
aku sedikit lega meski pun tidak ada yang bisa dianggap baik-baik saja atas kondisi Rina.
"Kakak, silakan duduk ." Si adik kedua itu mempersilakan aku untuk duduk,
Aku seperti sudah biasa melihat hal semacam ini, rumah yang ramai dengan suara tawa dan kebahagiaan keluarga memanglah memiliki keistimewaannya sendiri,
Tidak begitu lama untuk aku menunggu, Rina datang dengan wanita tua dimana beliau terlihat begitu lemas, Rina berusaha membawa sang ibu untuk berjalan, aku datang membantu, Rina melihatku dengan menunduk.
Sedangkan sang Ibu dengan suara yang begitu lemah berkata,
"Maaf yah nak, wanita tua ini merepotkan mu saja ."
"Ah, tak apa, sudah wajar aku harus membantu saat melihat keadaan bibi seperti ini ." Jawabku dengan tersenyum,
Perlahan dan sangat perlahan, langkah wanita tua ini seperti sudah tidak bisa menopang tubuhnya sendiri, kakinya bergetar dan nafas yang begitu lemah, setelah berbaring ke tempat tidur di kamar, aku mengingat kejadian ini seperti melihat ibuku sendiri.
Sungguh, suasana ini membuatku takut, setiap mendengar nafasnya, tubuhku seperti bergetar hebat merasakan sensasi dimana sebuah kenangan yang ingin aku lupakan mulai teringat kembali,
"Maaf yah nak, ibu tidak bisa menjamu apa pun ." Kata sang ibu dengan wajah menahan sakit,
"Tak apa, istirahat aja Bu ." Jawab aku yang masih mencoba tersenyum,
Aku mencoba dengan tenang tersenyum saat mendengar suara itu, dia mencoba menyembunyikan rasa sakit yang dia miliki dengan lengkungan bibir bermakna baik-baik saja.
tapi aku tidak ingin melihat ini, dengan segera aku keluar dari kamar gelap yang begitu sempit untuk aku rasakan, hingga pada akhirnya aku berjalan keluar yang di ikuti oleh Rina.
aku bertanya..."Apa yang terjadi ."
__ADS_1
Dia seakan tidak mau menjawab apa pun tentang semua ini, bahkan ekspresinya tidak ingin dia perlihatkan kepadaku, setelah menunggu beberapa saat akhirnya Rina menjawab,
"Ibu sudah lama memiliki penyakit hepatitis dan sekarang dia sudah mengalami kondisi kritis ." Kata Rina dengan wajah lemas.
Aku cukup terkejut mendengar penjelasan Rina, tentu sebuah perkataan tanpa meminta maaf terlebih dahulu, tapi apa yang bisa aku katakan untuknya, aku ragu untuk mengatakan apa pun, melihat semua keadaan di rumah ini aku harusnya tahu bahwa tidak ada hal baik untuk aku memberi pendapat.
"Walau pun demikian kau tidak boleh membuang kesempatanmu meraih apa yang kau harapkan ." Kata aku dengan serius,
Wajahnya semakin menunduk saat aku menanyakan hal itu..."Aku tak tahu, " Jawaban yang aku dapatkan darinya seperti sebuah keraguan,
"Kenapa kau tak tahu ?."
Dengan sedikit keras aku kembali bertanya, bahkan semua adik-adik di sekitar melihat kami yang sedang membicarakan masalah tentang sekolah.
"Karena aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang ." Rina menjawab dengan nada marah,
"Kakak jahat, jangan buat mbak rina nangis ."
Tapi aku tidak menghiraukan si kecil itu, aku tersenyum melihatnya, walau pada akhirnya si adik ke dua menggendong dan membawa si kecil menjauh dari kami berdua,
"Jangan mengatakan kalau kau tidak tahu apa yang harus kau lakukan, " Kata aku dengan sedikit kesal,
Rina terisak saat menahan tangisannya agar tidak terlihat oleh semua saudara.
"Kau masih memiliki kesempatan itu, jangan berhenti di sini ." Aku marah,
"Aku tidak tahu ."
__ADS_1
Aku tidak melepaskan tangan Rina, wajah sedih itu tidak ingin aku lihat, aku benci mengakuinya, tapi aku seperti melihat masa lalu untukku sendiri.
"Harapan yang kau miliki itu juga adalah harapan orang tuamu, jangan membuat harapan itu hancur ." Kata aku sedikit menenangkan diri,
Dia tidak menjawab, terus menggeleng dan menghindar untuk menatap mataku, aku marah kepada diriku sendiri, kenapa di saat seperti ini, hanya sebatas motivasi saja yang bisa aku lakukan.
"Aku sudah kehilangan ibuku tiga tahun yang lalu, keluargaku berantakan dan harapanku hancur, aku seperti tidak memiliki alasan kenapa aku masih menjalani hidup ini, tapi setelah melihatmu aku seperti tahu apa yang harus aku lakukan ." jawabku yang ingin membuatnya menjadi berubah pikiran,
Dia masih terdiam dan menggigit bibirnya, melepaskan tanganku kemudian berlari keluar, aku mencoba mengejar, dia tidak menghentikan lari, terus aku mengejar hingga Rina berdiri di bibir pantai, aku melihat dari kejauhan,
"Apa yang harus aku lakukan ." Dia berteriak keras.
Suara teriakan kencang mengaung ke lautan lepas, aku mengerti semua beban pikiran yang dia miliki, seperti dia paksa untuk keluar, menanggung beban berat dari setiap masalah, tapi kenyataannya adalah masalah itu terus mengikat tubuhnya, sebuah tali nasib yang ingin dia putuskan, dan dia tidak bisa berbuat apa pun.
Aku berjalan mendekat, aku berdiri tepat di samping Rina, dia si gadis pemalu menangis dengan semua perasaan, mengadu akan nasib yang tidak ingin diterima.
"Jika saat ini kau ingin menangis, menangislah, tapi apa dengan menyerah semuanya akan baik baik saja, " Kata aku melihat semua air matanya tumpah,
Dia tidak menjawabnya, aku tidak ingin melihatnya menyerah dan menjadi seperti ku yang tidak memiliki tujuan hidup, tapi akan lebih salah jika aku membiarkan dirinya hancur di dalam keputusasaan,
"Besok, kau harus menentukan, apa yang harus kau pilih ."
Tidak apa dia masih terdiam saat ini, berharap dia mengerti apa yang aku sampaikan. Bahkan sebelum aku pergi aku berkata, "Semangatmu, harapan yang kau perjuangkan, sudah membuatku mengerti apa yang akan aku lakukan di dalam hidup ini, entah kenyataannya akan seperti apa, tapi perjuangan itu adalah nyata, kau harus bisa melakukannya."
Aku pergi meninggalkan Rina yang masih menangis sendiri, dia pandangi lautan lepas, wajah penuh kebingungan, sebuah pilihan yang akan menentukan masa depan. hanya dia dan takdir yang akan menjawab, tentang seperti apa hidup yang dia akan pilih.
Aku yakin, semua ini bisa diubah olehnya, aku pergi semakin jauh, semoga saja Rina masih ingin terus berjuang mendapatkan harapan itu,
__ADS_1