
pelayan datang..
"Maaf, silakan makanan yang anda pesan ."... seorang pelayan yang aku kenali dengan suaranya, datang mengantarkan sebuah makanan,
"Aku, tidak memesan ." Jawabku kepada Rina.
"Si..sina yang memesan makanan ini, " Jawab Rina gugup.
Melihat wajah itu tampak murung, dari balik poni tebal menutupi wajah pemalu, entah kenapa Rina tidak berani menatap saat aku memanggil.
"Nah Rina, apa kau .... "
Aku tidak melanjutkan apa yang ingin dikatakan, sekilas wajahnya seperti sedang memikirkan sesuatu yang sangat berat dan aku tahu itu,
"Ah tidak bukan apa apa."
Di balik punggung kecil Rina, aku bisa merasakan kalau semangat yang dia miliki sudah tidak seperti hari kemarin, aku tidak suka melihatnya.
"Rina, aku percaya jika usaha tidak mengkhianati hasil ." Ucapku saat melihatnya pergi,
"Ya aku percaya." jawabnya tanpa memperlihatkan seperti menjauh, aku tidak menyukai itu, aku masih ingin melihat semangat Rina.
"Jangan pernah berhenti berharap ." Kata aku sedikit berteriak,
Rina tidak berhenti, dia terus berjalan dengan membawa penampan kosong, dari pandanganku sendiri, aku seperti melihat diriku di masa lalu, kenangan yang sangat ingin aku perbaiki, aku tidak ingin itu terjadi lagi kepada orang yang memiliki harapan seperti Rina.
Dalam perjalanan pulang aku masih bersama dengan Sina, kini dia tidak lagi terlihat segar karena sudah puas tertawa di kafe tadi,
"Hey An, "
"Apa ?",Aku menjawabnya dengan nada sedikit lemas,
"Kenapa kau begitu perhatian dengan Rina ."Tanya Sina dengan wajah sedikit murung,
Ternyata Sina pun mempertanyakan kedekatanku dengannya, walau bukan hal spesial tapi tetap Sina ingin tahu maksud dari apa yang aku perbuat untuknya,
"Rina itu mengingatkan aku pada diriku yang dulu, ya walau sedikit berbeda tapi dia memiliki harapan yang sama, seseorang yang menginginkan kebahagiaan ." Jawab aku dengan serius
__ADS_1
"Jadi hanya itu ." Sina sedikit ragu,
"Ya, aku tidak ingin melihat apa yang dia harapkan hancur seperti diriku yang dulu ." aku memperjelas semua.
Sina berhenti saat kami berjalan pulang melewati pantai yang biasa kami lewati,
"Kenapa kau hanya membantunya, apa kau tidak memperbaiki kehidupanmu sendiri." Tanya Sina yang tidak bergeming menatap awan di atas tepian pantai,
"Karena melihatnya berjuang sekeras itu, aku pun ingin melihat apa dia mampu memperbaiki keadaannya dan karena dia pula aku mulai berpikir, aku ingin hidup dengan harapan dan mewujudkannya ." Jawaban dariku membuat kami berdua terdiam,
Sina tidak mengatakan apa pun, dia terdiam sesuatu yang terjadi adalah aku mendengar suara tangis darinya,
"Kenapa kau Sina ." Aku mendekat.
Mencoba mengusap air matanya, tapi tangan itu menghalangiku dan mendorong pergi, aku tidak mengerti apa yang terjadi,
"Kau tidak adil, kau selalu memperhatikan orang lain lebih dari dirimu sendiri dan juga kau tidak mengerti perasaanku sendiri ." Dia mengatakan hal itu yang pada dasarnya dia sendiri selalu berkorban.
Aku tersenyum, karena aku sangat mengerti tentang dirinya, dia wanita yang mengajarkan aku tentang kebebasan dan kehidupan nyata yang harus aku hadapi,
"Jika aku tidak pernah mengerti perasaanmu, aku tidak akan pernah melakukan hal semacam tadi untuk melindungimu, aku tahu kau sedang marah dengan Yu karena dia menuduhmu masih dekat dengan pacarnya kemarin ." Jawab aku membuatnya terdiam,
"Bodoh, kau tahu, kau itu sahabatku yang paling berharga, aku tidak akan meninggalkanmu, kau yang membawaku ke luar dari dunia sempitku sina, kau saja yang tidak bisa mengerti itu, dasar otak otot ." Kata aku dengan tersenyum,
Sina masih dengan tangisannya, dia mulai tersenyum dan mengusap kepalanya, aku mengerti apa yang dia inginkan, tapi aku tidak merasa seperti itu, aku memang tidak bisa menjadi lebih spesial dari seorang sahabat, karena aku tidak ingin mencintai seseorang setengah hati,
Di hari Senin, alasan yang jelas untuk seseorang yang telah aku permalukan di Cafe itu, kakak kelas katanya hebat sebagai kapten klub basket, datang dengan wajahnya yang sok untuk menantang dan dia sekarang berdiri tepat di depan mejaku, aku membuka pembicaraan dengan sebuah pernyataan,
"Ah ternyata benar kakak sekolah di tempat ini ." Kata aku dengan sengajanya seakan tidak tahu,
"Sudahlah tak usah banyak bicara, aku ingin menujukan sesuatu kalau aku memang yang hebat untuk mengalahkanmu ." Jawaban yang aku terima persis dengan apa yang aku pikirkan,
Dia ternyata masih memikirkan ucapanku, sedangkan seluruh kelas menjadi heboh mendengar tantangan itu, ya memang tidak salah, yang salah adalah kakak kelas yang katanya lebih hebat dariku, membuat marah di saat masalah Rina belum selesai.
