
Sejauh ini aku masih berusaha menerima sebuah keadaan yang memaksa untuk berubah, di mana kehidupan saat itu sudah menjadi kenangan dan tidak mungkin aku mendapatkannya kembali, jika memikirkan satu cara untuk menjadi seseorang yang baru di dalam hidup ini adalah menerima semuanya dan berjalan di kehidupan yang baru, merangkainya dan menciptakan semua kenangan indah untuk bisa aku ceritakan di masa yang akan datang.
Dan sejauh ini pula aku bertemu dengan berbagai macam manusia dan semua kisah hidup mereka menceritakan sedikit tentang orang yang tidak pernah berpikir secara benar dan melakukan apa yang di anggapnya menyenangkan dialah, Noe.
Aku tidak pernah melihatnya serius dalam menjalani kehidupan sempit itu, tapi di satu sisi aku bisa membayangkan sejauh apa pandangan Noe di dalam hidupnya, aku masih bisa melihatnya duduk di sampingku setelah sekolah selesai, di atas batang pohon yang terdampar di pantai ini, aku sedikit bertanya kepada Noe.
"Nah Noe apa yang akan kau lakukan setelah SMA ini ." Tanya aku kepadanya,
Dia masih memandangi pantai dan menjawab.
"Entahlah, mungkin aku akan mencari kerja, hidup sederhana, membangun keluarga dan menjadi tua dengan damai ." Jawaban darinya,
Sungguh sederhana, tapi aku tidak bisa memungkirinya, karena aku sendiri berpikir demikian, jika selama lebih dari 11 tahun aku bersama dengan lelaki norak tidak tahu diri ini, kami berdua mungkin sudah seperti teman dekat yang tidak tergantikan.
"Apa kau tidak ingin melakukan hal yang lebih penting dalam hidupmu." Aku kembali bertanya,
Sedangkan senyumnya itu tidak lepas bahkan saat dia menjawab apa yang aku tanyakan.
"maksud mu seperti apa ?."
"Berkendara dan melawan para monster."
"kau tahu aku bukan Kamen rider... tapi ini adalah kehidupan yang aku miliki dan aku hanya berharap semuanya berjalan seperti biasa dan tidak ada yang berubah, ya hanya itu saja ." Jawabnya dengan tersenyum,
Semua seperti sama, dia pun sama, dan aku sendiri sama, berharap semua yang aku jalani ini tidaklah berubah, tapi keadaan memaksaku untuk mengubah hidup jika aku ingin menjalani kehidupanku yang baru.
"Jadi apa kau ingin terus menjadi seperti ini ."
Noe berdiri dan berjalan beberapa langkah.
__ADS_1
aku memperhatikannya ketika dia berkata..."Kita hanya mengharapkan kebahagiaan selalu datang dan tidak ingin berubah, inilah kebahagiaanku, tapi manusia akan berubah saat mengikuti arus kehidupan, mau atau pun tidak, kita akan tetap melakukannya karena kita akan tersingkir jika tidak mengikutinya, "Ya sebuah perkataan bijak dari seorang sahabat baikku.
Entah kenapa aku sedikit terkejut saat mendengar itu darinya, dia yang selama ini aku lihat sebagai seseorang yang bertindak seenaknya saja, tapi hanya dengan mendengar perkataan itu aku sadar dia adalah orang yang melihat jauh ke depan,
"Tidak aku sangka kau itu bisa berpikir juga kawan ." Terkejut aku melihatnya berkata dengan bijak.
