
Sina semakin mendekat, dan membawa tongkat besi ditangan untuk melenyapkan barang bukti didalam kamera, atau memang berniat mengajarku, mungkin .
"Noe, tolong."
Aku meminta tolong kepada Noe, tapi Noe pun seakan tidak melihatku dan berbicara dengan karyawan lain sambil tertawa-tawa.
Sedangkan Sina semakin mendekat, wajah menyeramkan dan mempersiapkan linggis yang diacungkan ke arahku.
"Tenang saja, ini tidak akan sakit kok." Kata Sina dengan senyum menakutkannya.
"Sina jangan bercanda, ini masuk dalam pasal penganiayaan, ok."
Melihat pemukul yang bergerak dengan cepat, tepat disaat pemukul itu berada lima senti sebelum kejadian.
Suara bel masuk pintu kafe terdengar, sekaligus menghentikan tangan sina, Sina melihatnya dan menjawab, tanpa mengubah posisi pemukul yang bercokol tepat disebelah mata.
"Selamat datang ." Sambutnya lembut.
Tapi tentu saja, siapa yang tidak terkejut, jika melihat adegan pembunuhan yang akan terjadi didalam sebuah kafe, sambil tersenyum pula.
Wajah kebingungan, menoleh ke kiri tidak ada orang, menoleh ke kanan, setiap karyawan, seperti tidak melihat, tapi mengusap mata, tidak mengubah posisi wanita yang siap menghantamkan linggis kepada seorang lelaki. Masih tersenyum pula.
Karena tidak ingin terlibat, orang itu berkata. "Maaf mengganggu silakan lanjutkan." kata dia dengan berusaha tenang dan menutup pintu kembali.
Aku merasa sudah tamat.
"Kalian berdua berhenti main main ."Teriakan keras dari pak manager menghentikan Sina untuk melanjutkan tindakannya.
Dalam pikirku. 'Ah untung saja, aku selamat.'
"Jika kalian bersikeras untuk melajutkannya, silakan ke belakang." Lanjut manager berbicara, sedangkan itu tidak berniat untuk menyelamatkan ku.
Sungguh aku tidak mengerti, dengan sengaja pak bos menyuruh untuk melakukannya tanpa di lihat orang.
Apa ini termasuk penganiayaan yang terrencana, atau mereka tidak ingin terlibat dalam masalah.
"Sungguh kejam ." Teriak aku sedikit merinding.
Sina menarik kerah bajuku dengan wajah menakutkan. Siapa pun yang melihat pasti akan ketakutan, aku pun diseret ke belakang.
Hingga tanpa aku sadari, aku tidak mengingat kejadian apa pun setelah masuk ke ruang gudang belakang itu.
Hanya saja, seperti ada yang terbentur di kepalaku dan rasanya sakit sekali.
__ADS_1
Noe melihatku, wajah khawatir lelaki norak itu membuatku bertanya-tanya.
"Apa kau baik baik saja An .?" Tanya Noe dengan wajah cemas dan kecemasannya membuatku sedikit bingung,
"Tenang saja, aku baik baik saja kok ." jawab aku dengan memegangi kepalaku yang sakit.
Bahkan Sina pun terlihat aneh, sejak tadi aku memperhatikan Sina dan dia selalu memalingkan wajah. aku bertanya kepada Noe.
"Kenapa Sina, apa apa dia sedang sembelit ?."
"Tolong jangan tanya aku, aku tidak ingin terlibat masalahmu, An." Jawab Noe dengan wajah ketakutan.
Semua orang yang aku lihat memalingkan wajah, bersiul dan pergi, seperti menyembunyikan sesuatu, aku tidak tahu apa yang terjadi.
"Pak bos, memang apa yang terjadi ." Tanya aku.
"Dalam hidup terkadang ada sesuatu hal yang tidak boleh diketahui nak Yoan, jadi lupakan saja ." kata manager dengan menepuk pundakku. Sungguh semua yang ada di tempat ini membuatku bingung.
"Memangnya kenapa dengan kalian semua." Teriak aku penuh perasaan bingungnya.
Seorang wanita melihatku, aku tidak ingat dia bekerja di tempat ini, hanya saja aku pernah bertemu, cara wanita itu melihat dengan menunduk dan poni tebal yang menutupi wajah.
"Sepertinya aku pernah melihatmu nona." Pandangku yang mencoba untuk mengingat.
