
Bisa digambarkan jelas lewat muka yang aku tunjukan sekarang, saat Sina pergi, aku sedikit memperhatikan Rina dari tempat duduk. Dia masih saja terdiam di dalam dunianya, tumpukan buku dari fisika, kimia, IPA, sastra modern hingga klasik, bahkan rumus mengerjakan ujian sekolah dan mengatasi rasa malu dengan cepat pun, dia baca. Aku mengerti kenapa dia begitu keras untuk mendapatkan beasiswa, tapi itu mengingatkan aku ke masa kecil suram seperti dulu, apa itu benar untuk Rina.
Sedangkan bagiku, semua sangat berlebihan, mendekat ke mejanya, aku bertanya,
"Apa kau tidak lelah ." Kata aku secara tiba tiba,
Dia terkejut hingga mengatakan apa yang ada didalam pikiran.
"Maaf, anu rumus energi itu ...anu maaf ." Kata Rina dengan gugup,
Dia itu selalu seperti ini, ya aku tahu itu,
"Aku tak menanyakan pelajaran nona ." Kata aku dengan tersenyum,
"Maaf, ada apa An ." Seperti biasa dia meminta maaf terlebih dahulu,
Aku menghela nafas dan menghembuskan secara perlahan,
"Kau itu apa kau tidak istirahat sebentar ."
"Maaf, aku tidak pernah memikirkan hal lain saat istirahat seperti ini ." Jawabnya dengan menunduk,
Sekali lagi aku menghela nafas dan menghembuskan lagi dengan semua masalah yang ada,
panggil aku kepada Noe..."Noe, carikan aku gitar ."
Noe dengan cepatnya berdiri dari tidurnya di lantai,
"Roger, laksanakan ."
Tidak butuh lima belas menit untuk menunggu, sebuah gitar dengan merek kendaraan bermotor sudah di siapkan oleh Noe.
"Cepat sekali " Terkagum aku melihatnya.
Saat aku mengambil gitar, hampir setiap siswa melihat dan berkumpul di sekitar.
"Ayo mainkan An ."
"Baiklah, satu buah lagu dari A rocet to the moon "
Petikan demi petikan berbunyi, sebuah awalan chord C yang berganti ke E minor dan di lanjutkan ke F, A minor dan G, semua suara berdengung merdu di telinga setiap orang.
"Sharing pillows and cold feet,
She can feel my heart ...."
Baru dua baris lagu yang aku nyanyikan, sudah berganti dengan bunyi bel, maka selesailah sudah ketika guru laki laki berjanggut tebal sudah siap dengan pelajaran lain.
"Aaaahhhh kenapa berhenti.."
Semua orang menggerutu, bahkan Rina tampak kecewa saat aku berhenti bernyanyi, ini lebih baik daripada aku harus kena semprot.
Guru itu menunjukan wajah kecewa.... "Cepat lanjutkan musiknya."
Lanjut sang guru mengatakan apa yang ingin di sampaikan. Di saat itu aku memulai kembali pertunjukan musik di kelas ini,
"I can feel her breath as she's
sleepin' next to me,
Sharing pillows and cold feet.
She can feel my heart, fell asleep
__ADS_1
to it's beat,
Under blankets and warm sheets.
If only I could be in that bed
again...
If only it were me instead of him...
Does he watch your favorite
movies?
Does he hold you when you cry?
Does he let you tell him all your
favorite parts when you've seen it
a million times?
Does he sing to all your music
while you dance to "Purple Rain? "
Does he do all these things, like I
used to?
Fourteen months and seven days
ago...
How we felt about that night.
Just your skin against the
window...
Oh, we took it slow,
And we both know...
It should've been me inside that
car.
It should've been me instead of
him... in the dark.
Does he watch your favorite
movies?
Does he hold you when you cry?
Does he let you tell him all your
favorite parts when you've seen it
a million times?
__ADS_1
Does he sing to all your music
while you dance to "Purple Rain? "
Does he do all these things, like I
used to?
I know, love... backsound berkumandang (I'm a sucker for that
feeling.)
Happens all the time, love... sekali lagi para backsound ikut bernyanyi.. (I always end up feelin' cheated.)
You're on my mind, love.... tidak berhenti dan kembali melanjutkan (or so that
matter when I need it.)
It happens all the time- love, yeah.
Will he love you like I loved you?
Will he tell you everyday?
Will he make you feel like you're
invincible with every word he'll
say?
Can you promise me if this was
right,
Don't throw it all away?
Can you do all these things?
Will you do all these things...
Like we used to?
Oh, like we used to..."
Semua bertepuk tangan, Rina sedikit tersenyum di balik wajahnya yang tertunduk malu dan setelah itu guru berjanggut tebal mendekat menepuk pundakku dan berkata,
"Hebat, hebat sekali, ok sekarang kau berdiri di depan kelas, " Katanya dengan nada tenang,
"Ya sudah ku duga itu akan terjadi ." Lemas aku menjawab,
Setiap orang hanya duduk diam dan seperti tidak terjadi apa pun di dalam kelas ini, sedikit pelajaran adalah jangan pernah menyanyikan lagu luar negeri saat di pelajaran sastra, sangat berguna di masa mendatang.
*****
Saat jam pulang sekolah ini, aku sedikit lama duduk memperhatikan langit di balik jendela kelas, melihat semua meja yang sudah tidak kosong, aku sendirian didalam kelas. Bahkan Noe sendiri sudah pulang sejak senandung awal bel pulang sekolah.
"Semuanya sudah pulang ."Gumam aku melihat semua bangku yang sudah tidak berpenghuni.
Mengangkat tas dan sudah berniat untuk pulang terlebih dulu, setelah itu baru menepati janji untuk bertemu di Cafe milik pak bos.
Hingga sebuah kertas terjatuh dari laci milik Rina membuatku berhenti dan mengambilnya, tapi setiap kata dari dalam suratnya terbaca dengan jelas oleh mataku, pada akhirnya membuatku mengerti kenapa dia berjuang sampai sekarang, dia terlalu keras memaksa setiap rumus untuk masuk ke dalam pikiran yang sudah terbebani oleh isi di dalam surat ini, dia wanita yang mungkin sangat menginginkan beasiswa, bahkan harus, dia tidak memiliki pilihan lain, kecuali ....
"Mengundurkan diri dari sekolah ."
__ADS_1