Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
perut dan otak


__ADS_3

Keesokan hari, ketika matahari sudah beranjak naik menuju langit, hembusan angin melewati celah jendela dan jam weker berbunyi nyaring untuk membangunkan majikan.


Setiap manusia telah bangkit dari tidurnya, sudah bergegas untuk melanjutkan semua aktivitas yang tertunda di hari lalu, rutinitas monoton dalam kehidupan, mereka hidup seperti dalam lingkaran mayoritas masyarakat yang harus mengabdikan diri dalam pekerjaan.


Pergi pagi hari, duduk di bangku depan komputer, mengurus semua berkas, menunggu kepala bagian memarahi, menolak proposal, kepala pusing dengan semua tugas tertumpuk, pulang petang setelah bekerja lembur dan hanya disemangati oleh gajian.


Sedangkan aku sendiri masih membaringkan kepala di atas bantal, menikmati kehangatan di dalam selimut dan ingatan tentang semua masalah yang terjadi beberapa hari ini.


Tapi terasa tangan begitu berat untuk aku angkat, melihat jam dinding yang masih pukul setengah tujuh pagi, membuat mataku perih untuk terbuka semua.


"Beratnya." Gumam ku merasa malas untuk bangun, seperti ada yang menahan tubuh.


Terdengar dari luar kamar seseorang berlari dan berteriak saat membuka pintu kamarku, "Kakak gawat Rea menghilang ."


Aku pun terkejut tapi serasa tubuhku tidak bisa bergerak untuk bangun, Nagisa yang terdiam dan hanya berdiri di pintu kamar.


Memperlihatkan ekspresi wajah serius dan ada tatapan mata kesal dengan tangan menunjuk ke arah kasur tempatku tidur.


"Ada apa Nagisa apa yang terjadi, kenapa beberapa hari ini kau melihat kakakmu seperti itu ." Bertanya aku ketika memperhatikan ekspresi wajah Nagisa aneh.


Nagisa berjalan mendekat perlahan, aku tidak menyukai wajah adikku yang itu menkadi semakin seram, melihat tangan mulai mengepal, aku sendiri baru sadar ketika aku merasakan sesuatu di balik selimut bergerak.


Nyatanya Rea yang dikatakan menghilang Kini sedang tidur di sebelahku, lebih tepatnya berada di dalam selimut.


"Apa yang kau pikirkan kakak ." Teriak Nagisa keras.


Tanpa memberikan aku waktu untuk menjelaskan apa yang terjadi, dia menghantamkan tinju keras ke kepala. sungguh menyebalkan jika harus mengawali pagi dengan sebuah kesialan ini.


Setelah beberapa saat Rea akhirnya terbangun dan mengangkat tubuh, cukup santai Rea menguap sambil berkata.... "Selamat pagi."

__ADS_1


Melangkah turun dari ranjang dan meregangkan tubuh dengan penampilan berantakan.


"Sejak kapan kau ada di kamarku nona ." Bertanya aku dengan kesakitan dari Nagisa.


"Aku tidak tahu, tapi mungkin setelah Nagisa tertidur, aku berjalan mencarimu." Jawabnya dengan tenang dan seakan tanpa dosa apa pun.


Sedikit berubah, wajah Rea yang semalam begitu sedih, tertekan atau pun menumpuk banyak masalah. Sekarang dia menjawab apa yang aku tanyakan secara biasa saja.


Tapi dari semua itu, Ajaibnya Rea memang menemukan kamar tidurku, entah bagaimana caranya, tetap aku tidak mengerti sama sekali.


"Jadi kak Rea kenapa tadi malam kakak sedih seperti itu." Nagisa tanpa basa basi langsung saja bertanya mengenai persoalan semalam.


Aku sendiri menyadari akan wajahnya yang berubah drastis menjadi termenung, saat mendengar apa yang di tanyakan oleh Nagisa.


Rea ingat kembali tentang kejadian semalam... "Ceritanya panjang, tapi singkatnya aku bertengkar dengan ibuku ." Jawabnya dengan lemas.


