
Sina langsung memalingkan wajah, memang sudah menjadi hal biasa, ketika aku pandangi lebih lama, wajah yang malu memerah dengan sebuah tamparan kuat tangan atlet lari, sungguh pastinya ini sangat menyakitkan.
"Memangnya apa salahku ." jelas ini terasa menyakitkan.
"Wajahmu menjijikkan ." Itu jawabannya.
Ya terserahlah, hanya saja karena wajahku yang menjijikkan, aku pantas di tampar dengan kekuatan full power seperti itu, sungguh aku yang malang.
"Hey An, apa kau ingin bertanding, jika kau bisa mengalahkan aku, aku akan melakukan satu hal untukmu, begitu pun sebaliknya, jika aku yang...." Tantang sina dengan penuh percaya diri.
Aku berdiri dengan bersiap membuka kedua kancing atas bajuku dan melonggarkan ikatan dasi ini, "Ya, aku tahu."
Aku menerima tantangan Sina.
Sina sudah bersiap untuk meregangkan diri dan melakukan pengawasan, karena ini bukan lari biasa, ini seperti parkur tapi tidak terlalu ekstrem.
"Rutenya adalah melewati pagar ini, ayunan, tembok gudang dan finisnya adalah setelah melewati dinding setinggi 5 meter itu, " Sina memberikan arahan denah lokasi.
"Ya aku sudah menghafalnya, apa kau yakin. Sina ." Tanya aku meyakinkan.
Aku melihat dan memperkirakan waktu tempuh untuk melewati semua, dirintangan pertama adalah pagar jeruji besi, tentunya harus di lewati dengan melompatinya, sebuah ayunan keseimbangan dengan panjang 5 meter setelah itu dua tembok yang berimpitan, dan yang terakhir adalah sebuah tembok untuk melakukan panjat tali.
"Ya, aku sudah siap ." Jawaban dari Sina dengan semangat yang hebat.
"Mari kita mulai."
Waktu di tentukan dengan menghitung detik secara bersamaan, tidak ada yang mencuri start atau pun mengalah, kami berdua saling mempercayai.
"Tiga ....Dua ....Satu."
__ADS_1
"Tiga......Dua ....Sa.."
Ya Sina langsung berlari sebelum angka satu selesai terbaca dan itu membuatku sedikit marah
"Kenapa angka satumu hanya separuh."
"Angka satu ku lebih cepat selesainya dari pada detikmu ." Jawabannya itu seperti mengejek.
Yang jelas jarak lariku dengan sina berkisaran 2 meter dengan kecepatan 60 km/jam sungguh kecepatan yang menakutkan untuk berlari rintang seperti ini.
Di awal rintangan pertama, adalah sudut pengambilan pijakan di mana tinggi dari pagar ini adalah 2,5 meter yang berarti sudut lompatanku harus berada di jarak satu meter sebelum pagar dan memijakkan satu kali kaki kiri untuk mendorong ke atas.
Semua yang aku lakukan sesuai dengan perhitunganku, satu hentakan kaki kiri membuatku seperti melompat dalam bidang atletik loncat tinggi.
Tentunya sebelum terjatuh aku seimbangkan tubuh dengan berputar dan menumpukannya ke kaki kanan, tapi sina menggunakan metode yang berbeda.
"Apa kau sudah menjadi lambat, An ." Ejekan Sina membuatku bersemangat.
Sina mengejek, karena memang aku sudah tidak pernah melakukan lari seperti ini untuk waktu lama, jadi aku sadar otot paha dan betis semakin lunak seperti tidak memiliki kekuatan secara penuh.
"Mungkin kau benar tapi...."
Aku memperhatikan titik keseimbangan ayunan, jika titik keseimbangan berada di jarak 2,5 meter maka lompatan yang aku beri akan memberikan gaya dorong maju dan bisa digunakan untuk lompatan berikut.
Masih berbeda dengan cara yang aku lakukan sina menggunakan titik seimbang dan berlari dengan cepat tanpa menggoyangkan ayunan secara besar. aku memang merasa sedikit takjub dengan semua kepekaan Sina terhadap sebuah situasi.
Sedangkan satu rintangan yang mungkin menjadi penentu walau ini baru rintangan ke tiga, dua tembok yang saling berimpit, dengan lebar hanya setengah meter.
Siapa yang berhasil masuk pertama dia akan jauh memimpin, sialnya, dengan sengaja sina mendorongku tepat saat sebelum kami berdua berpapasan di mulut tembok, alhasil aku menabrak dinding dan Sina berlari dengan santai.
__ADS_1
Melihat hal itu, aku mengejar dan menerobosnya dengan gaya takelle sepak bola hingga sina harus melompat jika tidak ingin terjatuh. Kecurangan demi kecurangan yang kami buat tidak di hiraukan oleh kami, hanya menikmati sebuah permainan dan mendapatkan sebuah bonus saat menang.
Rintangan terakhir adalah tembok tinggi, setinggi lima meter tepat di hadapan kami, aku sudah memikirkannya, ada dua cara menaiki dinding, pertama menggunakan tali yang ada.
Dan yang kedua adalah, apa yang sekarang aku pilih,menggunakan sisi luar dinding yang dibuat sebagai pembatas, aku menggunakan itu sebagai tempat pijakan, tapi lompatan yang harus aku capai adalah sekitar satu meter dengan sudut kemiringan 45 derajat.
Menggunakan hentakan kaki untuk menanggap tali sehingga memperpendek jarak memanjat, tapi apa yang aku sadari adalah tali tempatku akan bergelantung sudah tidak ada di tempat.
"Apa maksudnya ini, " Teriak aku melihat yang sudah tidak ada di tempatku untuk memanjat.
Aku melihat ke sekeliling dan ternyata memang semua ini di sengaja oleh orang lain, tali itu sudah mereka lepas saat melihat kami memulai lomba, dan bodohnya aku pula tidak memperhatikan, bahwa teman-temannya mengatur rencana.
"Aku kalah jumlah, bertarung sendirian melawan semua anggota klub lari ini, Tapi..."
Melihat Sina yang sudah berlari setelah melewati dinding, cara yang akan aku gunakan sedikit berlebihan, walau pun begitu, aku akan mencobanya, melihat lebar dari dinding yang berjarak Sekitar 1,5 meter membuatku harus bekerja ekstra.
"Lihatlah ini ." Teriak aku dengan semangat,
Aku berlari melompat dengan sudut 35 derajat untuk memaksimalkan lompatan ke sisi berikutnya.
Mengambil sudut 60 derajat dengan begitu jarak yang aku dapatkan saat mempermudah jangkauan tangan menuju puncak dinding. Cara ini bisa aku tutupi dengan lompatan yang beruntun.
Tapi apa yang terjadi adalah, tidak ada kesempatan, seketika dinding itu roboh membuatku tersungkur ke tanah. Aku bisa melihat Sina yang sombongal berdiri menghadap ke arahku, mengulurkan tangan untuk membantu berdiri.
"Bukankah aku hebat ." Katanya dengan kesombongan hebat.
"Ya, dengan semua temanmu ." Gumam aku merasa kalah.
Sungguh rencana yang sangat licik, membuat aku harus berjuang, sedangkan dirinya sudah mematangkan semua rencana dengan bantuan orang lain, aku sudah kalah bahkan sebelum pertandingan di mulai.
__ADS_1