
Hari ini, setelah penerbanganku untuk pulang rumah setelah kuliahku selama empat tahun, seluruh keluargaku datang menjemput di bandara dengan hebohnya, membawa tulisan besar yang bertuliskan 'SELAMAT DATANG Yoan ' saat aku melihat kehebohan ke tiga adikku setidaknya rasa malu yang aku alami itu setingkat untuk aku melakukan bunuh diri tentunya, Nagisa, Tita dan Rin berlari saat melihat aku turun dari eskalator, Tita melompat dan memelukku, Nagisa tampak marah dengan menarik tubuhnya yang sangat kencang memelukku,
"Lepaskan tanganmu mbak." Teriak Nagisa menarik tubuh Tita,
"Hey, dia itu kakakku juga, " Jawabnya dengan cemberut,
"Tapi tetap lepaskan, harusnya aku yang pertama memeluk kakakku ." Balas Nagisa dengan marah,
Saat ke dua adikku meributkan hal yang sangat tidak penting itu, Rin tampak murung berdiri di depanku, yah Rin sudah tumbuh menjadi gadis cantik yang sekarang sudah masuk sekolah dasar kelas 2 di tahun ini,
"Rin kenapa ?." Tanya aku melihat Rin berdiri dengan wajahnya murung,
"Rin, ingin peluk kakak, tapi mbak Tita dan mbak Nagisa nanti marah ." Kata Rin dengan imutnya,
Rin yang begitu imut itu langsung meluluhkan hatiku, tanpa pikir panjang langsung saja aku mengangkatnya,
"Jangan pedulikan mbakmu, ayo kita pulang ." Aku gendong Rin dengan senangnya,
"Ia kakak ." Jawab Rin tertawa lucu,
Baru beberapa langkah satu sosok menakutkan dengan tatapan tegas dan mata yang tajam melihatku, sang ayah yang berdiri dengan tegap dan tangan menyilang di dada, dia berkata,
"Apa yang kau dapatkan di sana ." Tanya Ayah melihatku tajam,
Aku yakin dengan apa yang akan aku jawab, aku pun sama melihat dengan penuh keyakinan dan menjawabnya,
"Aku belajar kalau aku tidak pantas merasa lebih baik atau pun lebih buruk di luar sana masih banyak manusia yang sangat luar biasa dan membuatku mengerti betapa kecilnya aku di dunia ini ." Jawab aku,
"Baguslah kalau kau sadar An, karena itu adalah perkataan yang selalu ibumu ucapkan dulu ." Balasnya dengan tanpa tersenyum,
Setidaknya aku tahu selama ini aku merasa kalau diriku sendiri adalah seseorang yang terus tersiksa di dalam penyesalan hidup tapi selama empat tahun ini aku sudah belajar banyak hal, tentang semua makna dari kehidupan karena itu aku tidak bisa merasa sombong dengan apa yang aku dapatkan saat ini, masih banyak hal yang harus aku pelajari untuk bisa bahagia dan lebih bahagia,
"Jadi An, apa yang akan kau lakukan setelah ini, apa langsung kau akan menjalankan perusahaan, atau ...." Kata seorang wanita yang sudah menjadi Ibuku berdiri di samping sang Ayah,
"Sebentar, ada yang harus aku lakukan, aku ingin ke makam ibu dulu dan bertemu semua sahabatku, " Jawab aku sedikit tersenyum,
"Ya baiklah ." Jawab Ibuku ini,
Melihat kedua gadis yang masih ribut di sana, aku memanggil mereka berdua,
"Nagisa, Tita, apa kalian masih lama untuk ribut, kalau memang begitu, kakak akan pulang duluan ." Teriak aku yang berjalan pergi,
Sekilas mereka berdua berhenti berkelahi dan melihatku yang akan pergi,
"Tunggu kak ." Teriak mereka berdua bersamaan,
Ya setiap orang memiliki kehidupan mereka sendiri entah seperti apa, aku hanya ingin kebahagiaan selalu datang kepada semua orang di kehidupanku,
Aku memiliki alasan kenapa aku ada di sini, kembali ke tempat aku di lahirkan, empat tahun yang lalu aku masih bersembunyi di balik selimut tebal yang mengurungku dari masa depan, tapi melihat setiap orang yang terus berjuang menjalani kehidupan dengan semangat, itulah alasan kenapa aku harus berubah, di dalam hidup aku mengenal para manusia itu dan aku memanggil mereka sebagai seorang sahabat, aku menapaki jalan yang tidak berubah arahnya, dengan suara gemuruh ombak yang sama seperti dulu, semua ini tidak berubah dan termasuk untuk semua rasa terima kasihku, yang sampai saat ini tidak berubah untuk mereka semua,
Awal tujuanku adalah sebuah pemakaman umum di mana orang yang paling aku cintai tertidur di sana, langkah demi langkah yang membawaku mendekat ke sebuah pusara, rasa sejuk dan damai, angin yang mulai membelai seluruh tubuhku seperti lembut tangannya saat mengusap kepalaku dulu, bahkan di hadapanku yang terlihat seperti sosok dirinya tersenyum dan aku bayangkan apa yang akan Ibuku ucapkan jika memang dia melihatku yang saat ini berdiri di samping tempatnya tertidur,
"Ah, sudah lama sekali, sekarang kau sudah tumbuh menjadi dewasa." Bayang aku mendengar suara lembut dari Ibuku,
Saat membayangkan apa yang ibuku katakan dan aku menjawab,
"Ya, aku menjadi mengerti seperti apa kehidupan ibu .",
Dan ibuku mengatakannya lagi,
"An menjadi lebih kuat, ibu bangga melihatmu, ibu bahagia An ."