Entah kenapa aku dan Nagisa menjadi terdiam, aku sendiri tidak bisa mengeluarkan sepatah kata pun, melihatnya seperti menahan emosi yang ingin dia keluarkan. Kami berdua seperti terhipnotis saat melihat ekspresi Rea. Tapi dalam diam kami berdua, di pecahkan oleh Rea yang berkata...."Maafkan aku, merepotkan kalian berdua, tapi aku minta biarkan aku tinggal beberapa hari di sini untuk menenangkan pikiranku ."


"Aku tidak tahu." Berat Rea menjawab.


"Nona, ingatlah, bagaimana pun dia adalah ibu anda, jangan melakukan sesuatu yang membuatnya khawatir, karena ibu nona pasti punya alasan kenapa marah." Aku coba menenangkan pikiran Rea.


"Baiklah, dan juga terima kasih, " Sungguh Rea mengatakan itu dengan senyuman lemas.


Tapi dengan topik pembicaraan ini terasa begitu berat untuk kami semua hadapi. Saat Nagisa dan Rea membicarakan sesuatu yang begitu serius, aku memotong untuk membuat suasana menjadi lebih tenang,


"Selama nona mengerti, Mari kita makan terlebih dahulu, jangan lupa perut dan otak saling terhubung, perut kosong tidak bisa untuk berpikir." Coba aku membuat keadaan sedikit lebih baik,


Aku berjalan ke dapur dan mempersiapkan semua makanan di atas meja makan, Nagisa menuntun Rea berjalan ke arah ruang makan. Semuanya tampak suram, tidak ada sepatah kata pun keluar dari mulut kami, gerak tangan dengan sumpit, hanya suara kunyah dan telan saja.

__ADS_1


Pada akhirnya aku memulai pembicaraan,


"Nah Nona kalau aku sendiri tidak masalah, jika kau ada disini untuk sementara waktu, tapi apa kau akan terus seperti ini, pertengkaran itu tidak membuat hidup menjadi nyaman." Kata aku sedikit memperhatikan wajah Rea,


"Dan kakak juga melakukan itu, apa kakak tidak berpikir demikian, selama tiga tahun bertengkar dengan ayah." Sindir Nagisa.


Sedikit lama untuk Rea menjawabnya,


"Aku tahu, aku sendiri tidak ingin terus berada di dalam masalah dengan ayah, dan aku ingin menyelesaikannya ." Jawab Aku atas sindiran Nagisa.


"Aku akan coba berbicara dengan ibuku." Jawab Rea yang memahami permasalahan ini.


Setidaknya aku mendengar apa yang dia katakan dengan sedikit keyakinan dan semangat, mungkin aku hanya sedikit khawatir untuk terlalu memikirkan masalah Rea.


"Nona, anda tunggu saja di rumah ini, istirahatlah, kami berdua ada ujian, jadi kami berdua pulang cepat hari ini, jangan terlalu berpikir berat, anggap saja rumah sendiri. " Kata aku yang mungkin sedikit berat meninggalkannya,


"Apa itu artinya aku bisa menjual rumah ini."


"Tidak sampai begitu juga nona."


"Ya, aku hanya bercanda." Jawabnya dengan tersenyum,


Itu senyuman yang lebih santai untuk Rea tunjukan, membuat suasana hatinya jauh lebih baik, daripada semalam, sungguh aku tidak ingin kami melihat seberapa sedihnya dia.


Kami berdua pun tidak ingin menanyakan lebih dalam tentang masalah dengan keluarga Rea itu, waktu yang terus bergerak maju membuat kami harus rela meninggalkan Rea dengan masalah yang dia hadapi sendiri, aku tidak bisa melakukan apa pun, hanya berharap dia tidak terlalu serius memikirkannya, setelah kami sudah siap dengan keperluan untuk ujian,


"Rea, kami berangkat dulu, di rumah baik baik yah ." Rea menjawabnya dengan senyuman.


Wajah tenang itu membuatku tidak terlalu khawatir, aku tidak begitu mengerti tentang kehidupannya, hanya sebatas orang yang aku sukai sejak tiga bulan lalu.

__ADS_1


Tapi aku yakin dia bukan orang yang akan menyerah begitu saja, termasuk untuk Rina yang aku sendiri harus memastikan dia memilih jalan yang dia harapkan, dan menyelesaikan masalahku sendiri.


__ADS_2