
Tidak berjarak jauh dari Halte, mungkin sekitar sepuluh puluh menit menuju kampung, kami berhenti di sebuah rumah sederhana dan ternyata lebih sederhana dari apa yang aku pikirkan selama ini, tembok rumah yang terbuat dari kayu dan atapnya dari genting kusam semua itu menjatuhkan pemikiranku tentang kehidupan ayahnya Rea di tempat ini,
Hingga seorang pria paruh baya yang usianya mungkin sudah 50 tahun lebih, bahkan dengan janggut panjang seperti menunjukkan seberapa tua usianya, dia berhenti saat melihat kami berdua, terdiam melirik ke kanan dan ke kiri, dan aku sendiri melihatnya dengan serius, sedikit berpikir kalau dia adalah ayah dari Rea dan mungkin orang tua itu sedikit gugup untuk menyapa anaknya, termasuk aku sendiri pun gugup untuk berhadapan dengan dirinya, tapi setelah beberapa menit menunggu tanpa mengatakan apa pun, orang tua itu langsung pergi,
"Tunggu, kenapa Anda mengabaikan kami ." Teriak aku.
Aku tidak terima saat dia pergi ketika anaknya mencoba untuk bertemu dengan dirinya, aku mengejar dan menepuk pundaknya,
"Bapak, ada apa dengan Anda, Rea datang untuk bertemu dengan Anda, " Teriak aku kepadanya,
Dia masih terdiam, berbalik melihatku, wajahnya berkeringat melirik ke kanan dan ke kiri, entah apa yang terjadi, orang tua itu wajahnya terlihat aneh dan berkata,
"Ada apa ini, kenapa kau melarang pergi ." Katanya dengan bahasa yang cukup aneh dari logat daerah.
Aku cukup mengerti apa yang orang tua ini katakan, tapi tidak berselang beberapa lama seorang keluar dari rumah itu dan terlihat rapi dengan kemeja yang dia kenakan, saat melihatku dia berhenti untuk menutup pintunya dan berkata,
"Anu, ada apa ini, apa yang terjadi di sini .," Katanya terlihat bingung,
Aku terdiam melihat sikap orang yang baru saja keluar itu menatap penuh dengan kebingungan, semakin lama aku semakin merasakan keanehan di sini,
"Ayah, ayah kah ." Suara Rea sedikit keras,
Dia laki laki yang menggunakan kemeja putih itu melihat arah suara lembut yang Rea panggil,
"Rea, kenapa kau di sini ."Katanya dengan tatapan bingungnya,
Ya ternyata aku telah salah dengan ini semua, melihat orang tua yang sama sama berdiri melihat adegan dramatis di mana Rea berjalan dengan tangan mencari suara dari sang ayah dan melihat sang ayah yang berlari menangkap anak gadisnya dengan air mata mengalir deras membasahi kemeja putih bersih yang mungkin baru saja dia setrika itu,
Aku masih terdiam melihat adegan ini dan telah melupakan orang tua di sampingku yang tadi aku berhentikan karena sebuah kesalahpahaman, tapi saat aku melihatnya, orang tua yang berdiri tegap di samping sebelah kanan aku berdiri, sedang terisak menahan tangisannya itu,
"Sungguh mengharukan sekali yah pak ." Kata aku terbawa suasana,
"kau benar ." Katanya yang masih berdiri melihat lalu pergi begitu saja.
"Ah, iya ." Jawab aku melihat orang itu pergi,
Bahkan melihat orang tua berjanggut itu pergi sekali pun, dia masih terisak dan mengusap air mata dengan tangan kotornya, aku sedikit iri melihat apa yang terjadi di hadapanku, walau jika aku samakkan dengan ayahku sendiri dia tidak akan mempermalukan dirinya hanya untuk berlari dengan menangis hanya karena bertemu denganku, aku tidak bisa membayangkannya, meskipun begitu, aku sudah bahagia jika aku ingat seberapa dalam arti perkataannya waktu itu,
"Sebuah keluarga itu akan selalu mengerti apa yang kita pikirkan, dan akan selalu tahu apa yang kita rasakan, kah ." Gumamku,
Aku tersenyum sendiri saat mengucapkan perkataan dari ayah yang terlintas dalam benakku di saat ini, saat aku mendekat ayah dari Rea itu berkata,
"Jadi siapa dia Rea ." Ayahnya Rea itu bertanya dengan tatapan menakutkan,
Rea hanya tersenyum menanggapi perkataan dari ayahnya itu, sedangkan ekspresi ayahnya seperti terkejut dan bingung melihatku,
"Jangan bilang dia itu pacarmu ." Kata Sang Ayah yang menebak dengan perasaan marah,
Rea tidak menangguk, tapi tetap dia tersenyum mendengar apa yang di katakan oleh ayahnya, melihat ke arahku tatapannya seperti anak kecil yang tidak ingin mainannya di ambil oleh orang dan berkata,
"Jangan harap aku akan melompat bahagia saat mendengar anakku sudah memiliki pacar ." Katanya dengan nada marah,
Sungguh perkataannya mengartikan bahwa,
'Jangan harap aku sudi memperbolehkan anakku berpacaran denganmu, memangnya siapa dirimu .'
