
Setiap langkah aku lalui, melihat orang-orang yang masih tertawa terbahak-bahak atas kegiatan mereka sendiri.
Di pantai Miho ini, manusia hidup untuk menikmati waktu luang mereka, bersama dengan keluarga dihari libur setelah menyibukkan diri dalam pekerjaan.
Aku bisa melihat wajah-wajah penuh tekanan hidup, tekanan batin dan tekanan keluarga, dari gaya hidup masyarakat Jepang yang glamor, banyak alasan, kiri kanan tentang gengsi, fashion, hura-hura, dan pada akhirnya tidak mendapatkan apapun.
Mereka memiliki hidup yang penuh jalan berkelok-kelok, tapi hanya akan berakhir kembali ke dalam start, monoton, berulang-ulang hingga mesinnya rusak.
Menyediakan sekali.
Aku rasa berlibur di pantai Miho ini, menjadi satu-satunya cara menikmati waktu istirahat dari segala masalah.
Sedangkan apa yang aku miliki sekarang hanya seorang teman dari masa kecil, wanita temperamental yang seenaknya sendiri, sahabat abnormal yang membawaku pergi dari hidup membosankan, Adik kecil yang selalu membuatku khawatir, seorang saingan yang ingin mengalahkan kenyataan, dan ayah yang meninggalkan semua kebahagian.
Memang aku bukan satu-satunya orang yang menderita di planet bumi dengan 7 milyar penduduk penuh dengan drama keluarga dari kehidupan mereka sendiri. Tapi untukku pribadi, ini sangatlah berat, menerima kenyataan bahwa aku sudah banyak kehilangan.
Kamera pemberian ibu yang membawa sejuta kenangan, kenangan masa lalu yang terus menghantui setiap langkah didalam kehidupan. Atau sebuah senja dimana cinta datang untuk mempertemukan ku dengan seorang gadis yang diselimuti kesedihan.
Itu semua adalah beberapa baris kisah nyata, terkumpul menjadi cerita di dalam hidup. membuatku berjalan lebih jauh, semakin jauh dan semakin jauh untuk melihat ratusan ribu wajah asing yang tidak pernah aku kenal.
Hingga aku baru menyadari, bahwa perjalanan yang sudah aku lewati memiliki banyak cerita, tentang suatu perasaan cinta dan membuat aku sadar, bahwa aku tetaplah seorang manusia.
Aku diperlihatkan oleh mereka semua tentang seberapa besar dunia ini, jalan penuh batu dan kerikil tajam, menggores telapak kaki telan*jang tanpa alas.
Aku kesakitan, sedih, takut, dan sungguh menyedihkan, aku tertawa, ya menertawakan diriku sendiri, karena hidupku layaknya acara lawak ditengah malam.
__ADS_1
Jika aku berpikir, kalau aku sudah merasa puas akan semua yang aku lakukan saat ini, aku terlalu naif.
Ini seperti awal, bahkan aku masih belum berjalan hingga pertengahan takdir di hidupku, masih jauh kehidupan yang akan aku lewati, tikungan-tikungan tajam, jalan buntu, turunan terjal, tanjakan curam, persimpangan, perempatan, lampu merah, kuning dan hijau, masih jauh dari garis finish.
Belum lagi jika ada patroli polisi lalu lintas yang menghadang perjalananku, bertanya SIM dan kartu tanda penduduk, apa itu perlu, sedangkan aku masih dibawah umur.
Ya, ini baru awal, dan belum berakhir.
Di hari ini aku melihatnya kembali untuk ke sekian kali. di ujung pantai Miho, di atas batu karang, berdiri tanpa lawan, menikmati senja walau gelap dimata, terurai rambut-rambut hitam diterpa angin dari selatan, dan Kilauan senja sebelum malam datang.
Walau hanya sebatas empat puluh lima menit, aku bisa melihat keindahan yang sangat menghangatkan hati, hingga saat ini pun aku tidak merasa bosan untuk sekedar berdiri, membuang waktu demi sosok itu.