Air mataku mengalir dengan derasnya, aku tidak bisa menahan, aku ingin menangis dan berteriak tapi aku yakin ibuku tidak ingin melihat anaknya seperti itu, hanya kata terakhir yang belum aku sampaikan hingga saat ini, dengan menahan tangisku aku menahan nafas dan berkata,
"Terima kasih atas segalanya ibu, karena ibu aku mengerti kalau dunia itu indah dan aku bahagia, " teriak aku dalam hati penuh kesedihan,
Dengan setangkai bunga lili yang aku letakan di pusaranya aku pergi dengan semua tetes air mata yang tidak bisa aku tahan dan memulai kembali untuk melihat apa yang aku tinggalkan dulu,
__ADS_1
Langkah membawaku ke sebuah rumah, yah rumah sederhana yang dulu dengan kapasitas 'S3' atau 'santai saja susah ', tapi apa yang aku lihat saat ini adalah sebuah rumah yang indah, bahkan dengan semua renovasi lengkap dan menjadi layak untuk hidup di dalamnya, suara para anak yang keluar dari rumah itu dengan seragam sekolah lengkap termasuk, si adik kecil yang sudah bersiap sekolah, aku melihatnya dari kejauhan, dia mendekat berjalan ke arahku, melihat seperti tidak asing dengan seseorang di hadapannya, aku mengangkatnya dan berkata,
"Adik ke lima kau sudah besar rupanya, apa kau ingat dengan kakak." Tanya aku melihatnya berdiri di depanku,
"Ya, kak An ." Dia menjawabnya dengan imut,
Suara memanggil dari dalam rumah, suara lembut itu tidak berubah walau sudah empat tahun aku tidak mendengarnya,
"Nia, kau di mana ." Teriak wanita itu,
Saat dia keluar, tatapan matanya tertuju kepadaku, mungkin memang aneh jika dia melihatku sekarang, mungkin menganggapku orang asing dengan semua penampilan dan rambut panjangku,
"Yo, lama tidak bertemu, " Panggil aku dengan senyuman,
Wajahnya terlihat bingung, matanya berkaca kaca, entah sepertinya dia masih mengenaliku walau dengan semua perubahan ini,
"Selamat datang kembali An, " Kata Rina dengan menutupi kesedihannya,
Dia terdiam setelah mengucapkan kata itu, air matanya meleleh membasahi make upnya,
"Jadi, apa kau sudah menemukan kebahagiaanmu ." Bertanya aku kepada gadis itu,
"Ya, kau yang membuatku bisa menemukannya dan aku tidak mungkin seperti ini tanpa bantuanmu ." Jawabnya membuatku tertawa,
Aku menurunkan si adik terakhir dan berjalan mendekati Rina di depanku,
"Aku hanya menunjukkan jalannya, tapi kau sendirilah yang menggapainya ." Kata aku setelah selesai tertawa,
"Tapi, tetap saja tanpa dirimu, aku tidak mungkin menjadi seperti ini, dan yang belum aku sampaikan adalah TERIMA KASIH UNTUK SEMUANYA An ." Teriakannya membuatku sedikit senang karena melihatnya berubah dari Rina yang dulu,
Aku tidak lama berbincang dengan Rina, tapi sekarang dia sudah menjadi kepala bagian administrasi di kantor cabang dari perusahaanku yang bertempat di kota ini, sikapnya masih seperti dulu, dia gadis pemalu dengan harapan setinggi langit, tapi sekarang aku bisa melihat wajah yang tidak tertutup poni tebalnya, dia sudah berubah menjadi lebih baik, aku bahagia melihat hal itu,