"Baiklah kalau begitu, tapi aku punya satu syarat ." Aku sedikit serius,
"Ok, mari kita bertanding ." Dia sangat bersemangat,
__ADS_1
Sedangkan saat di stadion sekolah, ya walau di bilang stadion, ini hanya terdiri dari dua buah ring yang ada di sebuah halaman sekolah dan dengan lantai seman pula,
"Bukankah ini hebat, " Kata Noe dengan terkagum,
Noe tampak begitu heboh melihat hampir semua siswa dari setiap kelas datang melihat, termasuk siswa dari SMP ya aku bisa melihat Nagisa di deretan teman satu kelas wanita.
"Nah An, kenapa kau ingin dua lawan dua, bukankah kau bisa mengalahkannya sendiri." Kata Noe dengan bingung.
Aku menghela nafas dan menghembuskannya saat mendengar keluhan Noe,
"Kau tahu, aku sedang malas jadi kau saja yang main." Jawab aku dengan berjongkok,
"Tumben sekali kau, " Sungguh Noe pun seperti tidak bersemangat,
"Sudahlah, Nagisa itu melihat, jadi ..." Kata aku mencari sesuatu membuatnya bersemangat
"Aku akan mengalahkannya ." Kata Noe yang bahkan menjawab sebelum aku menyelesaikan perkataanku,
Sudah kuduga, Noe mudah terpancing jika aku tahu apa yang di sukai olehnya, aku bisa melihat aura semangat api yang keluar dari dalam tubuhnya, aku tidak banyak komentar tentang Noe tapi untuk urusan olah raga dia tidak kalah Jenius denganku, atau lebih tepatnya dia memang memiliki karismatik seorang olahragawan,
Walau terlihat seru aku tetap tidak ingin menggerakkan badan untuk saat ini, aku menyerahkan semua kepada Noe, bahkan untuk sekilas aku melihat skor yang di dapat adalah dua puluh lawan lima belas, kemenangan Noe, aku tidak terlalu terkejut, hanya saja,
"Jadi kau hanya akan bersembunyi, kau pengecut An ." Teriak si kakak kelas itu,
Aku tidak suka dengan nada bicaranya itu, aku sedang malas menggerakkan tubuh, bahkan kepalaku pusing memikirkan hal lain yang lebih penting dari pada berurusan dengan kakak kelas yang tidak tahu diri ini,
"Kau, membuatku marah kakak kelas yang membuatku marah ." Jawab aku sedikit kesal,
Aku bangun dan bersiap, setiap orang melihatku berlari dengan cepat,
"Noe ke belakang ." Teriak aku kepada Noe,
Umpanan Noe melewati kaki dari temannya kakak kelas yang ikut berlari mengejar dan Noe memang sengaja membuat bola itu melambung tinggi, saat aku melompat untuk menangkap, dia pun sama mencoba menghadang, tapi aku lebih cepat untuk menangkap bola. dalam waktu yang terhitung di dalam perkiraan, teman dari kakak kelas dengan cepat akan menepis bola dari tangan kananku, tapi itu menjadi peluang karena Noe sudah siap di area depan ring, dengan jarak sekitar dua meter, walau pun begitu sudut untuk mengumpan sangat sempit, oleh karena itu, satu satunya pilihan adalah mengendalikan bola dengan crossover untuk mengecohkan dia dan membuatnya bergerak tidak seimbang, saat melewati aku langsung mengoperkan ke Noe.
Tapi dia tidak akan memasukkannya langsung, dia memantulkan bola ke tanah hingga melambung tinggi, aku berlari dengan cepat dan Noe tahu apa yang harus dia lakukan, Noe sudah mempersiapkan kedua tangannya untuk mengangkatku, di dalam perhitungan waktu dan sudut pantulan bola adalah satu detik setelah aku melompat dengan berpangku di tangan Noe, maka akan menemukan momen yang tepat untuk menangkap bola tepat di samping ring, setiap siswa yang melihat terkejut dengan apa yang aku lakukan, memang ini bukanlah hal wajar di pertandingan resmi untungnya ini hannyalah latihan saja.
Semuanya berdecak kagum, aku sendiri melakukan hal ini untuk membuktikan, dia kakak kelas yang bergaya sok hebat menganggap remeh seseorang karena tidak tahu seperti apa orang itu dan aku memberikan faktanya, sehingga dia tergeletak lemas memandangi bola yang sudah tidak terpantul kembali,
__ADS_1
"Kakak kelas, aku tidak pernah berniat untuk mempermalukanmu saat itu, aku hanya tidak ingin kau mempermainkan Sina karena dia sudah menolakmu, jadi jangan pernah menganggap dirimu bisa memainkan segala peran dengan mudahnya ." Kata aku di hadapannya. Aku pergi meninggalkannya dan memberikan kode untuk Noe ikut pergi.