Dia masih menunduk tanpa melihat langsung ke arahku, semakin aku melihatnya, dia semakin menghindar.
"Hey An, dia itu kan teman satu kelas kita." Perjelas Sina dari belakang.
Saat Sina mengatakan itu kepadaku memang seakan aku mengenalnya, tapi ada sesuatu yang membuatku penasaran, karena melihat wajah Noe yang tersenyum kecut.
"Aku tidak ingat kalau dia ada di kelas." Kata aku dengan tertawa.
"Mitsu Rina, dia yang menjadi ketua kelas tahu." Kata Sina dengan memukul kepalaku.
Sungguh aku tidak mengingat kalau Rina ada didalam kelas, hanya sebatas, aku pernah melihatnya, bukan memang mengenalnya.
Tapi tetap sikap Noe seperti sedikit memperlihatkan sikap aneh dalam senyumnya itu.
"Hahaha, maaf aku tidak ingat ." Kata aku lagi dengan menggaruk kepala.
Aku melihat Rina, wajah yang tadi merah malu-malu, berubah menjadi pesimis, aura gelap seperti mengepul keluar dari dalam kepala.
"Ah maaf, kalau begitu biarlah, memang aku tidak pernah dianggap oleh orang lain, memang sepertinya aku tidak bisa berteman di dunia ini." Dia mengatakan itu dengan wajahnya semakin menunduk.
__ADS_1
"Sadarlah, oi sadarlah. " Aku meneriakinya dan mengguncang pundaknya .
Aku merasa bersalah, melihatnya begitu pesimis seperti itu, pak manager mendekat.
"Ini pekerja paruh waktu yang baru, jadi jangan mengatakan hal aneh, Yoan kun." Kata pak bos dengan tersenyum bangga.
"Ah begitu ." Jawab aku tanpa tahu harus mengatakan apa lagi.
Tapi aku merasa bahwa hari ini akan terasa berat untukku dan pula sikap Rina yang mudah pesimis tentu akan menyusahkan. Itu yang aku pikirkan.
Waktu sudah menunjukkan jam sepuluh dan memang saatnya membuka Cafe, setiap pelanggan mulai berdatangan.
Aku sudah siap dengan setelan baju memalukan yang akan membuatku mati gaya, bahkan jika akan dihina sekali pun aku sudah terbiasa.
"Nah Rina, tolong antarkan minuman ini ke meja kosong dua ." Kata seorang senior dengan mengajarkan cara membawa penampan.
"Ah maaf, baik pak ." Sekali lagi aku mendengarnya meminta maaf.
Dia yang mengatakan baik, tapi menurutku itu tidaklah begitu, aku bisa melihat wajahnya yang masih di selimuti awan gelap dan tangan kaku saat meletakan minumannya.
"Hei, benarkah kau baik baik saja ." Tanya aku saat dia kembali.
"Maaf, tapi setidaknya untuk saat ini." Jawab Rina dengan lemas .
Aku khawatir melihat Rina, gemetar tangan itu seperti merasakan gempa tektonik sekala sedang, tapi membuat alarm siaga satu, aku bisa merasakan.
"Tenanglah, anggap saja mereka itu hanya kucing, tentunya setiap wanita menyukai kucing ."
"Tapi maaf tidak untuk aku, aku benci kucing, " Kata Rina yang masih lemas.
Pasrahlah aku kepada dirinya dan lupakan soal kucing, semoga semua berjalan lancar, aku harap.
Aku melihat, dia wanita dengan pandangan yang terus menatap ke luar jendela, aku sadar dia ada ditempat yang sama setiap saat.
Ketika Sina yang membawa makanan kue apel dan jus apel, aku menebak kalau itu pasti yang di pesan oleh wanita itu.
"Sina biar aku yang membawanya." Kata aku dengan mengambil penampan dari tangan sina.
"Maaf, tapi itu...." Kata dari Sina yang terpotong tanpa aku dengarkan.
"Tenang saja ." Kata aku dengan mengacungkan jempol.
Dari kejauhan langkahku semakin bergetar, berhadapan dengan wanita itu, tentu aku tidak melupakan kamera digital portabel yang sudah aku persiapkan dipinggang.
__ADS_1
"Nona, ini makanan pesanan Anda ." Kata aku yang menaruh makanan ke depan meja.
"Maaf, tapi aku belum pesan makanan." Jawab wanita itu dengan tersenyum .