
Saat itu, bulan April, tanggal 23.
Musim semi, musim cinta bermekaran, cinta ?, bagiku cinta hanya sekumpulan gelombang Beta dalam otak , tentang bagaimana cara perasaan bernama cinta mempengaruhi manusia untuk mengikuti hasrat dan nafsu.
Ya, musim semiku saat ini telah gugur ketika bunga sakura bermekaran, tidak ada kebahagiaan, tidak ada pertemuan, tidak ada festival, tidak ada stand makanan dari gurita, atau kembang api ditengah malam.
Karena hari itu aku kehilangan sosok wanita luar biasa dalam hidupku.
Aku menginjak umur tiga belas tahun, tiap kali aku melihat ibu tersenyum, aku merasa takut, penuh kecemasan, tahu jika ibu hanya berpura-pura untuk tetap tenang, walau itu sepertinya menyakitkan.
Lebih dari sembilan jenis obat warna warni, ditelan habis ibu selama berbulan-bulan, setiap butir, setiap tegukan, dipaksa masuk walau terasa pahit. Jauh lebih banyak dari asupan nutrisi makanan yang dikunyah menggunakan sendok.
Sedangkan adikku masih belum tahu apa yang dipikirkan oleh ibu dalam wajah senyum penuh kesakitan, tapi ibu selalu berkata.
"Tak apa, ibu baik baik saja." Kata ibuku tersenyum getir dengan menahan sakit.
Selalu berkata demikian, membohongi aku dan Nagisa, aku tidak peduli, jika melihat ibu harus menangis menahan sakit. Tapi pasti akan aku buat ibuku tersenyum lebih indah dari biasanya.
Hingga suatu hari nanti, ibu tidak perlu lagi merasakan sakitnya penyakit yang terus menyiksa.
Wajah layu, tatapan sayu, kulit lusuh dan tubuh kurus kering, jarum infus, dua pula, tertanam dipergelangan tangan.
Aku melihat ayah yang berdiri di samping ranjang kamar rawat, wajahnya tangguh, walau tidak tersenyum, goresan keriput sebagai bukti nyata perjalanan hidup yang di jalani mereka berdua.
Dia lelaki tua yang selalu disibukan dalam urusan pekerjaan, hingga sesekali tidak pulang, tapi sejak ibu harus hidup dalam ruang serba putih di rumah sakit.
Ayah jadi lebih sering menemani ibu, dia datang lebih pagi dan pergi ketika larut malam, setiap menit tidak lepas genggaman tangan menemani Ibu disamping ranjang.
__ADS_1
"Ya, aku percaya padamu Hana, kau pasti akan baik baik saja, " Kata ayah dengan nada kuat tidak tergoyahkan.
Setelah mengatakan hal itu, ibuku tersenyum, wajah penuh semangat dengan semua alat kedokteran yang menempel diseluruh tubuh.
Detektor jantung bersuara nyaring, nafas naik turun, naik lagi, lama turun, lemas satu tarikan nafas dan berat untuk dihembuskan.
Aku merasa takut, sekaligus bingung, aku tidak bisa mengalihkan perhatian dari pandangan bentuk gelombang transversal berujung lancip.
Tiap kali detektor jantung berbunyi nyaring, semakin lama pula gelombang transversal itu muncul.
Senyum dibibir yang semakin mengering, wajah pucat ibu membuat tatapan matanya semakin layu, tidak bergerak, hanya diam dari atas ranjang berwarna putih.
Ayahku tidak bergeming melihat wajah cantik ibu, setelah hidup dua puluh tiga tahun untuknya sendiri dan empat belas tahun hidup bersama aku, nagisa dan ayah.
Aku bisa melihat raut wajah dengan kebahagiaan di ujung kehidupan yang dirinya jalani, dengan suara lemahnya ibuku berkata.
Ayahku tidak mengedipkan mata, jauh dari dasar hati, dia ingin berteriak, aku bisa melihat dari pancaran matanya itu.
Mata tua penuh kenangan dan rasa sakit, ketika melihat sebuah penderitaan dari orang yang dia cintai hanya berbaring diatas ranjang putih, berbau obat-obatan.
"Ya, Hana suatu hari nanti kau pasti akan melihatnya ." kata ayahku yang memegang tangan ibu.
"Ya, aku.. ingin ..melihatnya."
Ibuku berkata dengan mata penuh air mata, dalam hembusan nafas semakin lemah dari perkataan yang indah.
Satu tarikan nafas yang panjang, dan tidak lagi dihembuskan oleh ibu, diam suaranya, kosong tatapannya dan terjatuh tangan dari genggaman ayah.
__ADS_1
Para manusia berbaju serba putih datang, wajah mereka panik, bergerak cepat dengan semua alat kedokteran, pacemaker kencang menghentakkan tubuh ibu.
Segala macam tindakan dilakukan, tapi hanya gelengan kepala dari manusia berjas putih dan stetoskop menggantung itu.
Lemas setiap goyangan kepala dokter dengan hembusan nafas berat sembari berkata, "Ibu Hana sudah tiada, maaf."
Suara nyaring dari detektor jantung bergaris lurus, membuat senyum terakhir dari ibuku menjadi abadi. Perlahan tangan ayahku mendekat mengusap lembut wajah ibuku.
"Terima kasih, sudah membagi sisa umurmu untukku Hana, ikhlaslah karena sekarang kau akan bahagia di surga nantiĀ ."
Ayah yang sedikit berkaca matanya. Mungkin itu pertama kalinya, aku melihat wajah teguh seorang ayah, basah oleh air mata.
Jika aku harus tahu seperti apa kematian itu, maka aku tidak tahu apa pun, jiwa yang telah dipanggil oleh sang maha pencipta untuk meninggalkan dunia, dan hidup di akhirat menunggu hari perhitungan amal tiba.
Hanya itu yang terlihat jelas saat ini dan itu adalah hembusan nafas terakhir ibu yang membesarkan anak-anaknya untuk melihat keajaiban sang maha penguasa.
Hingga pada akhirnya senyuman ibu abadi didalam duniaku, itu menjadi hari terpanjang selama hidupku dan aku tidak akan pernah bisa melupakan setiap hal yang terjadi.
Aku arahkan pandangan mata menuju jendela, bisa aku melihat langit jingga di bulan April saat itu, ramalan cuaca tidak mengatakan kalau hari akan hujan. Tapi rintik gerimis datang membasahi bumi, aku terdiam, nafasku berat, suara nyaring itu masih berdengung didalam telinga.
Seakan dunia menangis bersama kami, aku menggigil, dingin angin musim semi membawa bunga Cherry blossom berguguran dan rintikan gerimis jingga.
Lekas aku ambil kamera diatas meja, berjalan menyusuri tangga, turun dan keluar.
Berjalan menyusuri gerimis, aku ambil foto gerimis jingga dengan serpihan bunga sakura yang indah tidak terperikan.
Ingin aku tunjukan foto ini kepada ibu, tapi itu tidak mungkin lagi, karena matanya sudah terpejam dan tertidur untuk selamanya.
__ADS_1