
Tidak terasa sudah lebih dari dua jam aku duduk di atas karang ini, entah apa yang aku lamunkan, aku tidak mengingatnya, hanya memandangi laut dan menikmati suasana lembab saja.
Melihat ombak yang menggulung indah, membentur karang hingga air melompat menyirami ku dengan rintik. indah jika aku pandangi dengan perasaan bahagia, tentu saat ketika melihat bersama dengan Rea.
dia gadis yang merindukan langit, aku sendiri sadar kenapa aku ingin bersantai di tempat ini, kenapa aku tidak beranjak dan pergi, aku sadar apa yang sedang aku alami, karena sekarang aku sedang mengalami sebuah masalah, walau bukan masalahku, aku merasa sedikit bertanggung jawab untuk itu,
"Kenapa setiap manusia harus memiliki takdir yang berbeda."
Aku bertanya kepada diriku, yang hanya bisa terduduk dengan tangan memeluk lutut dan memikirkan semua masalah yang aku miliki saat ini, aku tidak berhenti menghembuskan nafas seperti lelah untuk menjalani hari ini, mengeluh dan perasaan sedikit marah, semua bercampur aduk, meluap di dalam emosiku,
"Aku tidak ingin melihat sebuah harapan hancur begitu saja ."Aku menggumam dan hanya bisa menggumamkannya saja,
Tanpa beranjak untuk pergi atau pun berdiri, walau sebenarnya aku sendiri malu untuk mengatakan kepada seseorang untuk terus bertahan menggapai harapan di dalam hidupnya, sedangkan untuk diriku sendiri aku masih belum melakukan apa pun di dalam harapan yang aku miliki,
"Aku memang pecundang ." Gumamku kembali,
Untuk diriku yang hanya bisa terdiam dan memeluk lutut, kaki ini terasa begitu lemas, lelah bahkan sangat sulit untuk bernafas, saat aku mengingat wajah sedih dari keputusasaan Rina, aku mencoba berbaring di atas karang kasar ini, bagiku ini tidaklah terlalu buruk, hanya merasakan sakit di kulit karena tajamnya karang menusuk pan*tat, ini mungkin tidak sebanding jika harus merasakan kesakitan yang dia miliki,
"Apa saat aku putus asa aku menjadi mengerikan seperti itu ." Bertanya aku pada diriku sendiri,
Aku tidak bisa menjawabnya sendiri, semua tampak begitu samar, sakit yang dulu aku rasakan karena kehilangan orang yang sangat berharga, itu saja sudah membuatku ketakutan, sungguh sangat mengerikan,
"Sedang apa kau di sini ."Tanya seorang wanita yang berdiri tepat di samping kepalaku yang sedang berbaring,
Bersuara kasar melihatku dengan wajahnya yang menyeramkan,
"Ah, aku bisa melihat celana dalammu ." Kata aku dengan spontan,
Wajahnya langsung memerah dan mundur beberapa langkah dari tempatnya berdiri,
"Memangnya apa yang kau pikirkan ." Teriaknya malu,
"Oi, kau itu memakai celana Jenas, sadarlah ." Kata aku mengingatkan Sina,
__ADS_1
Wajahnya bertambah memerah saat aku mengerjainya dan saat kakinya mengangkat untuk menginjakku aku menghentikannya,
"Tunggu, jika kau menginjakku di sini, mungkin kepalaku akan bocor ." Kata aku menutupi wajah,
"Tentunya tak masalah buatku ." Kata Sina dengan marahnya,
Aku langsung saja berdiri, demi keselamatan nyawaku tentunya, sedangkan kaki yang dia hentakan begitu keras pasti akan membuatku masuk rumah sakit jika dia benar benar melakukan itu.
"Kau gila apa Sina, " Teriak aku ketakutan,
"Kau sudah mengerjaiku dan sekarang menyebutku gila, " Dia semakin marah,
Sungguh wanita yang mengerikan, tapi itulah dia, wanita kasar yang tidak pernah berubah bahkan sejak dulu, waktu dia menyelamatkan saat aku kehilangan seseorang yang berharga.
"Jadi, sedang apa kau di sini ." pertanyaan dari Sina saat dia sudah tenang,
"Aku ?, ya sebut saja aku sedang merenungkan semua kisah tentang masa laluku ." Jawaban dariku.
"Nah sina, ketika kau datang ke rumah saat kematian ibuku, apa yang kau lihat padaku ." Bertanya aku kepadanya,
Dia duduk di sampingku, menemaniku dan mengatakan jawabannya,
"Saat itu, aku melihatmu ketakutan, mata yang tidak berkedip sekalipun, menutup dirimu dengan selimut dan menggigil ketakutan, ya saat itu sungguh mengerikan ." Jawab Sina dengan seriusnya,
"Ya, saat itu yang aku rasakan adalah sebuah keputusasaan dan aku melihatnya di wajahnya Rina tadi ."
Sina sedikit terkejut mendengar apa yang aku katakan..."Memangnya apa yang terjadi, apa ada yang salah ."
"Aku yang salah, aku menaruh harapan yang terlalu besar untuknya, " Kata aku dengan perasaan yang campur aduk,
Aku membenamkan wajah di antara lutut yang aku peluk, Sina memang seperti tahu apa yang sedang aku rasakan, tangannya yang kasar itu mengusap punggung dan berkata,
"Jangan menyalahkan dirimu An, jika memang kau menaruh harapan untuknya, itu karena kau ingin dia menjadi seseorang yang lebih baik, " Perkataan serius darinya,
__ADS_1
"Tapi .... tapi ..."
Saat aku melihat wajah Sina, dia tersenyum, seperti halnya dulu, sebuah senyum yang membawaku pergi untuk melepaskan semua keputusasaan yang pernah aku hadapi, tapi pada akhirnya dia menepuk pundakku dengan keras.
"Apa yang kau lakukan sakit tahu ." Kata aku yang merasakan seperti persendianku lepas,
Dia berdiri, merenggangkan tubuhnya seperti sedang melakukan pemanasan,
"Kau berpikir apa ?, tidak seperti kau yang biasanya, An yang aku kenal bukan orang yang akan menyerah begitu saja ." Katanya dengan tatapan serius,
"aku sekarang bahkan tidak mengenal diriku sendiri."
"apa itu artinya kau insomnia."
"amnesia... bukan insomnia."
"apa bedanya."
"kau tidak tahu hilang ingatan dan tidak bisa tidur." balasku dengan lemas.
"hanya beda tipis, apa yang kau masalahkan."
Aku tersenyum mendengar apa yang Sina katakan, bukan ucapannya yang salah, melainkan sikap Gadis ini membuatku merasa sedikit lega.
"apa yang kau tertawakan." Sina bertanya dengan kesal.
"tidak, aku hanya berpikir, kau selalu berpikir sederhana dan itu membuatku kagum."
Dia melihat seperti aku memiliki semangat kuat untuk tidak menyerah begitu saja, walau sedikit aku termotivasi untuk terus melakukannya, tapi alasanku adalah karena aku tidak ingin melihat seseorang menjadi seperti diriku yang dulu, itu saja sudah cukup.
"kau membuatku lebih baik Sina."
"syukurlah kalau begitu, meski aku tidak tahu apa yang kau masalahkan, tapi aku tidak ingin kau hidup seperti dulu, kau begitu tersiksa dalam hidup." balas Sina yang sangat tahu bagaimana tentang diriku.
__ADS_1