
Kembali aku melihat semua foto yang terbingkai didalam kamar ibu, membuatku ingat beberapa kenangan tentangnya, walau sebagian besar hanya obrolan kecil disamping tempat ibu berbaring.
Seakan aku masih melihat ibu kembali tersenyum, ketika dia duduk dikursi samping jendela dan mengusap buku album yang ibu buat.
"Wah, kau sepertinya sangat menjaga tempat ini An." Kata Sina yang mengintip aku di kamar ibu.
"Ya karena mungkin semua foto ini kenangan yang diberikan oleh ibu untukku." Jawab aku yang mencari sesuatu didalam kamar ini.
Sina berjalan masuk, melihat seluruh foto yang terbingkai mengitari dinding kamar, menjadikan ruangan ini seperti galeri kecil yang dibuat khusus olehku.
Berputar dan melihat semua keindahan yang diberikan ibu untuk aku kenang dalam foto.
"Tapi, apa kau ingat, saat ibumu meninggal dan aku datang berkunjung, saat itu kau duduk sendirian di tempat ini, mengurung diri dengan selimut ." Kata Sina mengingatkan aku dalam kenangan lama, itu adalah hari setelah kematian ibu.
"Ya kau yang masuk tanpa permisi dan duduk di sampingku, mengatakan kalau 'duniamu itu sangat sempit ', itu membuatku sedikit tenang ." Aku tersenyum karena mengingat perkataan Sina.
Dulu Sina lah yang seenaknya sendiri masuk dan menarikku untuk pergi dari ruangan ini. Wajah lusuh dan hati yang kacau balau tidak dihiraukan oleh gadis tomboy itu, apa yang Sina lakukan itu sungguh sangat menyusahkan.
"Ah sudahlah, tidak perlu katakan lagi, aku trauma mengingatnya."
"Benarkah ?." Sina melihatku dengan serius dan tersenyum.
"Ya kau dulu dengan seenaknya memukul, menarik dan menghajar, membuatku naik ke atas pohon dan menjatuhkanku dan itu masih berbekas di tangan ini ." Kesal aku mengatakan setiap kejadian yang berhubungan dengan Sina.
"Hahaha."
Sungguh menyebalkan, jika Sina tertawa disaat aku merasa kesakitan.
Tapi sejak aku mengenalnya, dia tidak pernah berubah, mungkin sekarang rambutnya saja yang terlihat panjang, sedangkan sifat Sina tetap kasar seperti dulu.
"Nah sina, kenapa kau memanjangkan rambutmu ?." Tanya aku saat aku melihatnya.
Sekilas wajah Sina merah merona, terlihat malu-malu untuk mengatakan alasan itu.
"Aku ingin kau melihatku sebagai seorang wanita." Begitu tanggapan Sina.
"Ah ternyata kau masih sadar kalau kau itu wanita Sina ." Aku mengatakan dengan tertawa, Sina terlihat kesal, tangannya mengepal dan memukulku tanpa pikir panjang.
"Memangnya aku terlihat seperti apa dari dulu ." Sina marah.
__ADS_1
"Hanya saja, sejak dulu yang kau lakukan berbeda dengan wanita lain, tidak feminin, kasar, seenaknya sendiri dan yang paling penting aku menganggap kau sudah lupa kalau kau itu wanita." Aku yang dengan bahagia mengatakan sisi lain dari Sina.
"Tentu saja tidak bodoh ." Sekali lagi dia memukul kembali.
Jika aku masih sempat untuk menghitung dari awal pertemuan dengan Sina, mungkin sudah ribuan pukulan yang membekas di wajahku.
*****
Berjalan bersampingan, aku sedikit ingat, jika dua tahun yang lalu, lebih tepatnya saat SMP kelas dua, untuk pertama kali berbicara kepada Sina.
Sina menarikku kasar membawaku ke taman setelah kematian ibu.
Sin berkata. "Lihat kan, dunia ini luas, jangan terkurung sendiri di dalam selimutmu." Genggam tangan sina kasar saat menarikku pergi.
Melihat dia berlarian dan memanjat sebuah pohon tinggi di tengah taman.
"Naiklah, maka kau akan melihat semua rumah disekitar sini." Teriak Sina.
Aku mencoba untuk naik, berulang dan terus mencoba, terjatuh dan mencobanya lagi, lututku berdarah dan mencoba lagi.
