
Aku tidak bisa melupakan setiap kata dari dalam surat itu, surat pengunduran diri dan setiap alasan di dalamnya, entah apa yang dia pikirkan, mungkin ini adalah pilihan terakhir, hanya akan bertuju ke satu titik atau tidak sama sekali.
Dia harus mendapatkan beasiswa itu, haruskah aku mengatakannya, dan mengalah, atau berdiam diri dan melihat perjuangan dari impian Rina.
Bahkan sesampainya di rumah aku masih teringat, aku tidak fokus dengan setiap apa yang aku lakukan,
"Kakak kau mau ke mana ? ." Nagisa memanggil dengan nada tanya yang aneh,
Melihatku seperti melihat sesuatu yang janggal dari penampilan.
"Ah aku akan pergi ke Cafe, " Jawabku secara biasa.
Dia menunjuk ke arahku dan berkata, "Setidaknya perhatikan pakaianmu ."
Katanya dengan wajah jijiknya,
Ya, karena tidak fokus itu, aku sampai lupa kalau masih memakai celana pendek, sedangkan baju yang aku kenakan adalah kemeja panjang. pantas saja Nagisa melihatku seperti menatap seonggok kotoran di depan mata.
"Ah kau benar, pantas saja kakiku sedikit terasa begitu sejuk, " Kata aku dengan tertawa, dan Nagisa terdiam tanpa membalas.
"Nagisa kira kakak mau ke pesta manusia aneh." Kata darinya setelah beberapa detik memperhatikan dengan tatapan mengejek.
Walau aku sendiri tidak tahu seperti apa pesta manusia aneh, cepat aku berganti celana jeans dan bergegas sebelum Sina mengamuk karena terlambat.
Aku terlalu memikirkan, tapi itu adalah pilihan Rina, aku sendiri tentu tidak bisa melakukan apa pun selain membantunya belajar,
Saat sampai ke tempat tujuan, sang putri temperamental sudah melihatku dari kejauhan dan berteriak,
"Kau terlambat An ."
Sina yang sudah berdiri tegak dengan pakaian kasual dan celana jeans dan menunjukan wajah sedikit kesal,
"Maaf kalau begitu, "
"Ya sudahlah tidak apa apa, ayo cepat kita masuk ."
Mungkin sudah beberapa minggu aku tidak ke Cafe, tapi di hari ini Sina menajakku kemari, bukan karena menyuruh untuk membantunya sebagai pelayan.
tapi kami berdua hanya sebatas menjadi pelanggan disini, berjalan ke sebuah tempat duduk yang sudah di isi oleh seorang laki laki dan perempuan.
Aku tidak begitu kenal dengan laki laki di sana, tapi untuk perempuan yang sedang menikmati Coffee late dengan sedikit makanan kecil berupa kue jagung, aku jelas kenal, dia adalah Yu,
"Maaf menunggu, perkenalkan ini pacarku ." Kata Sina dengan mendadak,
__ADS_1
Aku terkejut kenapa dia memanggilku pacarnya,
"Haah ...."
Satu injakan kaki membuatku tidak bisa melanjutkan apa yang ingin aku ucapkan. aku sedikit mengerti kenapa dia mengajakku ke tempat ini.
"Oh, jadi kau yang bernama Yoan, Anak kelas dua yang mendapatkan peringkat pertama itu ." Laki laki itu melihatku seakan kesal,
Dia laki laki dengan wajah sedikit tampan dan lebih banyak sifat buruk, aku bisa sadar saat dia mengatakan 'jadi kau ' dengan nada merasa dia lebih unggul,
"Ah tidak semua itu hanya keberuntungan saja ." Kata aku dengan malu.
Aku membalas pujian itu dengan merendah diri, sedangkan saat melihat Yu, dia mengalihkan pandangan ketika aku menatapnya.
"Kau tahu, aku Juio, kelas tiga ketua klub basket, kita satu sekolah ." Katanya dengan sombong,
"Maaf aku tidak kenal ." Balas aku yang memang tidak mengenalnya.
Dia kecewa, walau pun begitu memang aku tidak kenal jadi mau bagaimana lagi.
"Aku yang memenangkan kejuaraan basket high school di prefektur ini, masa kau tidak tahu ." Tentu dia dengan kesal membalas ucapanku.
Aku menjawab dengan ekspresi datar... "Maaf aku memang tidak kenal, bahkan aku tidak tahu sekolah kita memiliki klub basket ."
Semua orang di meja ini tampak terkejut, bahkan Yu menyembunyikan ketawa kecilnya saat mendengar balasnku.
"Ya aku pun ingin bertanya begitu ." Jawab aku membuatnya semakin kesal,
Sina yang tadi begitu menahan tawanya itu, sudah mencapai batas dan melepaskan semua tawa hingga semua pelanggan mendengar.
