Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
jodohkan


__ADS_3

Kita bertanya kepada diri kita sendiri, apa yang kita inginkan ?, semua manusia memiliki berbagai macam jawaban untuk pertanyaan ini, tentu bukan sebuah pertanyaan dimana akan kita temui saat ujian akhir semester, atau mungkin sebuah pilihan ganda berisi lima jawaban yang semua berupa opini.


Aku tidak menyangkal apa pun, karena itu tidak mungkin ada di lembaran soal mata pelajaran matematika yang ada di hadapanku ini,


Tapi saat sekarang, hari ketiga saat ujian berlangsung, apa yang aku lihat adalah wajah gelisah gadis pemalu, dia masih sibuk dengan lembar jawabnya, sebuah suasana tegang namun tenang, tapi untuk sekarang suasana lebih ke arah yang berbeda.


Perasaan dari ketakutan Rina, awan yang mendung menyelimuti langit di pagi hari, sudah membuat perasaan tidak nyaman, aku pun merasakan hal yang aneh dengan sikap Rina ketika awal ujian.


Aku sadar, sadar-sadarnya, ketika dia pertama kali datang dengan wajah gelisah ditunjukan.


Bahkan Rina hampir terlambat saat di jam pertama dan terlalu sibuk dengan ponselnya ketika jam istirahat, entah apa yang dia tunggu, tapi aku tahu jika dia terlihat khawatir dalam alasan apa pun itu.


Satu hal yang bisa terpikirkan oleh ku, jika kegelisahan Rina bertuju kepada ibunya.


"Apa yang sedang kau lamunkan, kerjakan soalmu ." Kata seorang guru dengan memegang janggut panjang kepadaku


"Aku sudah selesai pak, jadi apa boleh aku melanjutkan lamunanku ." Jawab aku dengan santai.


Suara hembusan nafas berat dari guru itu mungkin tidak percaya, karena dalam waktu kurang dari satu jam semua soal yang lebih dari lima puluh pertanyaan sudah aku jawab, tapi itulah kenyataan.


Sekian jam telah berlalu, tanda berakhir ujian di hari ini sudah berbunyi.


ketika aku beranjak dari kursi, sosok wanita itu sudah tidak ada di tempat duduknya, aku mencari tapi tetap tidak menemukan Rina.


"Noe, apa kau melihat Rina ."Tanya aku melihat Noe,


Noe masih membereskan semua perlengkapan tulisnya sebelum menjawab.


"Sepertinya dia langsung pulang."

__ADS_1


Aku khawatir melihat Rina ketika di dalam ujuan, sikap yang sangat berbeda dari hal biasanya, walau tidak ada dia tunjukan, tapi aku bisa melihat kegelisahannya itu.


hari ini aku tidak sempat untuk bertanya, karena aku sudah memiliki janji dengan Rea untuk mengantarkan dia pulang ke rumah, dan tentu dia sudah menunggu, beberapa saat kemudian ponselku berdering, melihat itu tertanda kontak dengan nama Nagisa,


"Ha..." Belum sempat aku mengatakan kata pertama yang biasa di awali saat berkomunikasi.


"Kakak cepat ke rumah, Rea......"


Aku tidak perlu menunggu adikku menyelesaikan apa yang ingin dia katakan, aku sudah mengerti dan langsung menutup panggilan, karena nada dari suara Nagisa itu sudah menunjukkan sesuatu hal yang begitu penting.


melihat Noe.... "Noe, siapkan motormu, kita harus cepat ke rumahku, ada hal penting ." kata aku dengan berteriak,


"Siap, kawan ." Dengan tegap dan hormat, Noe langsung berlari dan aku mengikutinya dari belakang.


Singkat cerita, karena tidak ada yang menarik untuk di tuliskan saat kami berdua memacu kendaraan besi milik Noe, hingga tepat di depan rumah, sebuah mobil mewah dengan warna putih perak sudah terparkir di depan rumah.


terlebih dengan beberapa bodyguard yang mengelilingi, aku sendiri tidak memikirkan kenapa. karena sosok wanita anggun berdiri persis di depan pintu, sudah memberi jawaban, dia pasti adalah ibu dari Rea.