Aku sudah dibuat jatuh cinta oleh sosok wanita bernama Rea, dia membawa semua keindahan dalam satu senyuman cantik dari bibirnya.
Berjalan mendekat semakin dekat dan lebih dekat, dari jarak satu meter aku sudah merasakan aroma parfum bunga Jasmine.
Dia mengetahui kalau itu adalah aku, entah dari mana asalnya cara memperhatikan keunikan langkah kakiku hanya dengan suaranya.
"Aku tidak bosan untuk memperhatikan keindahan ini ." Lanjut perkataan Rea dengan tersenyum .
Memang sebuah hal yang membuatku damai, setiap hal antara warna jingga senja atau pun gemuruh ombak saling menghantam karang, semua yang telah di atur sedemikian rupa, oleh sang maha sempurna .
"Memang aneh untuk kita, saling mengetahui tapi tidak mengenal, saling merasakan tapi tidak tahu apa pun, aku tidak tahu siapa kau, tapi untukku, semua yang kau katakan, semua yang kau lakukan, aku merasa nyaman, jadi kenapa kau tidak memperkenalkan dirimu yang sebenarnya." Kata Nona itu yang masih tersenyum dan tidak mengalihkan tubuh menatap gelap diujung mata.
Aku mengerti kenapa aku tidak memberikan alasan, jauh sebelum aku berani untuk berdiri satu langkah di samping rea, aku selalu bertanya, apa aku bisa untuk mengenal dirinya, hingga saat ini dia menanyakan hal yang aku pertanyakan, jadi apa yang harus aku jawab .
__ADS_1
"Biarlah, setiap hal terus berjalan seperti ini, anggap ini sebuah permainan, jika suatu hari nanti kau dapat melihat warna apa yang ada di hadapanmu, maka carilah aku, apa kau masih bisa mengenaliku ." Jawab aku .
"Jawaban yang bodoh ." Kata Nona itu, dan aku tahu ini sebuah alasan bodoh yang aku pilih, karena aku percaya akan takdir dan biarlah takdir mengalir seperti ini.
Melewati semua jalan penuh kejutan, dimana aku akan merasakan sebuah sensasi seperti apa hidup penuh dengan harapan.
Mungkin ini menjadi alasan agar aku menemukan tujuan baru untuk mengisi kekosongan hati yang semakin rapuh tanpa alasan.
Aku tersenyum dan membalas apa yang dia katakan.
"Biarkan lah ini menjadi hal bodoh, jadi seberapa bodohnya kehidupan yang aku jalani ini, untuk mendapatkan kebahagiaan ." Balas aku mengatakannya dengan perasaan senang .
Entah kenapa dia tersenyum saat mendengar perkataan yang aku ucapkan, sekali lagi aku mengarahkan kamera untuk mengabadikan sosok Rea, gadis tanpa warna yang merindukan senja.
Apa ini akan terus berlanjut untuk selamanya atau mungkin sesaat akan berubah, biarkanlah terus melewati kehidupan yang aku pilih, entah seperti apa esok hari, entah seperti apa lusa nanti, biarkan semua berjalan di takdir yang telah di tentukan .
Sekali lagi, wanita itu menghadap ke arah senja yang semakin menenggelamkan dirinya untuk berganti malam.
Rea mengangkat kedua tangannya dan tersenyum .
Dia menghadap ke arahku, saat semua suara telah lenyap bersama dengan kuatnya bunyi gemuruh ombak. Dia tertawa, tapi tetesan air mata yang keluar melewati pipinya seakan memberitahu. Maksud lain dan entah kenapa aku tidak bisa bergerak saat melihat air mata itu.
Dunia membeku, ombak lenyap, angin kencang, aku terdiam, dia tersenyum, tapi menangis dan semua orang tertawa, mereka bersorak, ceria sekali.
Aku dan Rea, hanya kami berdua diam didunia inj, terkurung dalam rasa sakit yang tidak bisa kami berdua lupakan, aku terikat oleh masa lalu.
__ADS_1
"Tetaplah hidup, walau pun tidak berguna." ucap Rea ketika aku diam memperhatikan.