__ADS_1
Ya mungkin itu yang terpikirkan olehnya, aku hanya tersenyum menanggapinya, tapi apa yang ayahnya katakan adalah,
"Terima kasih sudah mengantarkan anakku kemari, silakan Anda pergi dari sini ."
Ya sungguh ayah yang sangat perhatian dengan anaknya dan aku merasa tersisihkan di sini,
"Ayah, jangan berkata seperti itu, An sudah membawaku kemari dan tanpa dia aku tidak akan mengerti tentang betapa indahnya kehidupan ini ." Kata Rea yang tentu sangat indah aku dengarkan,
Ayahnya semakin terkejut, saat mendengar apa yang di katakan oleh anaknya itu, wajahnya berubah marah, melihatku dengan aura mengintimidasi yang sangat kuat,
"Apa yang telah kau lakukan kepada anakku, aku ingin mendengar penjelasan itu darimu bocah, cepat masuk ke dalam ." Teriaknya membuatku mati langkah,
Jika aku bisa menggambarkan dengan apa yang terjadi di sini, aku sudah seperti seorang narapidana yang siap untuk di interogasi dan di hakimi oleh ayahnya Rea itu, walau setidaknya aku sedikit terkejut saat melihat apa yang ada di dalam rumah kayu kusam ini, sebuah studio komputer dengan semua perangkatnya yang super canggih termasuk fasilitas internet di dalam ruangan ini,
"Wah tidak aku sangka tempat ini mengagumkan, apa ini ..."
Ya aku terkagum saat melihat sebuah gambaran proyek tenaga listrik dengan turbin air terjun dan sistem pengolahannya,
"Jangan sentuh apa pun, aku tidak ingin tempat kerjaku ter nodai oleh tangan kotormu, dan juga termasuk untuk putriku ." Kata sang Ayah yang begitu perhatian ini,
Aku terkalahkan oleh orang tua ini, walau pun begitu aku tidak bisa berbuat banyak jika sudah mendapatkan situasi di mana aku tidak bisa menyampaikan pembelaan, aku merasa aku sudah di jatuhi hukuman mati tanpa memberikan pembelaan sedikit pun,
"Jadi siapa namamu, " Bertanya dengan tatapan mengerikan,
Aku tersenyum, mendengar nada dari perkataannya, sungguh membuatku ingin berdiri dan pergi dari situasi ini,
"Anu om..., " Kata aku sedikit gugup
"Jangan panggil aku om, memangnya aku pernah nikah dengan tantemu apa ." Terpotong percakapan ini,
"Baik pak, "
"Baik tuan, "
"Ah begitu, lanjutkan ." Katanya
Sungguh menyebalkan, aku menelan semua emosiku dan melanjutkan perkataanku,
"Aku Yoan...."Setelah mendengar namaku ketika dia sedang meminum kopinya, langsung menyemburkannya kembali dan itu ke arahku,
"Terima kasih atas kopinya, " Rasa marahku terbasuh oleh kopi yang di semburkan Ayahnya Rea ini,
"Yoan .....Yoan, anak dari Ryu ." Katanya dengan wajah terkejut,
"Maaf tuan, tapi aku memang anak Ryu ."
"Ah kenapa kau tidak bilang dari tadi ." Kata orang tua ini dengan gugup,
"Karena aku tidak di beri kesempatan untuk membela diri pak tua ." Gumamku dalam hati ketika melihat sikap dan nada bicaranya berubah.
