
Seperti biasa, aku selalu pulang ke rumah di jam enam malam, hanya untuk memperhatikan gadis yang biasa berdiri di atas karang, tapi sudah beberapa hari setelah dia menginap di rumahku, aku tidak bertemu dengannya, bahkan selama tiga hari berturut turut, aku yang berjalan dengan memikirkan dia, aku berbicara sendiri di setiap langkahku,
"Ya, mungkin besok aku akan ke rumahnya saja ." Gumamku memikirkan Rea,
Di depan rumahku, aku sedikit berhenti saat melihat sebuah mobil mewah keluaran produsen mobil ternama di Eropa parkir di depan rumah ya mungkin dengan nama awalan B, lanjutannya M dan W, ya salah satu mobil mewah di tempat ini, walau pun begitu entah seperti apa bentuknya, siapa pemiliknya aku tidak peduli dan yang lebih jelas itu mengganggu langkahku, mobil ini menghalangi pintu masuk ke dalam rumah dia parkir tepat di tengah pagar, aku sedikit marah melihatnya, tapi walau begitu inilah pertanyaan yang tepat di dalam situasi seperti ini,
“Aku tidak pernah merasa mengundang seseorang untuk datang ke sini, sedangkan semua orang yang aku kenal tidak ada yang memiliki mobil mewah seperti ini, ” Gumamku sedikit kesal,
Ya walau pun memiliki mobil mungkin hanya sebatas pick up, aku mencoba untuk mencari celah agar bisa masuk ke rumah, tapi aku tidak bisa menemukannya, sedangkan tidak ada seorang pun yang bisa aku minta tolong untuk menyingkirkan benda ini, dengan sedikit kesal aku bersiap untuk mundur ke belakang dengan perhitungan sekitar lima langkah, mengukur tinggi dari mobil dan memastikan atap yang akan aku pegang tidaklah licin, dengan semua persiapan yang telah aku analisa, aku meregangkan semua otot untuk memastikan tidak ada yang cedera ketika aku akan melompat,
"Jangan remehkan aku, dasar rongsokan ." Teriak aku dengan percaya diri,
Berlari dan mempersiapkan langkah untuk melompat, tepat saat tangan menyentuh atap, aku melompat, memutarkan tubuh ke atas saat posisi berada di sudut 90 derajat tepat tegak lurus dengan kaki di atas, aku turunkan ke dua lenganku, memiringkan untuk mendapat sudut 120 derajat dan melontarkan tubuhku dengan kekuatan tangan ini, berdiri tepat dengan membelakangi mobil itu, ya mudah saja aku bisa melewatinya, hingga aku bergumam,
"Mudahkan ." Tersenyum puas,
Aku berdiri dengan sombongnya, menepuk kedua tanganku untuk membersihkan kotoran yang melekat, tapi di saat yang sama seorang gadis kecil berambut hitam panjang dengan tinggi mungkin hanya satu meter lebih sedikit menurut pandanganku,
"Ah, apa adik kecil lakukan di sini ." Tanya aku melihat gadis imut ini,
__ADS_1
Aku mengusap kepalanya, ya memang sedikit terbawa suasana saat melihat wanita yang lebih muda dari aku sendiri, melihat wajahnya memerah dan dia sembunyikan dengan menunduk, aku berhenti mengusapnya, saat tersadar karena terlalu menikmati rasa dari terbawa suasana, saat berjalan ingin masuk ke dalam rumah, gadis kecil itu mengikuti dengan tangannya yang menggandeng dan melangkah di belakangku,
"Jangan harap aku akan menuruti perkataanmu dan ibumu itu ." Suara Nagisa sedikit berteriak,
Ya, aku bisa mendengar teriakan dari suara Nagisa, dia sedang berbicara kepada siapa, aku tidak bisa menebaknya, sedangkan kata dari 'ibumu' bertuju kepada siapa, aku ingin melihat apa yang terjadi, ketika aku akan membuka pintu suara dari seorang wanita yang tidak aku kenali membalas teriakan Nagisa,
"Apa yang salah, aku itu ingin menjadi kakak yang baik, berada di tempat seperti ini kau itu hanya akan membuang kepintaranmu ." Teriak suara wanita tidak di kenali,