"Maaf, permisi ." Kata aku yang mendekat dengan sopan.


"Ah, Yoan kah ?, sudah lama tidak bertemu, apa kau masih ingat tante ." Kata tante ini seperti sudah saling kenal.


"Maaf, " Wajahku bingung mencoba memahami situasi yang terjadi.


Dia langsung saja memeluk, aku sendiri tidak mengharapkan di peluk olehnya, terutama wanita tua yang usianya berkisaran 40 tahun ini.


"Kau sudah besar dan juga kau tampaknya sudah berubah, tidak membawa buku lagi ."Katanya dengan akrab kepadaku,


Kenapa dia tahu kalau aku dulu sangat sering membawa buku walau sedang berjalan.

__ADS_1


"Maaf, jika Anda bertanya masih ingat atau tidak, maka jawaban ku adalah aku tidak ingat ." Jawab aku dengan tersenyum bingung.


Sedangkan Noe hanya terdiam melihat aku di peluk olehnya, tapi untukku sendiri ini begitu memalukan,


"Ya tentu saja, sudah 7 tahun aku tidak pernah datang ke rumah ini, bahkan aku tidak datang saat Hana meninggal ." Katanya dengan wajah sedikit berubah.


Dia mengenal nama ibuku, tapi dari semua spekulasi yang aku dapatkan dari pembicaraan ini, aku bisa menyimpulkan kalau dia adalah teman ibuku dan memang sedikit samar aku seperti pernah melihat tante di suatu tempat.


"Jadi, apa maksud dari kedatangan tante ke rumah kami ." Tanya aku dengan tangan masih di pegangi olehnya,


"Ah itu, aku di beri kabar kalau anak tante ada di sini, awalnya sedikit terkejut saat mendengar kalau ternyata Rea ada di rumah Hana, " Jawab tante dengan sikapnya sedikit berjiwa muda,


Sebenarnya aku ingin menanyakan bagaimana cara dia menemukan Rea dari sekian banyak kemungkinan tentang keberadaannya, tapi melihat penampilan seperti nyonya besar aku mengetahui bagaimana caranya itu, pasti dengan kekuatan detektif.


"Jadi, apa hubungan kamu dengan Rea, " Bertanya tante ini dengan tiba tiba,


Aku sedikit gugup mendengar, karena aku sendiri tidak mengerti tentang hubungan antara aku dengan Rea.


"Ka..."


"Biarlah, dan juga memang kalian pernah akan di jodohkan oleh tante dan Hana ." Kata tante dengan memotong perkataanku,


Aku terkejut mendengar, bahkan jika ini hanya sebuah kebetulan semata ini terlalu jelas, karena semacam ini hanya akan muncul di balik layar sinema televisi, tapi aku mencoba menenangkan pikiran, membuka pintu dan masuk seperti biasa.


Sedangkan saat aku melihat siapa orang yang berdiri di hadapanku itu adalah Rea, ya dia seperti sudah menunggu, tanpa basa basi dia langsung angkat bicara.. "Mama maafkan aku, aku terlalu egois, tapi aku juga ingin mama tahu tentang perasaanku, " Kata Rea dengan wajah sendu.


"mama tahu itu, dan kita akan bicarakan nanti ." Jawab Ibunya dengan tersenyum,


Mereka berdua memang seperti sudah saling tahu apa maksud dari setiap ucapan, aku sendiri tidaklah heran saat mendengarkannya, sedangkan tante itu berjalan dengan santai memasuki ruangan tempat di mana aku jadikan galeri foto milik ibuku, wajahnya tersenyum dan seperti ingin menangis,

__ADS_1


"An, kau masih merawat semua foto milik Hana ." Kata tante ini dengan berputar melihat sekeliling.


"Ya, karena mungkin hanya ini yang menjadi bukti nyata untuk aku kenang tentang ibuku ." Jawab aku membuatnya tersenyum.


__ADS_2