paling tidak ini bisa mengubah sudut pandangnya tentang aku di matanya, setelah semua pertanyaannya selesai untuk aku jawab dia kembali bertanya,
"Jadi kapan kalian akan menikah ." Tentunya pertanyaan itu tidak memiliki hadiah jika aku menjawabnya,
"Itu terlalu jauh tuan jika kau berpikiran seperti tante Tina ." Teriak aku dengan terkejutnya,
__ADS_1
"Tolong jangan panggil aku dengan tuan, panggil aku ayah saja ." Kata dia dengan senyum lebar,
Perubahan yang sangat drastis untuk aku ikuti,
"Kami sini untuk membawa Anda kembali ke tokyo ." Kata aku untuk mengalihkan pembicaraan,
"Panggil aku ayah ." Tetap orang tua ini masih keras kepala,
Entah kenapa ini pertama kalinya aku ingin memukul seseorang, tapi itu akan menjadi sebuah kejahatan,
"Baiklah om ." Ulang aku meluruskan pembicaraan,
"Ayah ." Kata orang tua ini dengan tersenyum,
"Baiklah ayah, " Aku kalah dan mengikuti keinginannya,
"Good job, lanjutkan, " Dia mengacungkan jempolnya,
"Kami ingin membawa Anda kembali ke tokyo dan ayahku sudah mempersiapkan tempat untuk ayah bekerja di perusahaan ayahku ." Kata aku dengan sedikit rasa sebal yang masih mengganjal,
Dia sedikit berpikir, menyempitkan dahinya hingga kedua alisnya bertemu dan menjawabnya dengan nada bingung,
"Ah mungkin untuk beberapa waktu ini aku tidak bisa meninggalkan tempat ini, karena aku sudah menikmati tujuanku yang baru, aku ingin memberikan sedikit kebahagiaan kepada semua orang dengan kemampuanku dan melihat hasil karyaku membahagiakan mereka semua ." katanya dengan senyuman seperti seorang pemenang,
Aku mulai berpikir kalau dia bukan orang yang pergi untuk menutup diri dari semua masalah kehidupannya, tapi orang tua ini datang ke tempat ini karena memiliki tujuan baru, sebuah impian lama yang membawanya datang untuk memberikan kebahagiaan, ya walau kami tidaklah datang ke tempat ini untuk berlibur sekali pun,
Saat malam hari adalah sebuah keindahan tersendiri untukku, keindahan pemandangan alam saat malam dengan langit yang belum ternodai polusi, berdiri di depan rumah sekali pun aku sudah bisa melihatnya, seperti taburan bintang dengan berbagai rasi tersebar acak di segala sudut langit dari pandanganku,
"An, apa kau ada di luar ." Panggil Rea yang mendekat dengan tangan seperti mencari,
"Ia nona, aku di sini ." Aku menjawabnya dan memegang tangannya itu,
Rea yang keluar rumah tanpa menggunakan tongkatnya, seperti biasa dia tidak pernah percaya dengan tongkat yang membantunya melihat, tapi dia percaya dengan apa yang dirasakan oleh kaki dan tangannya,,
"Nona, kenapa kau keluar, di sini dingin ." Kata aku berdiri di depannya,
"Tak apa An, aku ingin mendengar suaramu ." Jawab Rea dengan senyuman manis,
Ya sedikit romantis memang dan aku sendiri merasa senang untuk ini, menggenggam tangan kecil yang terasa hangat itu membuatku melupakan dinginnya malam di tempat ini,
"Terima kasih sudah membawaku ke sini An, " Kata Rea dengan sedikit malu,
"Ah, bukan masalah besar nona, aku sendiri hanya ingin memberikan sesuatu untuk Anda, sebelum aku berangkat ke Amerika ." Jawab aku menikmati suasana,
Rea sedikit terdiam saat mendengar ucapanku barusan, aku sendiri masih saja gugup setelah sekian lama mengenal dirinya, berdiri di luar dengan semua keindahan ini membuatku merasa kesal karena aku tidak bisa memperlihatkan apa yang begitu menakjubkan untuk aku bagi bersama dengannya, tapi sejenak kami terdiam dalam keheningan ini, tangannya menggenggam lebih erat dari biasanya dan berkata,
"Kau tahu, mungkin sejak kita bertemu di rumah sakit sejak waktu itu, aku sudah mencintaimu An, aku yang berusaha mencari perhatian laki laki pendiam dengan buku di hadapannya dan aku kesal karena tidak bisa mendapatkan itu ." Kata Rea dengan tiba tiba dan semakin erat pula dia menggenggam tanganku,
"Ah soal itu, sejak saat itu entah kenapa aku mulai berpikir kenapa aku melupakan kejadian di mana kita bisa bertemu, seperti takdir yang menghubungkan kita, aku masih tidak percaya kau yang dulu adalah gadis menyebalkan yang terus menggangguku dan sekarang aku bisa menggenggam tangan hangat ini ." Jawab aku membuatnya tersipu,
Aku menjadi sedikit gemetar, merasakan sebuah situasi seperti ini dan dengan menguatkan semua keberanianku aku berkata,
"4 tahun, tunggulah aku empat tahun di saat aku kembali dari semua pendidikanku di sana, bisakah aku melamarmu Nona." Kata aku dengan gugupnya,
Dia tersenyum dan tanpa sadar mulai meneteskan air mata, berusaha mengusapnya dan menguatkan hati untuk menjawab,
__ADS_1
"Ya, aku akan menunggumu, dan aku akan ikut operasi mata, untuk bisa melihat dunia di mana ada kau di sampingku ." Jawabnya yang tentu membuatku merasa bahagia,
Ya itu adalah sesuatu hal yang indah, bukan tentang harta atau kekayaan, bukan tentang prestasi atau pun penghargaan, ini adalah sesuatu yang bisa di lihat oleh setiap manusia, tidak mampu di gambarkan tapi abadi untuk di kenang, sebuah perasaan tentang cinta dan lebih banyak cinta di malam ini,