Aku memutar gagang pintunya, dengan seorang gadis kecil yang terdiam dan terus mengikutiku, aku sedikit ragu untuk masuk, perbincangan ini sebenarnya bisa aku tebak bertuju kepada apa, bahkan dari setiap kata yang mereka ucapkan aku sendiri sudah mengerti kenapa, melihat seseorang dengan rambut hitam tebalnya berdiri saling berhadapan dengan Nagisa, dia yang bisa aku tebak berumur sama denganku, saling menantang dengan Nagisa, aku sebenarnya tidak ingin melihat kedua orang ini berkelahi di dalam ruangan ini, aku tidak ingin melihat semua perabotan melayang berantakan, aku melihat si gadis kecil, mendekat dan menempelkan jari telunjukku ke bibirnya,
"Ssssttt jangan berisik ya " Kataku pelan,
Dia mengangguk, ya senang melihat seorang anak kecil yang menurut apa kataku, ya mungkin karena sewaktu Nagisa kecil aku tidak pernah menjaganya, sehingga melihat dia aku bisa sesenang ini,
"Kau itu selalu ...selalu saja keras kepala, Ayah memberikan semua yang kau inginkan, tapi kau tetap saja bertindak seenaknya sendiri." Balas teriakan Nagisa,
Aku memperhatikan wajah Nagisa yang marah dan seperti ingin menangis, wanita itu seperti menekan Nagisa dengan pertanyaan yang memojokkannya, aku yang tentu tidak bisa tinggal diam dan berkata,
"Jika kau hanya berniat untuk melarikan diri, maka kau akan terus terus terhantui oleh kesalahan, jangan pernah menjadi seperti kakakmu ini Nagisa." Kata aku saat berdiri di depan pintu,
__ADS_1
Suaraku menghancurkan suasana menegangkan dari kedua gadis yang saling berhadapan itu, mata Nagisa tampak sudah tidak bisa menahan semua air matanya, aku sendiri berjalan menampakkan diri dengan seorang anak kecil yang berdiri tepat di sampingku,
"Aku tidak bisa menyalahkanmu Nagisa, tapi aku tidak ingin kau seperti kakakmu ini Nagisa, yang hanya bisa bersembunyi dari semua kesalahan." Kata aku dengan maksud untuk menenangkan dia,
Nagisa terlihat marah, dengan air matanya yang tumpah dengan deras ke pipi lembutnya,
"Aku yang memilih ini, aku yang akan menanggung semuanya, jadi kakak tidak perlu ikut campur atas hidupku ." Teriak Nagisa kepadaku,
Melihat wanita yang berdiri menghadap ke arahku, dia tidak berbicara atau pun memotong setiap perkataan dari Nagisa, wajahnya tampak memerah dan sedikit malu untuk terlalu sering memandang ke arahku,
"Kau itu adikku, 14 tahun aku sudah mengenalmu, walau di tiga tahun ini aku tidak bersama, tapi itu tidak mengubah apa pun kalau kau masih adikku, jika kau merasa ini adalah pilihan terbaik untukmu, kakak tidak akan senang kau lebih memilih melarikan diri dari kenyataan yang harus kau hadapi Nagisa ." Balasku dengan perkataan yang tenang.
Dia terlihat sangat marah, tangannya mengepal, bibir yang dia gigit untuk menahan teriakannya, aku bisa melihat setiap rasa marahnya , tubuh yang bergetar hingga tangan itu tidak kuat lagi untuk menahan rasa marahnya, Nagisa menghantamkan kepalannya ke meja, berjalan ke arahku dan berkata,
"Aku mencintai kakak, aku tahu kakak menanggung ini semua sendirian, karena itu aku memilih jalan ini, karena...." Kata Nagisa dengan air mata tangisnya,
"Karena kau sudah muak untuk menjalani kehidupan yang tidak sesuai dengan harapanmu kan, kakak tidak ingin kau memilih jalan seperti ini, melarikan diri dari kenyataan dan pada akhirnya hancur dari kesalahan diri sendiri, kakak tidak inginkan itu " Potong aku mengatakan perkataan yang menjawab apa keinginan Adikku ini,
Nagisa dengan marah mengambil sebuah gelas yang dia lemparkan, gelas itu membentur kepalaku, darah yang mengalir dari kepala membuatnya Nagisa ketakutan, wajah yang bingung pada akhirnya dia berlari pergi untuk masuk ke dalam kamarnya, suara gebrakan pintu itu di liputi semua emosi yang bercampur aduk di dalamnya,
__ADS_1
"Apa kakak baik baik saja ." Wanita itu berkata dengan panik.
Wanita itu mendekat, namun rasanya kepala ini ingin sekali berbaring, rasanya sakit, tangan yang berwarna merah untuk menahan sobekan kulit dari benturan gelas itu masih mengalir, hingga pada akhirnya aku merasa .....