"Kalau wanita yang duduk di sampingmu aku kenal, Kalau tidak salah namanya Marzuki ." Kata aku dengan akrab.
Sina semakin melepaskan tawa yang tidak tertahankan lagi,
"Jangan asal menyebut namaku ." Jawab Yu yang memang aku sengaja melakukan itu.
Aku sedikit takut ketika melihat perubahan sifat sina yang tadi sedikit feminin berubah menjadi makhluk menyeramkan.
"Maaf, maaf, Ah kau itu ....,kau itu....kazuki ." Semakin membuatnya marah,
"Apa benar kita itu satu kelas, sepertinya kau tidak pernah memperhatikan siapa saja temanmu di kelas, aku itu Yuzuki... tapi jangan panggil aku dengan nama itu, " Kata Yu yang dengan lemas mengatakannya,
"Baiklah, yuz" Panggil aku dengan tersenyum lebar,
__ADS_1
Sina sudah kehabisan tenaga hingga air mata keluar hingga membaringkan kepala di pundakku, aku mendorong Sina, tetap dia merebahkan kembali, fan sekali lagi aku mendorong balik, hingga dia sekali lagi menginjak kakiku keras. Wajah Yu tampak memerah dia menahan rasa malu dan marah, pada akhirnya dia menenangkan diri.
"Ah sudahlah lupakan semuanya, " balas Yu menyerah,
"Baiklah." Jawab aku menyetujui.
Si kakak kelas yang entah aku lupa namanya mulai mengajak bicara,
"Dia satu kelas denganmu dan kini menjadi pacarku, aku ingin kau menjelaskan kalau Sina tidaklah dekat denganku dan menujukan siapa pacarnya." Kata Kakak kelas itu dengan tenang,
"Siapa dia, sejak kapan kita satu kelas, aku tidak ingat pernah bertemu denganmu ." Jawab aku dengan sengaja menunjuk kepada Yu.
"Arrrggghhh kau membuatku marah ." Teriak Yu dengan wajah yang memerah
Yu dengan suara bernada tinggi sedikit memukul meja, walau pun berlagak sok kuat, tapi tetap saja dia menggigit bibir karena kesakitan, Sina yang tadi sudah tenang. Menjadi suara tawa kembali hingga dia merebahkan kepala yang sudah tidak kuat ke pahaku, aku mengangkatnya, dia masih saja kembali lagi.
Saat aku akan mengangkatnya lagi, dia sudah siap dengan kepalan tangan yang di tunjukan dari bawah meja .
"Kenapa kau marah, sejak kapan aku berbicara denganmu, aku sudah lupa ." Kata aku yang masih sengaja mengatakan hal itu,
Dengan marah, malu dan mungkin rasa mulas yang tidak tertahan, Yu pergi meninggalkan kakak kelas yang tidak ingin aku ingat namanya itu,
Dan dengan tiba tiba.... "Oi, kau " Teriak Aku memanggil, karena aku tahu perasaan tidak nyaman melihat ini,
"Apa, apa yang ingin kau bicarakan, bukankah kau sudah melupakan semuanya ." Jawaban dari Yu dengan wajah seakan sudah menang,
"Bukan begitu, tapi...." Kata aku dengan ragu.
"Tapi apa ?, kau sudah membuatku malu ." Jawab kembali dia dengan senyuman,
Yu tidak ingin mendengar apa yang ingin aku ucapkan, dengan nada suara yang sedikit sombong, seperti kalau harga dirinya sangat mahal,
"Tapi..."
"Sudah cukup, aku ..." Katanya dengan memotong perkataanku,
"Berhentilah memotong perkataanku dan jangan pergi sebelum kau membayar makanan yang sudah kau pesan, aku sedang tidak membawa uang ." Kata aku menghancurkan pesona wajah tersenyum dari Yu,
Sina tertawa semakin puas dan wajah malu dari si kakak kelas yang katanya ketua tim basket itu juga sangat merah, sedangkan Sina yang tidak berhenti tertawa menutup wajahnya, hingga mereka pergi tanpa melihat kami berdua lagi.
"Kau itu kalau menjahili orang sampai mati kutu ." Kata Sina dari wajah yang dia tutupi ke badanku,
Sina sudah mulai menenangkan diri.
__ADS_1
"Biarkan aku seperti ini dulu, " Kata Sina yang masih menutupi wajah.
Entah apa yang dia pikirkan, tapi biarlah hanya saja aku merasa tidak nyaman dengan apa yang terjadi saat ini, setiap orang yang melihat kami mungkin beranggapan kami adalah sepasang kekasih, ya hanya karena aku memang dekat dengan Sina setiap orang menganggapnya begitu.