Untuk Sina sendiri dia adalah perempuan yang sangat hebat, dia sendiri mengabariku kalau dia menolak untuk bekerja di perusahaan yang aku tawarkan, tentu aku sendiri mendengar itu langsung dari dirinya, kalau dia menjadi pelari untuk Indonesia di seagames tahun lalu, walau untuk diriku sendiri dia lebih layak menjadi petinju dengan kekuatan pukulannya itu dan entah ini sebuah kebetulan atau mungkin takdir yang mempertemukan aku dengannya, saat aku pergi dari tempat Rina, sosok dirinya yang berlari dari kejauhan sudah bisa aku lihat, dia sendiri mungkin tidak menyadari kedatanganku, wajah serius dan nafas yang sangat teratur, terus memacu kedua kaki berlari dengan indahnya, saat melewatiku, aku sendiri hanya terdiam tidak menyapa dirinya, tapi setelah beberapa detik sebuah tendangan keras dengan gaya melayang layaknya kungfu tepat mengenai punggungku, dan dia berkata,
"Apa kau pikir bisa menipu mataku An ." Teriaknya kesal,
Wajahnya marah dan tangannya menarik kerah bajuku, mengangkatnya seperti akan menghantamkan pukulan ke arah pipiku, tapi bukan itu dengan sadar dia langsung memeluk tubuhku,
"Kenapa kau sina ." Bertanya aku saat mendapatkan pelukan hangat si gadis temperamental ini,
"Jangan tanya kenapa, kau itu yang kenapa, seenaknya sendiri pergi meninggalkan aku di sini ." Jawabnya yang terisak tangisan,
"Ya kalau kau tanya kenapa, aku hanya bisa menjawab itulah keputusanku ." Balas aku mengatakan isi pikiranku,
Dia tidak melepaskan pelukannya, bahkan tubuhku mulai terasa sakit oleh tangannya ini,
"Anu maaf jika kau tidak melepaskan pelukanmu ini mungkin tulang belakangku bisa patah Sina ." Teriak aku dengan sisa nafas ini,
Ya tapi tetap dia tidak melepaskannya, bahkan semakin kuat dan aku merasa dia mulai menangis, aku membelai rambut panjang yang dia kuncir itu, dalam beberapa menit aku bisa merasakan dia tidak berubah masih seperti dulu, sikap yang keras tapi berhati lembut seperti kapas, aku masih bisa yakin dia tetap Sina yang aku kenali tidak sedikit pun dia berubah,
Saat berjalan berdua dengan Sina dan membicarakan tentang kisah masa lalu, aku sadar sosok lain yang datang berlawanan arah dari kami, dengan mengendarai motor jadulnya, sosok dirinya begitu hebat, aura dari seseorang yang rajin beribadah dan selalu taat dengan perintah agama, tapi entah itu siapa dengan kepala botak bertasbih panjang melintang di lehernya, dia berhenti, memandangiku dengan wajah aneh yang begitu terharu, aku merasa tidak enak dengan tatapan matanya itu dan menyalaminya,
"biksu, dari mana ini pak, apa ada upacara pemakaman di sekitar sini ." Kata aku sedikit basa basi,
Dia tidak menjawab tapi tatapan mata yang begitu sedih bahkan hingga meneteskan air matanya, sedangkan melihat Sina yang tertawa dengan wajah tidak di perlihatkan ke arahku, aku merasa aneh, bahkan saat biksu otu turun dari motornya dan langsung memelukku,
"Eh apa ada yang salah denganku, " Kata aku dalam hati, sedangkan Sina tertawa hingga memukul lututnya,
Aku merasa kalau memang ada yang aneh di sini dan hanya aku sendiri tidak mengerti,
"Apa yang terjadi ." Teriak aku ingin mendapatkan penjelasan,
Saat semua menjadi lebih mengharukan untuk pak ustad ini dan menjadi lebih membingungkan untukku, Sina berkata,
"Dia itu Noe, An ."
"Eh, Eeeehhhhh." Teriak aku tidak percaya,
__ADS_1
Aku melepaskan pelukannya, wajah Noe yang sangat jauh berubah membuatku tidak mengenali siapa dia .
"Ada apa denganmu Noe, kau banyak sekali berubah, tidak, kau seperti berevolusi Noe ." Aku tetap tidak percaya,
Noe tersenyum dengan semua tangisan yang mengalir di wajahnya,
"Akhirnya kau kembali An, aku merindukanmu ." Peluknya dengan sangat rindu,
"Ya aku tahu, tapi kenapa, apa yang membuatmu menjadi berubah seperti ini ."