"Memangnya selama ini kau menganggap aku itu apa ." Teriaknya terkejut pula,
"Setidaknya tidak jauh dari manusia ." Jawaban dariku,
Dia sedikit kesal terlihat dari raut wajah yang terlipat itu dan aku melihatnya dengan senyuman, dia adalah temanku, sahabatku sejak dulu dan hingga saat ini,
Setelah berbincang singkat dengan Noe di tepian pantai ini, aku memutuskan untuk pulang dan melihat keadaan Rea, tapi saat aku sampai di depan rumah, yang aku lihat adalah wajah Nagisa, dia tampak bingung, melihat ke kiri dan ke kanan seperti mencari sesuatu, tapi dia berlari ke arahku setelah melihat aku datang,
"Kakak gawat, mbak Rea, itu mbak Rea ." Kata Nagisa dengan gugup,
"Tenang Nagisa, tenang, apa yang terjadi ." Bertanya aku melihatnya seperti ini,
"Cepat, pokoknya ikut kak ." Tarik aku dengan kuat,
Aku mengikutinya, masuk ke dalam rumah secara perlahan, seperti sedang menguntit sesuatu, langkah dengan hati hati, bahkan hampir tidak mengeluarkan suara langkah kaki sekecil apa pun,
"Apa yang kita lakukan Nagisa ." Bertanya aku dari balik punggungnya untuk bersembunyi.
Nagisa dengan kesal berbalik dan mengisyaratkan aku untuk tetap diam,
"Aku merasa seperti sedang di bodohi oleh adikku sendiri ." Gumam ku yang merasa aneh sendiri.
Dengan sengaja sikutnya memukul perutku, sungguh sangat terasa hingga ke ulu hati, tapi secara perlahan aku melihatn Rea yang sedang duduk menghadap jendela, wajah itu tampak sendu sungguh bisa aku melihat ada sesuatu tersembunyi, semua perasaan yang tumpah dari wadah rapuh di hati, dengan bibir mungil itu menggumamkan sesuatu, sebuah senandung lagu yang tidak pernah aku dengarkan bahkan di dalam musik player yang aku miliki, aku berjalan mendekat walau Nagisa menarikku untuk berhenti,
__ADS_1
"Apa yang sedang kau pikirkan nona ." Kata aku dengan tiba tiba,
Dan dengan terkejutnya dia menghapuskan air mata yang sudah menetes ke pipinya, menyembunyikan sesuatu di balik senyum palsu saat melihatku,
"Ah bukan apa apa kok ." Jawabnya,
Dia tersenyum, sungguh sesak saat aku melihatnya, begitu berat untuk Rea, dia tidak melepaskan kesedihan, pembohong besar yang membohongi dirinya sendiri dan itu sangat memuakkan untuk aku lihat,
"Kenapa kau menyembunyikan masalahmu " Bertanya aku kepadanya yang masih memperlihatkan senyum itu,
"Apa ?, aku tidak menyembunyikan apa pun ." Jawabnya dengan tersenyum,
Dia masih saja menyembunyikan kesedihan itu, seharusnya dia menyadari, aku bisa membaca apa yang sedang dia rasakan, walau dia hanya terdiam dan menutup mulut, aku tahu apa maknanya,
"Jika kau hanya menyembunyikan masalahmu, maka itu hanya akan menjadi beban di dalam kehidupanmu ." Kata aku tanpa tersenyum sedikit pun,
"Sungguh kau seperti bisa melihat apa yang aku pikirkan ." Katanya yang mengubah raut wajahnya,
Walau senyuman itu menunjukkan hal lain, tapi aku bisa melihatnya dari semua sudut pandangku, tentang cara tangannya mengepal, bentuk senyumnya, raut wajahnya, nada bicaranya dan aura di dalam dirinya, ya aku bisa merasakan perbedaan dari hal biasa saat aku melihat sosok Rea.
"Karena aku bisa merasakan semua yang kau rasakan, maka dari itu aku tidak ingin kau tenggelam di dalam kesedihanmu sendiri ." Kata aku melihat wajah kesedihan yang di perlihatkan olehnya,
"Ya, kita seperti sama, aku bisa merasakan masalahmu, masalah tentang menjalani hidup dan memperbaiki apa yang hancur ." Kata Rea yang mengetahui apa masalahku,
"Dan aku bisa merasakan masalahmu, perasaan terbuang dan keinginan menghilang dari dunia ini ." Kata aku yang mengetahui makna dari air matanya,
Dia berdiri dari duduknya, berjalan dengan tangan mencari, aku menyambut tangan itu, yang kemudian sebuah pelukan darinya melingkar di tubuhku,
"Aku ingin bahagia, tapi kenapa tidak ada yang mengerti apa harapanku, " Katanya dengan membenamkan wajahnya ke dalam pelukanku.
__ADS_1