumah sina hanya beberapa meter saja dari tempat tinggalku.
"Aku harus cepat, keberadaanku di dunia ini terancam ." Kata aku yang sedikit takut .
Berhenti di depan rumah sina, aku sudah bisa merasakan sebuah aura kegelapan menyelimuti pintu masuk ini, seperti sebuah game berada di depan gerbang yang menuju ke tanah neraka dan dijaga oleh pasukan kegelapan .
"Yo, An aku sudah menunggumu ." Suara menyeramkan itu datang dari belakang .
Aku mendengar suara, suara menakutkan dengan tekanan hebat yang membuat nyaliku menciut, dan itu berasal dari belakang.
Aku memberanikan diri untuk melihat, ternyata memang benar sina yang sudah bersiap dengan tongkat besi untuk memukulku.
"Ah Sina, tolong jangan bermain dengan tongkat itu, berbahaya loh ." Rayu aku sedikit memohon .
Tongkat yang dia pegang di pukulkan ke tangan, sorot mata tajam membuat nafasku terasa menyangkut ditenggorokan.
__ADS_1
"Tenang saja, ini tidak berbahaya kok, tapi tentunya akan menyakitkan, jika ..." Katanya dengan menggerakkan tongkat.
Entah dia sengaja atau pun tidak tongkat itu dia hantam ke arah pot besar di sampingnya, yang kemudian hancur berkeping keping, entah apa yang aku lakukan melihat senyuman itu dari Sina.
Di dalam kamar yang tentu masih sedikit feminin untuk di pandangi, berbagai macam boneka dan foto poster artis yang sedang tenar saat ini pun terpajang besar di sudut tembok.
"Nah An bisakah kau jelaskan, apa yang terjadi saat tadi ." Nada suaranya masih menakutkan .
"Tidak, Aaaaaaaa." Berteriak aku melihat tongkat mengarah ke kepala.
Tongkat itu berhenti tepat di satu senti meter dari kepalaku, aku lemas melihatnya, mencoba mundur untuk menghindar tapi tempat tidur ini menghalanginya .
"Baiklah, baiklah, tapi tolong turunkan tongkatmu itu ."Aku memohon untuk keselamatan.
Sebuah dentuman keras berbunyi saat meletakkan tongkatnya ke lantai dan itu berada di antara kedua kaki, rasanya hari ini sina sangat marah dan aku sendiri tidak tahu kenapa.
"Jadi siapa wanita yang tadi siang kau temani itu ." Katanya dengan sorot mata tajam.
"Ah itu Nagisa adikku ." Kata aku menjawab apa yang ingin dia tahu.
"Sungguh, dia baru saja pulang dari Tokyo dan sekarang dia akan tinggal di sini ." Kata aku sedikit ketakutan.
"Itu tidak mungkin, karena aku tahu seperti apa wajahnya ." jawab Sina sedikit tidak percaya.
Dia menjadi lebih marah, aura kegelapan semakin menyelimuti ruangan ini, aku takut akan memikirkan hal yang tidak bisa aku bayangkan .
"Sungguh, aku pun pertama kali melihatnya aku tidak percaya tapi itu kenyataannya." Kata aku dengan menutup mataku.
Setelah beberapa jam berdebat tentang siapa dia yang memang adikku, akhirnya sina mencoba menerima kenyataan.
Sina lebih tenang dan semua kemarahan telah lenyap tidak berbekas, aku telah lepas dari cengkeraman malaikat maut yang sudah siap jika aku salah menjawab pertanyaan .
"Kenapa Nagisa pulang sekarang An ." Sina sudah mulai tenang .
"Entahlah, tapi aku menyadari ada masalah yang membuatnya harus meninggalkan studinya di Jakarta dan datang ke sini ." Kata aku dengan perasaan lebih baik .
__ADS_1
Semua yang terjadi di hari ini, entah kenapa aku tidak bisa memikirkan alasannya, dari apa yang aku temukan dan aku lihat.
Semua tampak samar untuk aku gambarkan, bahkan jika itu mencakup semua sudut kenangan yang aku miliki tentang seseorang bernama Nagisa Hirata, dia adalah adikku tapi aku tidak bisa melihat alasan dari hidupnya itu .
Hanya saja, saat aku pulang dan waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam, rumah sudah tampak sepi dan seluruh ruangan pun tidak bercahaya setitik pun dari luar , masuk dan memperhatikan setiap langkahku.
"Nagisa apa kau sudah tidur." Kata aku dengan memastikan sedang apa adikku itu .
Tidak ada jawaban, yang aku pikirkan adalah dia sudah terlelap dan lupa untuk mengunci pintu, masuk lebih dalam, hingga ada sebuah nyala lilin terang menyinari ruangan ibuku .
"Apa yang dia lakukan, membiarkan semua ruangan gelap seperti ini ." Gumam aku melihat ruangan kamar ibu .
Melihat apa yang terjadi, tubuh wanita kurus berbaring di lantai, bertumpuk album dan semua foto dari lemari yang berserakan di seluruh lantai.
Aku melihatnya, dia wanita yang tidak melupakan hal tentang sebuah cinta, bahkan dia yang merindukan sebuah cinta hadir untuk dirinya, aku tidak seperti seorang kakak yang merindukan dirinya, jauh dari semuanya aku tidak berguna untuk Nagisa.
Menyalakan semua lampu dan mendekati tubuh adikku yang sudah terlelap di dalam dunia yang dia rindukan .
"Hey, Nagisa jangan tidur di lantai, kau akan sakit ." Kata aku membangunkannya .
Wajahnya tampak kusut, rambut yang terurai berantakkan, matanya masih sayu untuk terbuka semuanya, dengan mengigau dia menjawab .
"Aaa,aakku nnngaanttukk." Jawabnya dengan matanya masih terpejam.
Mengusap rambut itu, mengangkat tubuh Nagisa, aku bawa ke kamar. rangkulan tangan yang sudah sangat lemas, membuatku tersenyum dan berpikir.
"Sungguh, bagiku kau masih seperti adik kecil yang dulu, kau tidak pernah berubah ." Gumamku membawa Nagisa ke kamar.
Aku tersenyum dan membawanya, semua foto yang dia lihat adalah salah satu tanda kasih sayang yang di tunjukan oleh ibu, bahwa dia ingin menunjukkan betapa indah dunia yang tidak pernah kita lihat dan ibu memperlihatkan itu untuk kami.
Aku letakkan Nagisa ke ranjang, rangkulan tangan ini tidak membiarkan untuk aku pergi, dia pun mengigau kembali .
"Kakak." Kata Nagisa yang masih tertidur .
Aku tidak berdaya, melihat wajah sedih yang dia perlihatkan di antara tidurnya, aku tidak bisa meninggalkan dia dan ingin tetap seperti ini, hingga nanti dia bisa menemukan sebuah kebahagiaan sendiri.
__ADS_1