Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
Pergi


__ADS_3

Sina mengambil sebotol air minum yang dia teguk dan membasahi rambutnya, ya memang hari ini adalah hari yang begitu panas, untuk aku tentunya.


Setiap anggota ekstrakurikuler saling berbisik saat melihat aku lewat dengan berjalan bersama dengan sina, untuk sku sendiri tentunya tidak ada yang aneh.


Ini adalah hal biasa, bahkan secara umum di mataku tidak ada yang aneh untuk aku lakukan.


"Ketua, tenang saja semua baik baik saja, jadi jangan khawatir, bersenang senanglah ." Seseorang berteriak ke arah Sina.


Memang Sina adalah ketua dari klub ekstrakurikuler bidang atletik lari tentunya, sina membalas teriakan gadis itu,


"Aku tidak bisa tenang jika kalian berpikir hal yang membuatku marah ." Teriakannya itu membuatku pusing.


Aku melihat kelakuannya dan caranya bersahabat, memang sedikit kasar, tapi itulah tanda dia serius untuk saling bersahabat, dia wanita ceria dengan semangat yang berkobar.


Apa yang sering dia lakukan kepadaku adalah menarikku untuk melakukan setiap hal menakutkan dengannya, seperti memanjat pohon untuk sekedar melihat pantai dan barisan rumah dari atas.


mengingat kembali saat aku bermain bersama dengannya di sebuah taman, pohon yang berdiri tegak setinggi 8 meter, Sina memanjat dia menarik tanganku untuk mengikuti keegoisannya.


Tapi rasa penasaran dari hatiku yang bertanya...“Seperti apa pemandangan di atas sana .”


Itu adalah saat di mana aku melihat hal selain tulisan dan angka di dalam buku, berdiri di batang pohon besar dan sina yang berdiri di atas puncaknya mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya, sebuah buku yang aku kenal, dengan berbagai warna yang berbeda, dia menyobeknya.


Semakin kecil dan semakin kecil, saat itu apa yang aku lihat adalah sebuah keindahan, antara senja, laut, awan, ombak, ketinggian dan kerlap kerlip kertas sobekan yang di hamburan oleh sina.

__ADS_1


aku melihat hal yang selalu di pandangi oleh ibuku, yang ada di balik mata itu adalah ini, sebuah kebebasan dan keindahan.


Dia yang menujukannya, Sina menarik aku untuk keluar dari cangkang, dengan memaksa dan sikap kasarnya, walau demikian aku merasa lebih hidup, bahkan memiliki semangat mencari tujuan hidupku.


Kami menikmati suasana panas ini dengan berteduh di sekitar lapangan, dengan berbagai macam pohon besar yang menutupi sinar matahari siang. Aku merasa kesejukan semilir datang menghapus semua rasa lelahku ini.


"An, apa kau ingat saat itu, hari di mana kau putuskan untuk memisahkan diri dengan ayahmu, bukankah itu sama seperti siang ini ." Kata Sina dengan tiba tiba.


Sina mengingatkan aku kembali ke kejadian 2 tahun yang lalu, itu adalah empat bulan setelah kematian ibuku, apa yang aku pikirkan adalah dia ingin membawaku pergi untuk belajar ke Tokyo.


saat itu aku bisa merasakan suasana panas yang begitu menyengat, teriknya matahari aroma kulit kering dan keringat, aku masih bisa membayangkan seperti apa kejadian itu, dia menarikku dan berkata.


"Kita akan pergi dari sini, kalian akan ayah sekolahkan di Tokyo. "


Aku menolaknya, melepaskan tangannya, memberontak dan masuk ke dalam ruangan dari galeri ibuku, bertutup selimut dan memejamkan mata, berharap agar setelah hari ini semuanya akan berjalan dengan normal.


Saat itu aku sudah bisa membedakan mana yang terbaik untukku dan mana yang tidak, di balik pintu yang terkunci ini, teriakan keras dengan berkata..."Lakukan sesukamu, jika kau ingin melarikan diri dari kenyataan maka kau hanya akan berdiri di sini selamanya ."


Teriakan ayahku menggema ke seluruh ruangan rumah.


"Kakak." Panggil adikku dengan nada yang begitu sedih.


Itu adalah suara Nagisa yang memanggil,

__ADS_1


"Kakak." Sekali lagi dia berteriak memanggil.


Semakin keras memanggil dan semakin jauh saat aku dengarkan, aku tidak bisa membuka pintu ini, karena di dalam tempat ini memiliki aroma kehangatan yang sama seperti pelukan ibuku.


Aku tidak ingin meninggalkannya, hingga saat suara itu lenyap dan mobil yang beranjak pergi, aku sadar kalau aku telah di tinggalkan, tapi ini adalah pilihanku, aku akan menjalani kehidupanku yang aku pilih.


Saat berjalan keluar, hanya ada Sina yang berdiri melihatku matahari yang terik, sungguh panas dan menyengat, aku tidak kuat dengan aroma debu jalan yang panas ini, semuanya membuat hatiku terus merasa panas, bahkan berulang kali aku membasuhnya.


Tidak ada satu jengkal pun basah yang terasa sejuk di dalam hatiku.


Sina menyadarkan lamunanku, dengan guncangan lembut menggoyang pundak, aku tersadar, setelah sekian detik mengingat kenangan pahit itu, ya apa yang aku lihat saat ini sama seperti kejadian waktu itu, aku telah lama melupakannya.


"Sudah tiga tahun, kenapa kau tidak berbaikan dengan ayahmu An ." Kata Sina dengan melihatku serius.


Aku mengerti ucapan yang mengkhawatirkan itu, tapi Sina tidak mengerti apa yang terlintas saat mengingat hal itu, sebuah rasa di mana dia mencoba memisahkan aku dengan sesuatu yang sangat berharga.


"Entah lah, masih banyak hal yang membuatku berpikir dua kali, " Jawaban dariku dengan ragu.


Itu adalah jawabanku, Sina melihatku, kepala yang dia rebahkan di atas lutut kakinya itu, memandang apa yang aku pandangi di balik mata ini, dia tersenyum, walau dia wanita kasar yang tidak tahu sopan santun, tapi tetap dia adalah seorang wanita, wanita cantik dengan semangat hidup yang terus berkobar.


"Kau terlalu banyak berpikir An, apa kau tahu terkadang mengikuti perasaan dan membuang semua logika adalah cara terbaik untuk memberikan kenyamanan dalam hidup ."


Mendengar ucapan mutiara yang di sampaikan oleh sina adalah sesuatu yang menakjubkan, bahkan aku sendiri tidak ingin mendengar perkataan seperti itu dari mulut yang suka memaki ini, dengan serius aku melihatnya, yang jelas tatapan ku membuat suasana hatinya menjadi tidak nyaman dan berkata.

__ADS_1


"Apa apaan tatapan itu, " Katanya dengan berteriak.


__ADS_2