
Aku tidak tahu kenapa, sebuah sensasi nostalgia yang begitu damai, apa yang aku lihat saat ini seperti aku kembali ke masa lalu, setiap sisi dari hadapan rumah ini aku bisa melihatnya, sebuah taman kecil dengan kolam ikan dan ayunan di sampingnya, aku sedikit berpikir entah mulai kapan aku melupakan kalau dulu aku senang sekali duduk di ayunan itu dengan semua buku bertumpuk di sampingku dari buku fisika, biologi, matematika, novel, bahkan tentang ilmu pelajaran sosial, berhubungan dari pada itu, aku bisa melihatnya, sosok diriku yang duduk berayun dan menutup muka dengan buku bacaan, sekitar umur 9 tahun, ya sudah terlihat dari gaya rambut potongan 3 / 4 seperti akan berfoto album sekolah,
"Kakak, ayo main ." Kata seorang gadis kecil berkata padaku,
Seorang gadis kecil menghampiri, membawa boneka beruang yang dia pegang di tangan kanan dan pakaian gaun putih imut berdiri di samping ayunan,
"Bermainlah sendiri Nagisa." Jawab aku tanpa memedulikan Nagisa,
Ya itu Nagisa saat berumur 6 tahun yang akan beranjak umur 7 tahun, masih menyibukkan diri dengan buku di hadapanku dan Nagisa pula masih terdiam memandangi kolam ikan di sampingnya,
"Jangan dekat dekat nanti kau terjatuh Nagisa." Kata aku sedikit memperhatikan adik kecilku,
Walau aku tidak begitu sering untuk bermain dengannya, aku tidak pernah melepaskan pengawasanku agar tidak terjadi hal yang tidak di inginkan kepada Nagisa, aku bisa melihatnya dia begitu asyik memainkan ranting kayu yang dia temukan untuk bermain dengan ikan di dalam kolam,
"Nagisa ?." Kata aku yang melihatnya,
Aku sedikit melihat, ya kaki kecilnya berada di samping kolam yang begitu dekat, aku sadar dia pasti akan terjatuh jika terus bermain di samping kolam, aku berjalan mendekatinya dan memang dia tergelincir, dan akan masuk ke dalam kolam, tapi aku sudah bisa menebaknya, tubuh yang aku tangkap sebelum terjatuh ke dalam kolam,
"Nagisa, jika kau ingin berenang, jangan di kolam ikan nanti ikannya mati ."
"Kakak, gak mau main sama Nagisa ." Teriaknya dengan sedikit marah,
"Cepat masuk saja sana ." melepaskan pegangannya.
Dia berlari masuk ke dalam rumah, aku sadar di dalam ingatanku, aku tidak pernah bermain dengannya, walau pun begitu aku selalu mengawasinya, dia adik kecilku yang tidak pernah lepas untuk aku lihat, bertahun tahun yang lalu, ingatanku sudah melupakan beberapa hal yang seharusnya menjadi kehangatan untuk di kenang,
Beberapa saat kemudian, laki laki yang aku sebut dengan ayah selalu pulang dengan senyuman hangat menyambut kehadiran anaknya di dalam rumah, masuk dan mendekat ke arahku yang sedang menikmati suasana ayunan dan lembutnya udara sore ini, ayahku berkata,
"Apa kau sudah belajar An ." Katanya dengan wajah serius,
"Ya ayah, " Jawab aku tanpa berekspresi,
Nagisa berlari dengan semangatnya mendekat ke arah ayah dan dia pula menyambutnya untuk mengangkat dan menggendongnya, entah sudah berapa tahun aku tidak mengingatnya, sebuah kehangatan keluarga sebelum semuanya hancur,
Bahkan melihat sang ibu yang tersenyum lepas memandangi kami dengan kamera tua di tangannya adalah sebuah kebahagiaan yang pernah aku dapatkan selama ini, Nagisa begitu merasakannya, dia masih terjebak di masa lalu seperti aku, Sebagai seorang kakak, aku tidak ingin melihat adikku menjadi sepertiku, dia tidak bisa mengikhlaskan sesuatu yang berharga di dalam kehidupannya hancur, walau aku sebenarnya sama seperti dia yang masih ter hantui oleh masa lalu, hanya saja kesalahan yang telah aku lakukan ini, jangan sampai terulang lagi oleh adikku,
__ADS_1
"Hey kalian, jangan hanya diam di luar, cepat masuk dan kita makan ." Kata Ibuku dengan senyuman yang begitu indah,
Hangat, ya begitu hangat saat mengingat kenangan ini, suara ibuku masih aku bisa mengingatnya, suara lembut dengan kemerduannya, tapi karena ini pula kami berdua masih tersesat di gelapnya masa lalu, entah kenapa begitu berat untuk mengikhlaskan sebuah perubahan, aku dan Nagisa tidak bisa terus seperti ini,
