Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
awal dari segalanya


__ADS_3

Aku bisa mencium aroma khas dari rumah sakit, bau dari berbagai obat, keringat para pasien dan ketegangan semua orang yang berdiam di ruang tunggu, aku masih bisa mencium semua itu dari ketenangan tempat duduk di bangku luar kamar rawat inap ruang VIP, aku masih saja sibuk dengan duniaku sendiri, tenggelam ke dalam berbagai tulisan dan pengetahuan yang aku pegang dan aku baca untuk menghabiskan kebosananku, di saat itulah aku melihatnya, sosok gadis kecil berumur sekitar 11 tahun sama denganku tentunya, gaya rambut twin tail, seperti bingung , melihat ke kanan dan ke kiri, entah apa yang terjadi dengannya aku sedikit melihat dan membuatku penasaran, tapi rasa penasaranku terbantahkan saat dia duduk di sampingku dan mengatakan,


"Apa yang kau baca, " Dia bertanya dengan wajah penuh rasa penasaran,


"Kenapa kau hanya duduk di sini ", Dia bertanya kembali,


"Apa kau tidak masuk melihat mamamu " Pertanyaan yang membuatku sedikit pusing,


"Hey kenapa kau diam saja, coba lihat itu ada serangga di sana ." Sungguh menyebalkan aku mendengar semua pertanyaan itu tidak berhenti,


Sebuah kebisingan yang masuk ke telingaku, mengganggu kenyamanan yang sudah menjadi hal wajar jika aku sudah terdiam dan membaca setiap kata dari buku yang aku pegang di tempat ini, dengan tiba tiba tangannya menarik buku yang aku baca dan berkata,


"Hey kenapa kau diam saja, lihat ada hal yang menarik di sini ." Dia masih saja mengajukan pertanyaan dan aku tidak mengharapkan hadiah jika bisa menjawabnya,


"Jangan ganggu aku ." Balas aku sedikit kesal,


Aku menarik kembali buku yang dia ambil dari tanganku, tapi kembali dia menariknya,


"Hey, lihat ini ada cacing ." Dengan tangan penuh lumpur itu dihadapkan tepat di depan wajahku,


"Sudahlah jangan ganggu aku ." Sungguh wanita ini membuatku semakin kesal


Setelah dia pergi, setidaknya untuk beberapa menit aku merasa lebih tenang, tapi itu hanya beberapa menit dan sejenak saat aku tidak mendengar suara berisiknya, aku menjadi penasaran apa yang dia lakukan di sana, dia terduduk lemas di samping taman itu, mengaduk aduk tanah basah berlumpur, seperti sedih karena aku mengabaikannya, aku mendekat dan mengatakan,


"Apa yang kau lakukan ."Aku bertanya tanpa melepaskan pandanganku dari buku dan dia menjawab,


"Aku ingin tahu apa cacing itu bisa di makan." Katanya dengan sangat polos,


Untuk membayangkannya saja aku tidak bisa, tapi dia terus memainkan segumpal tanah yang berisi cacing itu dengan ranting kayunya,


"Jika kau memikirkan apa itu bisa di makan, maka jawabannya bisa, tapi di dalam kehidupan seperti ini itu adalah tindakan aneh yang tidak lazim, ada beberapa cacing yang bisa dimakan contohnya cacing wawo dengan nama latin Lysidice oele dan ada pula yang bisa di jadikan obat, yaitu cacing tanah, menurut penelitian zat cairan selom di dalam cacing ini yang ada di dalam kandungan memiliki 40 protein yang baik sebagai ... ", Aku berhenti saat dia melihatnya tajam ke arahku, melihat matanya itu, aku tidak bisa berkonsentrasi lagi,

__ADS_1


"Kenapa kau suka membaca, apa saja yang kau baca, aku sendiri benci belajar, " Kata dia melihatku aneh,


"Membaca untukku adalah hal yang menyenangkan, karena di dalamnya aku bisa tahu apa yang tidak aku tahu, semua buku yang bisa mengajarkan ....." Kata aku dengan nada sedikit sombong,


Bahkan sekali lagi sebelum aku menyelesaikan apa yang ingin aku katakan, dia sudah menghilang dari hadapanku dan melihatnya berlari ke arah suster yang sedang membawa buah buahan, berteriak,


"Apel, mbak suster aku minta apelnya, ." Teriak gadis itu tanpa permisi,


Mengikuti suster itu dari belakang dan menarik bajunya, saat aku mendekat aku pun di berikan satu apel juga,


"Apa yang kau pikirkan, " Gumamku yang rasanya aku seperti di tarik ke dunia lain olehnya,


"Aku suka sekali apel ." Dengan senangnya dia tidak mendengarkan apa yang aku ucapkan,


Bahkan untuk dirinya sendiri apel yang dia pegangi itulah hal penting untuknya, sedangkan masalah yang dia berikan karena telah membuat waktu membacaku terbuang itu sama sekali tidak berarti, melihatnya yang perlahan memakan setiap bagian dari apel itu seperti tidak memedulikan apa pun, bahkan setelah dia memakannya tanpa tersisa sama sekali dan kembali melihatku penuh perhatian, tapi perhatiannya itu bukan tentang aku atau buku yang aku baca, dia lebih tertarik dengan,


