Aurora Tanpa Warna

Aurora Tanpa Warna
karma


__ADS_3

Senja, ombak, karang dan sosok wanita yang berada di antara itu semua. Aku memang selalu berada di sini. Seratus meter untuk melihat keindahan.


Banyak hal yang bisa aku perhatikan, saat itu aku seperti takut untuk melupakan dan takut untuk mengingatnya. Tapi di balik semua ini, aku masih ingin melihat berbagai macam keindahan dari dunia.


Cahaya dari tanah yang dingin, pelangi dari sinar bulan dan bahkan padang alang alang dengan jutaan bintangnya. Aku ingin menyampaikan alasan tentang kenapa jalan ini aku pilih.


Ya .. agar setiap orang melihat kenyataan kalau hidup itu bukan mengikuti lingkaran yang selalu kembali ke titik awal. Aku ingin memperlihatkan tentang seperti apa indahnya garis lurus yang aku buat.


Tentang betapa menyakitkannya jalan buntu yang aku temukan atau pun persimpangan yang membuatku bingung saat memilih.


Jadi kehidupan yang aku miliki adalah keinginan untuk aku melihat kebahagiaan setiap orang tersenyum karena ku.


Di jam ini, dia sudah berdiri untuk menghadapkan jiwanya ke arah senja, aku tidak pernah bosan untuk merasakan aroma wangi yang dia miliki atau pun memandangi kaki putih yang berjalan tidak beralas.


Mendekat semakin dekat, satu meter di sampingnya adalah jarak yang bisa aku capai saat ini. Itu membuatku bahagia.


Walau entah sudah berapa puluh foto yang aku abadikan untuk melihat keindahannya. Hanya saja, itu tidak membuatku bosan, karena tidak pernah terpikirkan olehku.


"Kenapa kemarin kau tidak di sini nona ." Kata aku melihatnya dari belakang.


"Ada banyak hal terjadi." Jawab Nona itu yang begitu terlihat sedih.


Melihatnya yang sendu, memandangi langit hitam dari balik mata tidak bercahaya itu sangat berbeda, mata yang terlalu basah, berkaca tapi sangat menyayat.


"Apa yang membuatmu sedih nona, matamu berbeda di hari ini ." Tanya aku saat memperhatikan raut wajahnya.


Dia tersenyum dan meneteskan air mata, tentunya air mata yang sangat berbeda dari biasanya, lebih ke sebuah kesakitan hati, atau penyesalan.


"Kau memang seperti bisa melihat apa pun, bahkan kesakitan yang aku miliki seperti terbaca oleh matamu, " Berkata dia dengan senyuman di bibirnya.


"Ya, aku tidak begitu mengerti. Hanya saja, saat kau menunjukkan mata itu, seperti perasaanmu terkurung terlalu dalam untuk di tunjukan ." Jawab aku yang berusaha untuk mengerti.

__ADS_1


Air mata semakin deras membasahi setiap lekuk pipi merah dari gadis yang merindukan langit ini, entah apa yang bisa aku bantu untuk membuatnya lebih baik.


Hingga dalam tangisnya dia berkata..."Apa kau tahu saat kita tahu harapan itu begitu dekat, tapi tangan kita tidak bisa mencapainya, karena kita takut. "


Suaranya seperti tertahan oleh sesuatu.


"Ya aku mengerti, " Sungguh aku mengerti perkataannya itu.


"Apanya yang mengerti, apa kau pernah merasa lebih hancur lagi, aku tidak peduli dengan apa yang aku lihat, hanya saja perasaanku, keinginan untuk bertemu dengan ayahku saja, itu sangat sulit ."


Sedikit keras dia mengatakannya dan itu sangat dalam. Dia kesakitan, Ya... aku bisa merasakannya. Hanya saja kita berada di posisi yang berbeda.


Aku yang kehilangan seseorang dan menghancurkan segalanya, tapi dia mengharapkan seseorang dan ingin memperbaikinya.


Sedangkan saat dia merasa jika hanya dirinya sendiri yang kesakitan, itu sangatlah salah.