Tangan dengan gelang itu memotret kebahagiaan yang ia berikan bingkai dan di letakan di sudut ruangan, hingga saat ini aku masih bisa terus mengingat, kenapa aku berada di sini, ya karena aku tahu aku tidak ingin kehilangan ini semua, harta berharga yang di berikan ibuku dengan semua cinta di dalam potretnya,
Mungkin itu yang aku ingat saat tidak sadarkan diri, di saat aku membuka mata, suasana pagi dengan sinar matahari yang menyilaukan mata membuat kepalaku sakit,
"Ah sudah pagikah ?,"
Ya itu yang aku mengerti selama aku tidak sadarkan diri dan seseorang yang berjalan datang dari arah dapur, dia masih menggunakan celemek, hot pants dan tangtop, sungguh wanita perkotaan sangat menakutkan dalam berfasion, sedangkan dia adalah wanita yang datang dari kota untuk menjemput Nagisa pulang ke sana, saat dia datang dengan lembut menopangku untuk bisa mengangkat tubuh yang masih terasa sakit,
"Kakak, jangan bangun dulu, lukamu belum kering ." Kata Dia yang tentunya belum aku kenali,
Ya, dia mengatakan itu saat aku mencoba untuk bangun dan dia membantuku,
"Tolong ambilkan ponselku." Menunjuk ke arah meja,
Dengan sigapnya dia mengambilkan ponsel yang ada di meja belajar dekat dengan laptop, sedangkan wajahnya masih malu malu untuk menatap mukaku, aku sendiri masih ingin bertanya kepadanya,
Dia terkejut saat memang sebuah bau hangus datang dan memberikan alarm untuk segera mengangkat masakannya, dia berlari dengan tergesa gesa,
"Sungguh merepotkan ." Gumam aku,
Aku membuka ponselku, dengan niatan untuk menelepon seseorang, hingga sesuatu menggeliat di dalam selimut samping tempatku tidur,
"Apa ini ." Aku bertanya dan aku membukanya,
Seorang gadis kecil cantik yang dengan cantiknya tertidur di sampingku, begitu imut seperti sebuah boneka saja, beberapa saat kemudian wanita itu kembali dan sekarang sudah melepaskan celemeknya tapi tetap dengan baju minim itu, tapi aku sedang menelepon noe untuk memberitahukan keadaanku, saat tersambung,
"Yo, An apa itu kau ." Jawabnya,
Bahkan sebelum aku mengatakan apa pun dia sudah bertanya lebih dulu,
"Ya, ya ini aku, "
__ADS_1
"Jadi kenapa kau bolos sekolah ."
Mendengar apa yang di tanyakan Noe kepadaku, dia wanita masih dengan setia berdiri menungguku menyelesaikan apa yang aku lakukan,
"Ah, begini, semua guru pasti sudah bertanya kenapa dan kau pun sudah menjawab tidak tahu, maka aku ingin mengkonfirmasikan kalau aku tadi malam kecelakaan, jadi aku tidak masuk untuk hari ini, "
"Ah, apa ada yang bisa mencelakai mu, aku harus berterimakasih kepadanya." Itu jawaban dari Noe dan membuatku kesal sendiri.
"Ah, aku tidak sengaja menghapus folder jangan di buka ." Balas aku dengan mengancam,
Wanita yang ada di sampingku, dengan perlahan berjalan ke sampingku, mengangkat si gadis kecil yang perlahan terbangun dan dengan imutnya mendekat ke arahku,
"Ah jangan begitu kau An, Baiklah baiklah, aku akan memberitahu wali kelas."
"Terima kasih, "
Saat aku menutup teleponku, ya dia perlahan melihat dengan sedikit malu ke arahku,
"Kakak, apa tidak apa tidak masuk sekolah ." Kata wanita itu tanpa melihat ke arahku,
"Berangkat sekarang pun sudah di anggap tidak masuk, " Jawab aku dengan perasaan pusing,
"Ya memang benar juga ."
Wanita itu dengan lembut seperti seorang ibu menenangkan si gadis kecil yang terbangun dan melihat ke arahku,
"Ah, kakak Tita sudah masak, apa kakak ingin makan di sini atau di ruang makan." Dia berkata dengan menyebutkan namanya,
"Ah biarkan saja dulu, saya masih belum lapar dan kenapa kau memanggilku dengan kakak ?,"Tanya aku karena heran, dan aku sendiri melihat wajah dan bentuk tubuhnya itu seharusnya umurnya di atasku, tapi dia menyangkalnya dengan kata panggilan 'kakak ' untukku,
"Ya memang karena kakak itu adalah kakak dan aku adalah adikmu, kak An " Itu jawaban yang memang sangat logis,
"Aku sendiri tidak ingat memiliki adik sepertimu, ...." Tanya aku yang memang sudah mengerti situasinya,
Sedikit berpikir kenapa, ya memang harusnya ini sudah sangat jelas kenapa dia memanggil dengan sebutan kakak,
__ADS_1
"Mungkinkah, kau adiku yang menghilang bertahun tahun yang lalu ." Ucapku dengan terkejut.