Tanpa aku sadari sebuah keingintahuan memberikanku semangat untuk terus memanjat pohon itu. Hingga sampai didahan pertama, aku melihat berbagai bentuk rumah yang ada di komplek sekitar.
Sekelilingku hanya atap dan tiang listrik, langit begitu dekat untuk aku pandang, ini pemandangan yang aku kagumi dengan mataku sendiri.
"Lihat kan, indah bukan, di sana kau bisa melihat pantai ." Kata Sina dengan semangat.
"Ya kau benar, itu indah sekali ." Tersenyum kagum aku melihat semua ini.
Aku begitu menikmatinya, hingga saat sore aku mencobanya lagi, awan dan sinar jingga begitu sempurna dimataku, membawa kamera yang ibuku simpan, aku panjat dengan harapan melihat langit yang bisa aku abadikan.
Aku merasakan sentuhan hangat tangan lembut ibu, ketika aku mengagumi pemandangan dari cara mata ibu melihat dari sebuah kamera.
Sebuah keindahan dalam bentuk lembar berwarna, memotret ke segala arah, dengan sudut pandang yang aku inginkan. Awan sore, keindahan pantai dan gunung Fuji. Itu hal pertama yang membuatku kagum dengan sebuah kamera.
Walau itu sebuah cerita lama, aku ingin terus mengingatnya, mengarahkan kamera ke seorang wanita yang berjalan di sampingku, membidik wajah tersenyumnya.
"Apa yang kau lakukan ." Teriak Sina dengan menutupi wajah.
"Aku ingin memfotomu dan mencetaknya. " Goda aku dengan kamera ini, sedangkan dia sedikit malu dan memalingkan wajah.
__ADS_1
"Untuk apa fotoku itu ?."
"Untuk ku letakan di depan pintu agar tidak ada yang berani masuk tanpa izin ." Kata aku dengan tertawa dan sekali lagi dia memukulku, sungguh dia wanita kejam yang bisa membuatku kagum.
Berlari kecil ke depan, membalikkan badannya ke arahku, mengejek dengan menjulurkan lidahnya, dengan bergaya, aku bertanya.
"Sedang apa kau ?, aaahhh apa kau ingin foto dengan gaya itu ." Tanya aku dengan senyum licik.
Entah kenapa aku seperti bisa menebak jalan pikiran Sina, wajah gadis tomboy itu merah kembali, aku ingin tertawa melihat dia yang malu, berbalik dan tidak menatapku, aku persiapkan kamera di belakangnya.
"Nah Sina, kau cantik sekali." Ini adalah pujian untuk Sina.
Dengan tiba tiba dia berbalik, aku memotretnya, cara alami untuk menunjukkan wajah malu seorang gadis, aku mendapatkan foto dari gadis yang bingung dengan tiba tiba.
"Wajahmu lucu Sina ." Aku memperlihatkan gambar wajahnya dari layar kamera.
"Awas kau An ." Kata sina dengan wajah malu dan kesal.
Dia berlari mengejar, mungkin jika aku tertangkap dia akan menghapus fotonya dan melemparkan kamera ini ke dalam selokan, itu yang pasti akan dia lakukan.
Aku harus lari dengan cepat dengan ketakutan karena salahku sendiri.
Dengan perasan lelah dan hawa panas menyengat kulit, keringat yang mengalir karena di kejar oleh wanita menakutkan.
Bergegas masuk ke kafe dan mengunci pintu, dengan perasan ketakutan langsung saja aku duduk di kursi dan meminum segelas air yang di pegang oleh Noe.
"Aku sungguh tidak akan melakukannya lagi ." Kata aku sendiri yang masih ketakutan.
"Kenapa kau An, seperti habis maraton ." Tanya Noe di sampingku.
Dengan perasaan yang bercampur, aku menjawab pertanyaan yang Noe ajukan kepadaku.
"Bukan lari maraton, tapi halang rintang." Jawab ku.
"Ia, tapi kenapa ?."
Sepertinya aku tidak perlu menjawabnya, rintangan itu sudah mengetuk pintu, di buka oleh pak bos dan berjalan ke arahku.
"Ya, seperti yang kau lihat". Aku menelan ludah.
__ADS_1
"Delapan puluh persen aku mengerti keadaanmu An, jadi semoga kau selamat." Kata Noe yang sama ketakutan dan langsung pergi menjauh.