Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
super Hero


__ADS_3

Aku tahu itu, aku tahu apa yang dia inginkan, melihat Rea meneteskan air mata, dan mulai membasahi baju sekolah belum sempat aku ganti. hanya berusaha agar Rea baik-baik saja.


"Aku ada di sini untuk mengerti harapanmu ." Kata aku mencoba membuat Rea tenang,


"Aku tidak mengerti apa takdir benci dengan diriku, " Kata Rea menyalahkan dirinya sendiri,


"Tidak, karena takdir adalah bagian hidup kita, saat ini takdir sedang menguji seberapa tangguh cinta yang kau miliki ." Jawaban untuk perkataan Rea dalam kebimbangan.


Semua ini adalah alasanku, aku yang berdiri untuk membuat Rea tetap kuat, seperti halnya diriku sendiri atau mungkin semua orang yang memiliki nasib sama seperti kami berdua.


"Aku ingin bahagia, aku ingin kebahagiaan itu tidak hancur ." Keras perkataan Rea dipenuhi emosi.


"Aku pun sama, aku ingin memperbaiki apa yang telah hancur dan membuat kebahagiaan baru di dalam hidupku ." Jawab aku dan semakin erat memeluknya.


Dia terdiam, seperti sulit untuk mengatakan isi hatinya atau bingung untuk menjawab, tapi aku tegap menunggu ucapan itu dari hati.


"Tolong aku, selamatkan aku, aku tidak ingin semua yang aku miliki hancur begitu saja ." Itu adalah sebuah permohonan.


"Ya, aku tahu dan aku pasti akan menyelamatkanmu " dan aku menjawab dengan pasti.

__ADS_1


gadis ini mencari seseorang yang bisa menjadi tempat untuk membagi semua masalah. Sejenak aku berpikir ketika Rea menjadi lebih tenang dan aku berkata.. "Ayo, kita melihat hal yang sudah lama tidak kita datangi."


Dia mengangguk dan dia pula mengerti apa yang aku maksud, sebuah tempat di mana aku memulai kisah antara aku dengannya, sebuah tempat di ujung pantai, di atas karang saat senja datang.


Aku menarik tangan Rea pergi dari kesedihan, menunjukkan sebuah kebahagiaan di mana aku menemukan sebuah permata indah yang sangat berharga.


Hingga Nagisa pun hanya terdiam, tidak menghentikan apa yang aku lakukan, dia tersenyum lega dan untuk ke sekian kalinya aku bahagia memiliki keluarga seperti Nagisa.


Semua di dunia ini terhubung oleh satu garis, dimana mereka berjalan di dalam garis yang bernama takdir, seperti sebuah teori tentang sebab dan akibat. Semua memiliki hubungan timbal balik dari hukum alam di dalam rimba dunia yang bernama kehidupan. Hukum itu adalah karma, seperti yang dikatakan oleh pepatah, walau kita selama ini tidak tahu siapa pepatah itu, tapi ini memang berlaku di dalam sistem kehidupan ini dan itu berbunyi.


‘Apa yang kau tanam dan itulah yang akan kita tuai ‘


Jadi apa yang aku lakukan saat ini adalah hasil dari perbuatanku kemarin dan apa yang aku dapatkan di hari ini adalah apa yang aku berikan kemarin.


Mengarahkan ke mana langkah kaki kecil itu berjalan, aku naik ke sebuah karang, tempat biasa aku melihatnya berdiri dengan semua perasaan yang dia miliki, kami berdua sama rata, memandangi langit yang sama, sebuah perasaan hangat dan damai, itu terlihat jelas di senyumnya saat ini, bahkan tetesan air mata itu bukan sebuah kesedihan seperti tadi, aku memulai perkataan, sebuah situasi di mana aku akan menentukan seperti apa yang akan terjadi esok hari dan seterusnya,


"Kau tahu nona, berawal dari tempat ini aku mulai mengagumimu, di kafe itu aku mulai berbicara kepadamu, di kota ini kau menemukanku dan di saat ini aku ingin mengatakan, jangan menganggap kau sendirian, aku ada di sini untuk menemanimu, aku ada di sini untuk bersamamu dan biarkan aku menjadi tempat di mana kau bisa menceritakan semua kesedihanmu, kebahagiaanmu dan semua kemarahanmu, jadi biarkan aku bersamamu.".Aku berdiri di sampingnya menghadap ke lautan.


Dia terdiam tidak menjawab apa pun, tanganku yang tidak di lepaskan olehnya, membuatku hangat, ini sebuah perasaan untuk aku bisa memulai sesuatu yang baru, antara sebab dan akibat, antara karma dan takdir,

__ADS_1


"Ya aku tahu, aku sudah tahu itu kau yang pasti akan menyelamatkanku, aku pun percaya, kau ada di sini untukku ." Kata itu seperti membuatku lebih hidup dan merasa bahagia di tempat ini.


Dan aku menjawabnya, dari semua hal yang telah aku pikirkan, aku memilih kata yang tepat untuk menggambarkan semua ini, jadi...


"Tapi biarkanlah, seperti ini, agar aku tidak bosan untuk mengagumimu, aku di sini masih pecundang, tunggu aku hingga pantas untuk mencintaimu ." Dia tersenyum mendengar perkataanku dan menjawabnya,


"Ya aku akan menunggumu, hingga nanti aku bisa memandangi wajahmu, tanpa ada gelap di dalam pandangan mata ini, " Itu membuatku berterima kasih telah hidup di kota ini.


Aku bahagia saat mendengar itu dengan jelas, dia yang tersenyum, salah satu dari sedikit kebahagiaan.


merasakan suasana tenang tanpa memikirkan masalahnya aku sadar, aku masih ingin melihat lebih banyak kebahagiaan dengan mata ini dan aku abadikan di dalam bingkai untuk bisa aku kenang selamanya,


Aku tidak bosan untuk berdua dengan Rea di pantai ini, walau hanya sebatas menikmati suasana sore dan suara gemuruh ombak, sedikit tenang aku menanyakan hal itu,


"Jadi apa keputusanmu sekarang nona, " Bertanya aku untuk melihat apa yang akan terjadi,


"Mungkin aku akan mencoba untuk memperbaiki keadaan agar ibuku bisa mengerti kalau aku hanya ingin dia bersama kembali dengan ayahku ." Itu jawaban yang aku tunggu,


Aku merasa kecil di sampingnya sekarang, dia sudah memutuskan untuk melakukan sebuah pertarungan dengan dirinya sendiri, melawan keegoisan dan dia berhasil melakukannya, sedangkan aku masih duduk terdiam memikirkan hidupku sendiri.

__ADS_1


"Baguslah kalau begitu, jika kau membutuhkan bantuan aku pasti datang di mana pun kau berada ." Kata aku dengan senyum sombong.


Seperti seorang super hero, aku sadar betul dengan aku mengatakan hal itu, aku telah memutuskan untuk bisa menjaga Rea dengan seluruh kemampuanku dan ini sebuah tanggung jawab di mana aku harus siap dengan segala konsekuensi dari janjiku ini.


__ADS_2