"Banyak yang terjadi, apa kau mau mendengarnya An ."
"Jika itu akan memakan waktu yang panjang, maka jangan sekarang, lebih baik kau tulis saja, mungkin nanti aku akan membacanya ." Kata aku karena masih banyak hal yang harus aku lakukan,
Dengan cepat Noe mengeluarkan beberapa lembar kertas dari dalam sakunya dan memberikannya kepadaku,
"Ini, semua ada di sini ." Kata Noe dengan terharu,
"Sejak kapan kau mempersiapkannya, " Bertanya aku saat mengambilnya,
"Sejak empat tahun yang lalu ." Jawabnya,
Ya Noe sudah berubah, mungkin menjadi seorang yang lebih baik dari dirinya dulu, kehidupan seseorang memang memiliki jalannya masing masing, ada yang memilih untuk berlari, ada pula yang hanya berjalan santai untuk menapakinya dan setiap jalan itu tidak lebih seperti wadah di mana kita menempatkan semua mimpi, semua harapan, masalah dan tujuan kita, tapi semua itu tetap kita sendirilah yang memegang kendali tentang seperti apa kita akan mencapainya, terkadang kita menemukan kelokan, jalan menanjak ataupun menurun, dan tidak luput sering kali kita menemukan jalan buntu di dalam jalan kita, hingga satu kepastian yang ingin kita capai di akhir perjalanan adalah Happy Ending,
Dan satu lagi seseorang yang harus aku temui, ya sebuah puisi yang sangat tepat untuk menggambarkannya,
"Bagaikan senja,
Menyelimuti hangat di ujung karang,
Rasa haus akan cinta darinya,
Tidak pernah puas untuk aku kagumi,
Hey kau cahaya indah dari utara,
Dalam gelapnya malam yang abadi,
Semua membuatku semakin menginginkannya,
Temani dan hiduplah bersamaku,
Aku adalah malam yang sepi,
Tanpa dirimu, " Kata aku dengan puisi dan berjalan mendekat,
Sosoknya berdiri di atas karang ujung pantai ini, aku seperti baru melihatnya kemarin, saat di mana aku begitu mengagumi langit dengan dia yang berdiri menghiasinya, tubuh ramping berdiri menghadap cakrawala, seperti melihat sesuatu yang begitu jauh di ujung senja, ya dia adalah wanita yang merindukan langit,
Sekali lagi aku kembali dengan kamera di tanganku, berjalan mendekat, semakin dekat aku bisa mencium aroma kerinduan yang begitu terasa dan mungkin dia sendiri sudah merasakan kehadiranku saat berdiri di pantai ini,
"Apa kau tahu, saat kita percaya bahwa kebahagiaan itu begitu dekat, maka kita bisa merasakannya ." Kata dia tanpa membalikkan badannya,
"Ya, aku tahu itu dan saat ini aku pun bisa merasakannya, " Balas aku melihat dia memandang hal yang telah lama di rindukan olehnya,
Tubuhnya berputar menghadapku, mata yang terpejam mulai terbuka, melihat senyuman itu aku merasakan sebuah kebahagiaan datang mulai menyelimutiku,
"Akhirnya aku bisa melihatmu An, " Kata Rea dengan semua tetes air mata yang mengalir tanpa berhenti,
"Maaf membuatmu menunggu, Rea, " Jawab aku yang tentu bahagia hingga meneteskan air mata,
"Ya, kau jahat An, membuat seorang wanita menunggu selama empat tahun untuk bisa merasakan kebahagiaan ini ."Balasnya dengan memelukku,
Aku tersenyum, aku bahagia, aku ingin menikmati kebahagiaan ini lebih lama, aku tidak merasa puas untuk mengagumi keindahan ini di dalam foto, aku tarik nafas yang dalam, menguatkan tekad dan tidak berpikir dua kali untuk mengatakan hal ini,
"Rea, maukah kau menikah denganku ." Kata aku dengan sebuah gelang yang pernah di berikan olehnya,
"Ya, aku mau An ." Jawabnya tanpa berpikir kembali,
__ADS_1
Wajahnya tersenyum, air mata kesedihan dengan semua hal yang pernah dia lewati, aku bahagia bisa merasakan hidup, menjalaninya dari titik terendah hingga sampai di tempat ini, tapi ini hannyalah sebuah awal dari kisah baru antara kami berdua, masih ada ribuan jalan yang ingin aku lalui bersama dengannya, entah itu susah atau pun senang, selama dia ada di sampingku, aku yakin jiwaku tidak akan gentar menghadapinya, maka kita mulai kembali semua ini dari awal, dengan cinta yang banyak hingga aku tenggelam di dalamnya,