"Apa kau akan memakan apelmu ." Bertanya dia dengan wajahnya yang memohon,


Seberapa sukanya dia dengan apel, bahkan satu saja masih kurang untuk mengenyangkan perutnya,


Tentu dia sudah menghabiskannya bahkan sebelum aku melihatnya kembali, dari kejauhan sebuah tempat tidur pasien seperti bergerak ke arah kami, dia yang melompat dari bangku yang di duduki ini, itu akan membuat dia tertabrak oleh tempat tidur pasien, berpikir kurang dari dua detik sebelum waktu yang akan membuatnya tertabrak, aku tanpa memedulikan apa yang akan terjadi, langsung melompat turun dan mendorongnya jatuh,


"Apa yang kau lakukan ." Dia berbalik dan mengatakan hal itu sikap marahnya,


Walau dia berkata demikian, aku sendiri masih berpikir, kalau aku akan terlambat melompat untuk menghindarinya, tapi entah itu sebuah keberuntungan, karena gaya gesek dan tipe tempat tidur itu beroda yang membuatnya berbelok beberapa derajat sehingga melewati tepat di belakang dari tempatku berdiri dan membuatku sedikit bernafas lega jika membayangkan apa yang terjadi kalau saja aku benar benar tertabrak oleh tempat tidur itu,


"Kau jahat, mendorong dan membuatku kotor seperti ini ." Katanya dengan marah,


Dia masih saja berisik bahkan setelah setiap orang berteriak dan berdatangan untuk melihat keadaan kami berdua,


"Ya ampun ." Gumamku melihat si gadis kecil ini marah kepadaku,

__ADS_1


Tapi beberapa menit melepaskan perhatianku kepadanya, dia sudah berbaring di lantai dengan wajah kesakitan dan tangan memegang tepat di hatinya, tentu di hati yang sebenarnya,


"Hey kau kenapa ." Tentunya aku dengan panik dan bingung menggoyang tubuhnya,


"Mama, mama." Kata dia dengan kesakitan,


Aku berlari setelah membaringkannya ke kursi tempatku duduk tadi dan berlari masuk memanggil seorang wanita yang berbincang serius dengan ibuku,


"Dia, anu ....anak Anda ...." Kata aku dengan paniknya,


Walau tidak perlu menjelaskan secara detail tentang maksud dari tindakanku mengganggu perbincangan ibuku dengan temannya dan tante itu pun berlari keluar dengan tergesa gesa, membawanya pergi ke ruang perawatan dekat di samping ruangan ini,


Sedikit ingatan itu membuatmu merasa kalau sesuatu yang tidak aku sangka akan menjadi kenangan khusus untukku, aku yang hanya menikmati waktu santai di dalam kamar dan melihat semua yang sungguh sangat berbeda dari kamar di rumahku, bahkan dengan beberapa dekorasi mewah dan modern, semua ini adalah hal wajar karena di tempat yang sekarang aku tinggali adalah rumah utama dari keluargaku, walau untuk aku sendiri, tidak pernah datang ke tempat ini sekali pun,


Saat aku mencoba untuk keluar dari ruangan di jam 10 malam, aku baru menyadari kalau di setiap sudut dari rumah ini terhias oleh berbagai jenis foto dan aku sadar semuanya sama dengan foto yang ada di galeri kamar dari ibuku, bahkan saat aku melihat foto di ruangan tamu, ya itu adalah sebuah foto dari pelangi bulan, sebuah fenomena alam dari pembiasan cahaya bulan di tepian laut, sungguh indah setiap kali aku melihatnya, tanpa sadar suara serak seorang laki laki memanggil dari ruangan tamu,


"An, kau belum tidur ." Kata ayahku dengan suaranya yang besar,


Melihat ayahku yang masih duduk di salah satu bangku dengan semua tumpukan buku album yang mungkin ada lebih dari sepuluh tumpuk di atas meja,


"Belum, " Jawab aku dengan sedikit canggung,


Aku mendekat dan duduk di bangku ruangan tamu, merasakan sebuah atmosfer yang begitu kental dengan kecanggungan, sungguh perasaan menyesakkan memenuhi ruangan ini dan aku sendiri tidak tahu harus mengatakan apa, hingga beberapa menit berlalu, ayahku memulai pembicaraan yang tidak pernah terpikirkan olehku selama ini,


"Jadi apa kau sudah merasa bahagia dengan semua ini ." Tanya Ayahku dengan wajah menyeramkannya,


Pertanyaan itu, tidaklah bertuju kepada apa yang ada di hadapanku sekarang, karena jawabannya adalah


"Belum, aku masih belum menemukan sesuatu yang membuatku bahagia, tapi aku akan menciptakan kebahagiaanku sendiri, " Dengan nada bicaraku yang sedikit kaku,


Wajah setelah mendengar apa yang aku katakan itu tidaklah menunjukkan perasaannya, tapi aku menyadari ayah seperti melihatku dengan tatapan penuh kepercayaan,

__ADS_1


"Baguslah kalau kau mengerti, karena kebahagiaan itu bukan untuk di tunggu, tapi kita sendiri yang harus menciptakannya, " Katanya dengan senyuman mengerikan,


Dan satu hal lagi yang harus aku ciptakan, sebuah kebahagiaan untuk seseorang yang aku cintai, tanpa ada rasa menyesal, aku ingin menciptakan hal itu untuknya, demi kebahagiaanku pula,


__ADS_2