"Ya karena aku pernah merasakan sebuah kehilangan dan itu menghancurkan segalanya, maka aku bisa mengerti apa yang kau rasakan nona ." Kata aku yang mencoba mengatakan kalau dia tidaklah sendiri.


"Kau tidak sendirian nona, aku pasti akan menyelamatkanmu ." Kata aku meyakinkan dirinya.


Tidak untuk aku, mengerti tentang sebuah perasaan itu sanggatlah sulit, karena kita sendiri terkadang tidak bisa mengerti. Seperti apa perasaan yang kita miliki.


Hingga langit menjadi malam, di waktu untuknya pergi pun dia masih tidak beranjak dari duduknya yang mendekap lutut untuk menyembunyikan air matanya.


"Biasanya dia pergi saat seperti ini ." Aku mendekat ke arahnya, menggoyang tubuh ramping yang masih tenang dalam dekapan lutut itu.


"Nona mau sampai kapan kau ingin menangis ."


Dia tidak menjawabnya, aku mencoba menggoyangnya lebih keras, hingga wajahnya terangkat dan berkata..."Maaf, tadi aku tertidur, ah ini sudah malam yah ."


Dengan sikapnya seperti melupakan semua masalah itu. Setidaknya dia sudah tidak memikirkan banyak hal di dalam tidurnya yang sejenak.

__ADS_1


"Apa kau tidak pulang nona ." Aku masih berdiri di sampingnya.


"Ah, aku lupa kalau Sisui sedang tidak di rumah untuk menjemputku, jadi bisakah kau mengantarkan aku pulang ." Pinta nona itu dengan senyuman lembut, mungkin ini sedikit hadiah yang aku dapatkan untuk mengantar pulang, ya aku bisa menikmatinya.


Aku sedikit mengerti arah rumahnya, walau tidak begitu tahu di mana, langkah kaki yang saling berderap, bersampingan dan tangannya yang menarik tanganku. Aku sedikit gugup, tangan yang hangat, bahkan mengubah suasana dingin malam dari angin darat pun tidak membuatku menggigil.


"Apa kau tahu, seperti apa rasanya jika melihat malam selama hidupmu ." Tanya dia untuk memecah rasa canggung.


"Aku tidak pernah memikirkannya, hanya saja pasti itu sangat membosankan ." Jawab aku seakan aku mengerti.


Dia tersenyum, aku bisa melihatnya sekarang.


"Ya setidaknya separuh kau benar, itu sangat membosankan, tapi di dalam gelap aku bersyukur karena tidak perlu melihat seberapa buruknya manusia di setiap sifatnya ." Kata sang nona dengan tersenyum.


"Kau benar nona, aku pun berpikir saat tidak ingin melihat hal yang tidak ingin aku lihat pastinya aku akan memejamkan mata, ." Tambah aku mengatakan sesuatu yang mungkin tidak perlu.


"Seperti itulah ." Singkat balasnya,


Dia masih tersenyum, bahkan tangan itu menggenggam lebih erat, hingga aku bisa merasakan kalau tanganku mati rasa.


"Jadi kau tidak perlu takut untuk melihat hantu ." Kata nona yang melanjutkan pembicaraan.


"Ya itu salah satunya, " tertawa kami berdua walau itu sebenarnya tidak lucu.


Dalam keheningan alam tanpa ada suara kendaraan di jalanan ini, atau pun suara berisik para manusia saling berjalan, membuat aku bisa merasakan seperti apa berjalan bersama dengan seorang wanita.


"Empat tahun yang lalu, aku masih bisa melihat seperti apa dunia, berbagai macam bentuk dari dunia, aku menyukainya, tapi berbagai macam itu membuatku takut, karena tidak semua yang terlihat itu indah." Kata nona dengan sedikit murung.


"Jadi kenapa kau mengalami hal ini." Tanya aku dan aku seperti mencoba mencari tahu, walau bibir kecil darinya seakan tidak ingin memberi tahu alasannya.


"Mungkin karena ini adalah karma ." Jawabannya dengan mencoba untuk tersenyum,

__ADS_1


__ADS_2